Good News! Pertamina Ajak Investor Dunia Masuk, 108 Cekungan Migas Indonesia Menanti

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Indonesia masih menyimpan peluang besar di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Dengan kekayaan geologi yang melimpah dan puluhan cekungan migas yang belum dieksplorasi, Indonesia dinilai memiliki potensi menarik bagi investor global yang ingin menanamkan modal jangka panjang.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menegaskan pentingnya kemitraan strategis dan investasi berkelanjutan untuk menjaga sekaligus meningkatkan produksi migas nasional.

Ruangenergi.com melihat unggahan di akun Instagramnya, Oki mengungkapkan bahwa pengembangan bisnis hulu migas membutuhkan modal besar, kesabaran, serta kemitraan jangka panjang. Pasalnya, eksplorasi memiliki risiko tinggi, pengembangan lapangan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara produksi dari lapangan yang sudah beroperasi secara alami terus mengalami penurunan.

“Tanpa investasi yang berkelanjutan, produksi akan turun,” demikian pesan utama yang disampaikan Oki dalam unggahannya mengenai pentingnya kemitraan di bisnis hulu migas.

Oki menyoroti kekayaan geologi Indonesia yang menjadi salah satu modal penting untuk menarik investasi hulu migas. Dari 128 cekungan migas yang ada di Indonesia, sebanyak 20 cekungan telah menghasilkan minyak dan gas, sedangkan sedikitnya 68 cekungan disebut masih belum dieksplorasi.

Potensi tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk menawarkan wilayah kerja migas kepada investor domestik maupun asing.

Pemerintah sendiri tengah mendorong pemanfaatan potensi cekungan yang belum tergarap untuk meningkatkan produksi migas nasional. Target yang ingin dicapai pada 2030 adalah produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan produksi gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD).

Namun, target tersebut membutuhkan dukungan investasi, teknologi, kemampuan eksplorasi, serta kepastian kebijakan yang mampu memberikan daya tarik bagi para pelaku usaha.

Mengutip laporan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) pada September 2025, Oki menyebut dunia perlu mengeluarkan sekitar US$540 miliar per tahun hingga 2050 untuk mempertahankan tingkat produksi minyak dan gas saat ini, seiring meningkatnya penurunan produksi alami lapangan-lapangan yang telah beroperasi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan investasi hulu migas tidak hanya berkaitan dengan penemuan cadangan baru, tetapi juga mempertahankan produksi dari lapangan eksisting.

Karena itu, Indonesia perlu memperkuat daya saing dalam memperebutkan modal global, terutama di tengah persaingan antarnegara untuk mendapatkan investasi energi.

Oki juga menilai kawasan Asia Pasifik memiliki daya tarik bagi investor, termasuk karena prospek ekonominya dan peluang pengembangan sumber daya energi.

Dalam unggahannya, Oki turut menyoroti pergeseran arus modal global. Perusahaan minyak nasional atau national oil companies (NOC), terutama dari Timur Tengah dan Asia, kini memainkan peran semakin besar dalam investasi hulu migas dunia.

Mengacu pada data IEA yang disampaikannya, kontribusi perusahaan minyak nasional dari kawasan tersebut terhadap investasi hulu migas meningkat menjadi sekitar 40 persen, dibandingkan 25 persen pada 2015.

Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC), yang didukung Kuwait Petroleum Corporation, menjadi salah satu contoh perusahaan minyak nasional yang aktif berinvestasi di sektor hulu migas internasional.

Oki mengungkapkan bahwa Pertamina menerima kunjungan kehormatan CEO KUFPEC, Eisa Abdulrahman Al-Maraghi. Pertemuan tersebut membahas peluang kemitraan jangka panjang, peran modal dalam bisnis hulu migas, serta peluang yang ditawarkan Indonesia kepada investor internasional.

Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya membangun hubungan strategis dengan mitra global yang memiliki kapasitas pendanaan dan pengalaman dalam eksplorasi serta pengembangan lapangan migas.

Bagi Indonesia, jelas Oki, tantangan meningkatkan produksi migas tidak cukup dijawab dengan menawarkan wilayah kerja baru. Diperlukan pula iklim investasi yang kompetitif, kepastian regulasi, efisiensi biaya, serta kolaborasi antara perusahaan nasional dan mitra internasional.

Kemitraan jangka panjang dapat membantu membagi risiko eksplorasi, memperluas akses terhadap teknologi, dan mempercepat pengembangan potensi sumber daya yang selama ini belum tergarap.

Pesan Oki menegaskan bahwa kekayaan geologi Indonesia harus diikuti kemampuan menarik modal dan membangun kolaborasi yang berkelanjutan.

Di tengah kebutuhan energi yang terus berkembang dan penurunan alami produksi lapangan migas, investasi bukan sekadar pilihan bisnis, melainkan salah satu faktor penting untuk menjaga ketahanan energi dan memperkuat produksi migas nasional.