Hilirisasi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru, MIND ID Transformasi Tambang ke Industri Bernilai Tinggi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com — Hilirisasi kian menjadi mesin pencipta nilai baru bagi industri pertambangan nasional. Di bawah komando holding industri pertambangan negara, MIND ID, transformasi besar-besaran tengah berlangsung melalui percepatan pembangunan smelter bauksit, nikel, dan tembaga yang mengubah komoditas mentah menjadi produk industri bernilai tambah tinggi.

Sepanjang 2025, MIND ID mencatat kemajuan signifikan dalam pengoperasian sejumlah proyek hilirisasi strategis. Langkah tersebut tidak hanya memperkuat kinerja bisnis grup, tetapi juga menggeser wajah industri pertambangan Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri global.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai arah transformasi MIND ID semakin nyata. Menurutnya, holding tambang BUMN itu mulai meninggalkan model bisnis ekstraktif dan beralih menjadi ekosistem industri terintegrasi yang mampu menciptakan nilai ekonomi berlipat.

“Pada 2025, MIND ID menunjukkan langkah progresif yang sangat penting. Mereka tidak lagi sekadar menambang dan menjual komoditas, tetapi mulai membangun rantai industri yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Ferdy, Minggu (15/2/2026).

Salah satu tonggak utama transformasi tersebut adalah beroperasinya proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Fasilitas yang dikembangkan PT Borneo Alumina Indonesia itu menjadi simbol keberhasilan integrasi hilirisasi bauksit dari hulu hingga hilir.

Selama bertahun-tahun Indonesia bergantung pada impor alumina sebagai bahan baku industri. Kini, melalui SGAR, kebutuhan tersebut mulai dapat dipenuhi dari dalam negeri. Selain mengurangi ketergantungan impor, proyek ini memperkuat pasokan bagi industri strategis seperti otomotif, petrokimia, hingga manufaktur berbasis logam.

Tak hanya di sektor bauksit, MIND ID juga mempercepat pengembangan rantai industri nikel yang menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Keterlibatan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) bersama Indonesia Battery Corporation (IBC), serta kemajuan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa yang telah mencapai progres 41,72%, menjadi fondasi penting industrialisasi mineral strategis Indonesia.

Teknologi HPAL memungkinkan pengolahan bijih nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik bernilai tinggi. Kehadiran proyek ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat rantai pasok baterai global yang tengah berkembang pesat.

Menurut Ferdy, berbagai proyek tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi kini telah menjadi strategi value creation jangka panjang bagi MIND ID. Dampaknya tidak hanya terlihat pada peningkatan margin bisnis, tetapi juga pada daya saing produk, ketahanan industri nasional, hingga potensi peningkatan valuasi perusahaan di pasar internasional.

“Dengan integrasi smelter, fasilitas pemurnian, hingga manufaktur, MIND ID sedang membangun fondasi untuk menjadi perusahaan tambang kelas dunia yang berbasis industri, bukan hanya produsen komoditas,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten dan terintegrasi. Pemerintah dinilai perlu memastikan pembangunan industri tidak berhenti pada produk antara, melainkan berlanjut hingga sektor manufaktur yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.

“Jangan sampai produk smelter hanya berhenti sebagai bahan setengah jadi. Hilirisasi harus diteruskan sampai industri manufaktur seperti baja nirkarat, komponen otomotif, hingga produk teknologi. Di situlah multiplier effect terbesar akan tercipta bagi ekonomi nasional,” tegas Ferdy.

Dengan berbagai proyek strategis yang mulai beroperasi, MIND ID kini tidak hanya menjadi pengelola sumber daya mineral, tetapi juga motor penggerak industrialisasi nasional yang berpotensi mengubah kekayaan alam Indonesia menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan.