Jakarta, ruangenergi.com – Indonesia mempunyai hubungan yang agak unik dengan energi, kita tinggal di atas salah satu jalur vulkanik paling aktif di dunia. Dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Sulawesi, dapur magma bekerja tanpa mengenal tanggal merah. Di bawah kaki kita tersimpan panas bumi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama kita masih mengimpor minyak mentah, BBM dan LPG.
Kalau sumber energinya berada 10.000 kilometer dari Indonesia, mungkin kita akan segera mencari tanker untuk membawanya pulang, yang ini sudah berada di bawah kaki. Anehnya, yang kadang masih dicari justru jadwal rapat berikutnya.
Geothermal Tidak Pernah Minta Cuti
Selama beberapa dekade, geothermal Indonesia identik dengan Kamojang, Darajat, Wayang Windu, Dieng, Sarulla, Ulubelu, Lahendong dan sejumlah lapangan besar lainnya, reservoir high enthalpy menghasilkan steam yang dapat menggerakkan turbin selama 24 jam.
- Itulah salah satu keunggulan geothermal.
- Matahari bekerja siang hari lalu pulang ketika malam.
- Angin kadang rajin, kadang entah sedang berada di mana.
- Geothermal?
Shift malam pun masuk, tidak peduli hujan, mendung atau pertandingan sepak bola sedang berlangsung, panas bumi tetap berada di reservoir, namun masa depan geothermal Indonesia seharusnya tidak berhenti pada PLTP high enthalpy berskala besar. Ada medium dan low enthalpy geothermal. Ada brine panas dari lapangan existing. Ada direct use. Ada binary cycle. Ada pula mature oil fields yang menghasilkan hot produced water.
Jadi geothermal bukan satu menu, ini sudah seperti rumah makan Padang: pilihannya banyak, hanya jangan semuanya dipesan lalu tidak dimakan.
Jangan Hanya Mengejar Steam Besar
Pada reservoir bertemperatur tinggi, steam dapat digunakan secara langsung untuk pembangkit, tetapi pada temperatur yang lebih rendah, Binary Cycle atau Organic Rankine Cycle (ORC) memungkinkan panas geothermal dipindahkan ke fluida sekunder dengan titik didih lebih rendah untuk menggerakkan turbin. Artinya, sumber panas yang dahulu dianggap “kurang panas” belum tentu tidak ekonomis, tetapi Teknologinya yang harus disesuaikan.
Mirip manusia setelah usia tertentu: tidak perlu lagi ikut lomba sprint 100 meter, yang penting tetap produktif.
Bahkan mature oil field menawarkan peluang menarik. Ketika lapangan semakin tua, produksi minyak biasanya menurun sementara water cut meningkat. Bagi petroleum engineer, air itu kadang membuat dahi berkerut.
Geothermal engineer malah bertanya: “Temperaturnya berapa?”. Kalau temperatur, debit, integritas sumur dan keekonomiannya memenuhi syarat, sumur migas tersebut mungkin memperoleh kehidupan kedua sebagai sumber geothermal.
Sumurnya boleh tua, tetapi Cash flow-nya jangan ikut pensiun.
Tetapi Ujung-ujungnya: Berapa Sen per kWh?
Setelah geologist selesai menjelaskan magma, reservoir engineer menunjukkan model 3D, drilling engineer bercerita mengenai lost circulation dan ekonom mulai membuka spreadsheet, biasanya seorang direktur akan mengajukan satu pertanyaan yang membuat ruangan mendadak sunyi:v“Jadi… harga listriknya berapa?”
Pertanyaan itu memang tidak romantic, tetapi bank juga jarang memberikan pinjaman karena terharu melihat peta geologi. Secara indikatif, perbandingan keekonomian beberapa teknologi dapat digambarkan sebagai berikut.
| Pembangkit | Sumber Energi | Indicative Cost/LCOE | Operasi | Risiko Harga Bahan Bakar |
| PLTP geothermal konvensional | Panas bumi | ± US$0.05–0.10/kWh* | Baseload 24 jam | Sangat rendah |
| Binary/ORC geothermal kecil | Panas bumi | ± US$0.08–0.18/kWh* | Baseload/distributed | Sangat rendah |
| Co-produced geothermal | Hot produced water | ± US$0.06–0.12/kWh* | Baseload/distributed | Sangat rendah |
| PLTU subcritical | Batubara | US$0.047–0.119/kWh | Baseload | Sedang |
| PLTU supercritical | Batubara | US$0.045–0.110/kWh | Baseload | Sedang |
| PLTU ultra-supercritical | Batubara | US$0.046–0.107/kWh | Baseload | Sedang |
| PLTG – OCGT | Gas | US$0.091–0.135/kWh | Peaking/flexible | Tinggi |
| PLTGU – CCGT | Gas | US$0.055–0.122/kWh | Baseload/flexible | Tinggi |
| PLTD | Diesel | US$0.125–0.371/kWh | Flexible/isolated | Sangat tinggi |
Angka merupakan kisaran indikatif, bukan tarif PPA. LCOE aktual sangat tergantung lokasi, CAPEX, harga bahan bakar, financing, capacity factor dan karakter proyek. Rentang pembangkit termal mengacu pada studi LCOE Indonesia oleh IESR; angka geothermal digunakan sebagai screening range dan perlu dihitung kembali untuk setiap proyek.
Tabel ini memperlihatkan sesuatu yang menarik, PLTU membeli Batubara dan PLTG membeli gas, serta PLTD membeli diesel, sedangkan Geothermal membeli risiko geologi di depan, tetapi setelah reservoir berhasil dibuktikan dan dikelola dengan benar, geothermal tidak perlu membeli bahan bakar setiap pagi. Reservoir geothermal juga belum pernah mengirim WhatsApp kepada operator: “Mulai bulan depan harga steam naik karena situasi geopolitik.”
Jangan Suruh Geothermal Flores Melawan PLTU Jawa
Kesalahan lain adalah membandingkan semua pembangkit seolah-olah mereka berada di tempat yang sama, PLTP kecil 5 MW di Indonesia Timur tidak perlu dipaksa beradu harga dengan PLTU 1.000 MW di Jawa dan Lawan tanding yang lebih relevan sering kali adalah PLTD, seperti misalnya Listrik diesel di sistem terpencil dapat sangat mahal karena bukan hanya harga bahan bakarnya yang harus dibayar. Ada kapal, storage, transportasi, handling dan risiko logistik. Bayangkan jika suatu pulau mempunyai sumber geothermal yang dapat menghasilkan listrik, sementara setiap hari diesel harus dikirim dari tempat lain.
Geothermal tinggal di rumah, Diesel harus naik kapal, sudah begitu geothermal yang ditanya: “Kamu bisa lebih murah tidak?”
Agak kurang sopan kepada tuan rumah.
Quick Win Pertama: Peras MW dari Lapangan Existing
Strategi geothermal Indonesia sebaiknya dimulai dari prinsip yang sangat sederhana: Existing resource first. Existing infrastructure first. Proven technology first.
Sebelum mencari reservoir baru di pegunungan yang belum memiliki jalan, lihat dahulu lapangan yang sudah berproduksi. Kamojang, Lahendong, Dieng, Ulubelu dan lapangan existing lainnya sudah mempunyai sesuatu yang sangat mahal: pengetahuan reservoir dan infrastruktur. Lakukan debottlenecking, turbine refurbishment, steam-field optimization, make-up wells, infill drilling dan uprating jika reservoir memungkinkan, tambahan 5 MW memang tidak terdengar seksi.
Tidak akan ada headline: “Bangsa Bergembira: Turbin Naik 5 MW.”, Tetapi kalau sepuluh lapangan masing-masing menambah 5 MW, hasilnya 50 MW. Kadang strategi energi memang sesederhana matematika SD.
Quick Win Kedua: Yang Sudah Proven Jangan Disuruh Ujian Terus
Ada proyek geothermal yang reservoirnya sudah ditemukan, sumurnya sudah dibor dan datanya sudah cukup baik, tetapi proyeknya tertahan oleh PPA, transmisi, perizinan, lahan atau financing. Untuk proyek seperti ini, jangan kembali lagi ke bab pertama, buat satu bottleneck list dan identifikasi :
- Masalahnya apa?.
- Siapa yang bertanggung jawab?
- Deadline-nya kapan?
Kalau reservoir sudah terbukti tetapi proyek masih dibahas selama bertahun-tahun, mungkin yang perlu dieksplorasi bukan lagi reservoirnya.
Quick Win Ketiga: Brine Panas Jangan Langsung Dibuang
Mengebor sumur geothermal itu mahal, setelah menghabiskan jutaan dolar untuk mendapatkan fluida panas dari kedalaman beberapa kilometer, tentu agak menyedihkan jika panas sisanya hanya lewat sambil melambaikan tangan. Di lapangan tertentu, brine dan waste heat masih dapat memiliki energi yang cukup untuk Binary Cycle/ORC bottoming unit.
- Sumber panasnya sudah ada.
- Sumurnya sudah ada.
- Sebagian fasilitas juga sudah ada.
Pilih lokasi terbaik dan bangun pilot 1–10 MW, kalau berhasil, replikasi.
Kalau gagal, cari tahu sebabnya dan minimal kita memperoleh data yang jauh lebih berguna daripada PowerPoint slide nomor 87 yang mengatakan: “Indonesia has huge potential.” , yang sebetulnya kita sudah tahu itu sejak slide nomor 3.
Quick Win Keempat: Jangan Cuma Jual Elektron
Geothermal sebenarnya terlalu berharga jika hanya digunakan untuk Listrik, melalui cascade utilization, panas dapat digunakan berulang kali. Temperatur tinggi menghasilkan listrik. Sisa panas dapat digunakan untuk greenhouse, pengeringan kopi, kakao, hasil pertanian, aquaculture dan industri pangan. Setelah temperaturnya semakin rendah, masih dapat digunakan untuk spa atau wisata air panas sebelum fluida akhirnya diinjeksi kembali.
Bayangkan di Flores, Geothermal menghasilkan Listrik dan panas sisanya mengeringkan kopi. Wisatawan datang melihat kawasan geothermal, kopi tadi dijual kepada wisatawan, setelah minum tiga cangkir kopi, wisatawannya masuk kolam air panas. Itulah yang dinamakan circular economy yang benar-benar membuat orang berputar. Tetapi di balik humornya terdapat konsep ekonomi yang serius: satu reservoir dapat menciptakan beberapa sumber pendapatan sekaligus.
Quick Win Kelima: Sumur Migas Tua Jangan Langsung Dijadikan Pahlawan Nasional
Ide mengubah sumur migas tua menjadi geothermal memang menarik, tetapi jangan sampai besok pagi semua idle wells langsung diberi papan: “Future Geothermal Power Plant.”
Screening dahulu, periksa bottom-hole temperature, water flow rate, well integrity, depth, reservoir characteristics, serta jaraknya terhadap konsumen listrik.
Kemudian pilih kandidat terbaik, misalnya: screening ratusan sumur, pilih 20, evaluasi lima, uji dua, bangun satu pilot, Setelah itu lihat angka sebenarnya.
- Berapa MW?
- Berapa CAPEX?
- Berapa US$/kWh?
Barulah bicara scale-up.
Dalam dunia energi, satu pilot yang benar-benar berputar jauh lebih meyakinkan daripada seratus slide yang animasinya juga berputar.
Urutan Prioritas: Jangan Mulai dari yang Paling Sulit
| Prioritas | Program | Alasan | Horizon |
| 1 | Optimasi PLTP existing | Resource & fasilitas tersedia | 1–3 tahun |
| 2 | Percepat proven-resource projects | Risiko eksplorasi sudah banyak berkurang | 1–4 tahun |
| 3 | Binary/ORC dari brine | Memanfaatkan panas & infrastruktur existing | 1–3 tahun |
| 4 | Direct use/cascade utilization | CAPEX relatif kecil, manfaat lokal cepat | 1–3 tahun |
| 5 | Pilot co-produced geothermal | Memanfaatkan data dan sumur migas | 2–4 tahun |
| 6 | Greenfield geothermal | Penting untuk kapasitas jangka panjang | 4–8+ tahun |
| 7 | EGS/closed-loop | Potensial, tetapi bukan quick win utama | Jangka panjang |
Bukan berarti EGS atau closed-loop geothermal tidak penting, justru keduanya dapat menjadi bagian penting masa depan geothermal. Tetapi jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan teknologi 2045 sementara brine panas tahun 2026 masih lewat di depan mata.
Ada Reservoir yang Lebih Sulit Dipahami daripada Geothermal
- Geologist dapat memetakan struktur.
- Geophysicist membaca resistivity.
- Reservoir engineer membuat simulation model.
Drilling engineer bersedia mengebor dua kilometer mencari sesuatu yang bahkan tidak kelihatan, tetapi geothermal mempunyai satu “reservoir” lain yang kadang lebih kompleks, yaitu masyarakat sekitar proyek. Karena fasilitas geothermal berada dekat dengan permukiman, pertanian, hutan dan kawasan wisata, social license to operate sama pentingnya dengan izin formal.
Masyarakat harus mengetahui bagaimana pengeboran dilakukan, bagaimana air dikelola, bagaimana fluida diinjeksi kembali, bagaimana risiko lingkungan dikendalikan, dan apa manfaat ekonomi yang mereka peroleh.
Sosialisasi harus dimulai sebelum rig datang, kalau rig sudah berdiri baru warga diberi penjelasan, namanya bukan lagi sosialisasi, itu surprise party dan biasanya masyarakat tidak merasa sedang ulang tahun.
Dari Ring of Fire Menjadi Ring of Energy
Indonesia tidak kekurangan potensi geothermal, kita juga tidak kekurangan engineer juga tidak kekurangan studi dan kalau boleh sedikit jujur, kita mungkin juga tidak kekurangan seminar. Yang dibutuhkan adalah mengubah potensi menjadi MW nyata, karena itu ukuran keberhasilan lima tahun ke depan harus konkret:
- Berapa tambahan MW dari lapangan existing?
- Berapa proyek proven yang mencapai COD?
- Berapa MW diperoleh dari brine?
- Berapa PLTD yang dapat dikurangi?
- Berapa liter BBM yang tidak lagi perlu dibakar?
- Berapa kegiatan ekonomi tumbuh melalui direct use geothermal?
Baru setelah quick wins tersebut berjalan, Indonesia memperbesar greenfield exploration, EGS, closed-loop geothermal dan teknologi generasi berikutnya, kita tidak harus menunggu penemuan geothermal baru untuk mulai bergerak, karena sebagian sumber dayanya sudah ditemukan serta Sumur dan pipanya sudah ada, Power plant-nya bahkan sudah beroperasi. Panasnya juga sudah ada sejak jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, jadi mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi: “Seberapa besar potensi geothermal Indonesia?”, melainkan: “Besok pagi, yang mana kita kerjakan dulu?”
Jika pertanyaan sederhana itu bisa dijawab dan dilaksanakan secara konsisten, Indonesia tidak perlu terus-menerus bangga hanya karena berada di Ring of Fire, Kita dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih berguna: Ring of Energy.
Luwuk, 2 Oktober 2026.
Oleh: Haposan Napitupulu
Former President Commissioner of PT Pertamina Geothermal Energy


