Hidrogen Alami Jadi Frontier Baru Pertamina, PHE Siapkan Peta Jalan Besar

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Pertamina mulai membidik “harta karun” energi yang tersembunyi di bawah permukaan bumi: natural hydrogen atau hidrogen alami.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza membuka gambaran besar peluang tersebut melalui unggahan di akun media sosial pribadinya. Ia menyebut Natural Hydrogen Task Force Pertamina telah mencapai tonggak baru dalam pengembangan bisnis hidrogen alami.

Bagi Oki, natural hydrogen bukan sekadar proyek baru. Sumber energi ini merupakan bagian dari portofolio hulu yang berada pada tahap kematangan berbeda dan membutuhkan strategi pengelolaan tersendiri.

“This is where geological hydrogen fits in,” tulis Oki seperti dikutip dari instagram pribadinya.

Menurut Oki, ada empat kelompok besar dalam portofolio proyek hulu Pertamina. Pertama, proyek dengan teknologi yang sudah terbukti tetapi membutuhkan peningkatan skala dan dukungan perizinan lintas kementerian.

Kedua, proyek yang sudah memiliki sumber daya sekaligus teknologi yang terbukti, namun masih membutuhkan scaling up. Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi salah satu contohnya.

Ketiga, sumber daya unconventional yang tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga ekosistem rantai pasok.

Sementara kelompok keempat adalah proyek yang memiliki potensi sangat besar, namun regulasi dan teknologinya masih berkembang.

Natural hydrogen masuk ke kelompok keempat.

Bukan Hidrogen Biasa

Oki menjelaskan, natural hydrogen atau geological hydrogen—yang juga kerap disebut gold hydrogen atau white hydrogen—merupakan hidrogen yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi.

Berbeda dengan hidrogen yang diproduksi melalui elektrolisis air atau steam reforming, hidrogen alami terbentuk melalui proses geologi.

Salah satu mekanisme utamanya adalah serpentinization, ketika air berinteraksi dengan batuan ultramafik yang kaya zat besi seperti olivin.

Dalam proses tersebut terjadi reaksi redoks. Besi mengalami oksidasi dan elektron yang dilepaskan kemudian berperan dalam mereduksi molekul air, menghasilkan gas hidrogen (H₂).

Dengan kata lain, alam memiliki “pabrik hidrogen” sendiri.

Pertanyaan berikutnya adalah: seberapa besar Indonesia memiliki sumber daya tersebut?

Jawabannya mulai terlihat dari pekerjaan eksplorasi yang dilakukan Pertamina Hulu Energi (PHE).

PHE Sudah Dua Tahun Bergerak

Berdasarkan paparan yang dibaca RuangEnergi.com, PHE dalam dua tahun terakhir telah menjalankan tahapan reconnaissance untuk mencari indikasi keberadaan natural hydrogen.

Langkahnya dilakukan melalui survei geologi regional, geofisika dan geokimia.

Pada 2024, PHE dan Upper Exploration Production Joint Study melakukan Regional Study. Kajian tersebut mencakup pemetaan kejadian seafloor terkait hydrogen, pengukuran aliran, mekanisme pembentukan sumber, model geologi hingga basin capacity.

Hasil awalnya menarik.

PHE mengidentifikasi mekanisme serpentinization yang dapat menghasilkan natural hydrogen di wilayah Sulawesi bagian timur. Kajian tersebut juga mengindikasikan potensi volume hidrogen sekitar 245 hingga 1.381 TCF.

Memasuki 2025, PHE melanjutkan pekerjaan melalui G&G Survey bersama PHE dan PG/PSG. Survei multidata tersebut mencakup gravitasi, magnetik, MT, geokimia, serta survei geologi dan hidrologi.

Hasilnya antara lain menunjukkan indikasi sistem hidrogen yang telah teridentifikasi di wilayah AmponA AOI, termasuk indikasi ultramafic ophiolite dan karbonat.

PHE juga mencatat adanya indikasi serpentinization dan potensi koridor pembentukan hidrogen.

Tahun 2026 menjadi tahap berikutnya.

PHE bersama PGS, DPL, Dimar & Partner melakukan Passive Seismic untuk memperkuat pemahaman mengenai sistem hidrogen.

Survei tersebut menggunakan pendekatan microtremor, magnetotelluric, passive seismic dan directional microtremor study untuk menghasilkan gambaran bawah permukaan yang lebih detail.

Targetnya jelas: memperkuat potensi konfirmasi dan lead-to-prospect maturation, sekaligus mendukung proses eksplorasi serta akuisisi wilayah kerja.

Artinya, PHE tidak lagi sekadar berbicara mengenai potensi natural hydrogen. Perusahaan mulai membangun fondasi data untuk membawa sumber daya tersebut menuju tahapan eksplorasi yang lebih konkret.

Paparan PHE juga menunjukkan sejumlah keunggulan natural hydrogen Indonesia.

Salah satunya adalah kawasan batuan ultramafik yang disebut memiliki luas sekitar 2,7 juta hektare, atau sekitar 40 kali luas Jakarta.

Batuan East Sulawesi Ophiolite bahkan disebut sebagai salah satu singkapan batuan ultramafik terluas di dunia dalam satu negara.

Dari sisi potensi sumber daya, paparan tersebut mengindikasikan volume sekitar 1.000–3.000 TCF.

Ada pula indikasi kandungan hidrogen yang cukup tinggi. Di wilayah Tanjung Api, Sulawesi Tengah, misalnya, kandungan gas terukur disebut mencapai sekitar 49% H₂.

Sementara dari sisi keekonomian, paparan PHE mencatat potensi levelized cost of hydrogen (LCOH) di bawah US$1/kg, meski angka tersebut tentu masih harus dibuktikan melalui tahapan eksplorasi, pengujian reservoir, produksi dan kajian keekonomian yang lebih mendalam.

PHE Ingin Jadi Pemain Utama

Yang menarik, PHE sudah menyiapkan strategic roadmap pengembangan natural hydrogen.

Dalam peta jalan tersebut terdapat sejumlah tahapan, mulai dari penguatan landasan hukum dan kebijakan pemerintah, pemberian kontrak wilayah kerja, akuisisi data dan pengujian, survey & estimation, studi GOR, hingga persetujuan sumur eksplorasi dan pengeboran.

Target akhirnya adalah bergerak dari studi dan eksplorasi menuju produksi serta pengembangan.

Paparan PHE juga memperlihatkan ambisi yang cukup besar.

PHE menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk memimpin pengembangan hidrogen alami Indonesia.

Bahkan, aspirasi yang ditampilkan cukup tegas: menjadi mitra strategis pemerintah dalam penyusunan kerangka kebijakan sekaligus operator utama pada seluruh blok hidrogen alami di Indonesia.

Namun, PHE menyadari bahwa teknologi dan sumber daya saja belum cukup.

Regulasi menjadi kunci.

Dalam paparannya, PHE menyebut fondasi regulasi mulai terbentuk, tetapi masih membutuhkan penguatan. Salah satunya melalui KBLI 06201, yang disebut telah mengakomodasi kegiatan hidrogen alami.

PHE juga menilai masih terbuka ruang untuk membentuk window of opportunity pada sektor hidrogen sehingga dapat membantu membangun arah kebijakan hidrogen alami nasional.

Di sinilah pernyataan Oki Muraza menemukan relevansinya.

Natural hydrogen, menurut Oki, berada pada tahap bisnis yang masih berkembang. Artinya, Pertamina harus bergerak sejak dini untuk membangun pengetahuan, teknologi, data, sekaligus ekosistem bisnisnya.

Pertamina sendiri memang tengah membangun portofolio hidrogen yang lebih luas. Pengembangan clean hydrogen telah menjadi bagian dari agenda perusahaan, termasuk melalui pengembangan teknologi produksi dan ekosistem hidrogen.

Kini, PHE mencoba membuka pintu yang berbeda: bukan memproduksi hidrogen dari sumber energi lain, tetapi mencari hidrogen yang sudah diproduksi oleh bumi.

Jika eksplorasi berhasil membuktikan cadangan dan keekonomiannya, natural hydrogen berpotensi menjadi frontier baru bisnis hulu Pertamina—sekaligus membuka babak baru peta energi bersih Indonesia.

Oki pun tampaknya melihat peluang itu sejak awal.

Sebab, dalam bisnis energi, menjadi pemain pertama di sebuah frontier baru bisa berarti satu hal penting: memiliki kesempatan untuk menentukan arah permainan.