Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Ketegangan geopolitik global yang kian meningkat bukan sekadar isu luar negeri. Dampaknya kini terasa nyata hingga ke dalam negeri, terutama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Gangguan rantai pasok, persaingan investasi global, hingga dinamika kawasan membuat Indonesia harus bergerak cepat dan adaptif.
Isu ini mengemuka dalam forum Leadership Roundtable Talk yang menjadi bagian dari gelaran tahunan Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex ke-50. Forum prestisius ini mempertemukan para pengambil kebijakan, pelaku industri, hingga pakar energi untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Sejumlah tokoh penting dijadwalkan hadir, mulai dari Wakil Menteri ESDM Yuliot, Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu, hingga Penasihat Khusus Presiden bidang energi Purnomo Yusgiantoro. Dari sektor industri, nama besar seperti CEO PETRONAS Tengku Muhammad Taufik dan Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro turut meramaikan diskusi strategis ini.
Ketahanan energi kini tak lagi sekadar soal pasokan, tetapi juga menyangkut pendanaan dan daya saing investasi. Negara dituntut untuk melakukan diversifikasi sumber energi serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dan regional.
Indonesia, di sisi lain, menghadapi tantangan berat: bagaimana tetap menarik investasi di sektor hulu migas di tengah risiko geopolitik yang meningkat dan disiplin ketat alokasi modal global.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menetapkan kebijakan strategis: menahan ekspor minyak mentah bagian kontraktor agar diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Kebijakan ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus menjaga stabilitas energi nasional.
Meski berpotensi menimbulkan pertanyaan terkait kontrak bagi hasil (PSC), kebijakan ini dijalankan dengan prinsip no gain no loss. Artinya, kontraktor tetap mendapatkan kepastian penjualan karena minyak akan diserap oleh Pertamina dengan harga setara.
Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, menegaskan bahwa langkah ini tidak merugikan pihak manapun selama implementasinya dijaga dengan baik. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masa transisi harus dikelola secara hati-hati agar tidak mengganggu operasional produksi di lapangan.
Forum ini diharapkan menjadi titik temu antara pemerintah dan pelaku industri dalam merumuskan kebijakan yang adaptif, berkelanjutan, dan tetap menarik bagi investor.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, satu hal menjadi jelas: ketahanan energi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis yang menentukan arah masa depan Indonesia.

