Indonesia Bidik Posisi Hub CCS Asia Pasifik, PHE Gandeng ExxonMobil dan SK Group

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tangerang Selatan, ruangenergi.com— Indonesia semakin agresif memantapkan langkah sebagai pusat pengembangan penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS) di kawasan Asia Pasifik. Upaya itu ditandai dengan penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) antara PT Pertamina Hulu Energi, ExxonMobil, SK Innovation, dan SK Earthon untuk menjajaki proyek CCS lintas batas Indonesia–Korea Selatan.

Kesepakatan tersebut diteken dalam ajang IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026). Proyek ini dinilai menjadi salah satu langkah strategis terbesar dalam membangun ekosistem bisnis rendah karbon di kawasan.

Lewat kerja sama ini, karbon dioksida (CO2) yang ditangkap dari industri di Korea Selatan direncanakan akan dikirim ke Indonesia untuk disimpan secara aman di CCS Hub Asri Basin. Skema lintas negara seperti ini dipandang sebagai masa depan industri dekarbonisasi Asia, terutama bagi negara-negara industri yang memiliki keterbatasan kapasitas penyimpanan karbon.

Kesepakatan studi bersama tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya diteken pada Indonesia–Korea Business Forum di Korea Selatan, 1 April 2026. Kini, kerja sama itu masuk ke tahap lebih konkret melalui studi awal dan studi kelayakan proyek.

Direktur Utama PHE Awang Lazuardi bersama President ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited Egon E Van Der Hoeven, Vice President SK Innovation Jongmun Lee, dan Vice President SK Earthon Dooyun Park menandatangani langsung perjanjian tersebut.

Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen menyebut kolaborasi ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi hijau global.

“Melalui kolaborasi strategis ini, PHE bersama mitra global berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem CCS yang terintegrasi di Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi, tetapi juga membuka peluang investasi baru, transfer teknologi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan CCS di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya.

Tak hanya berdampak pada agenda penurunan emisi, proyek ini juga diproyeksikan memberi efek ekonomi signifikan. PHE memperkirakan proyek CCS lintas batas tersebut berpotensi menarik investasi hingga USD 600 juta ke Indonesia sebagai negara penyedia kapasitas penyimpanan karbon.

Selain itu, proyek ini diperkirakan mampu menciptakan hingga 2.000 lapangan kerja selama fase konstruksi untuk setiap kapasitas penyimpanan satu juta ton CO2 per tahun (MTPA).

Kolaborasi empat perusahaan energi besar ini juga akan mencakup pertukaran teknologi dan pengetahuan terkait rantai nilai CCS, mulai dari penangkapan, transportasi, hingga penyimpanan karbon. Kerja sama tersebut diharapkan mempercepat kesiapan regulasi, standar teknis, dan pengembangan industri pendukung CCS di kawasan.

Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap transisi energi dan target Net Zero Emission (NZE), Indonesia tampaknya ingin mengambil peran lebih dari sekadar pasar energi. Negeri ini mulai memosisikan diri sebagai “bank karbon” regional — tempat penyimpanan emisi bagi negara-negara industri Asia.