Medco energi internasional

Ini Dia Kinerja Keuangan Medco Energi Internasional

Jakarta,ruangenergi.com-PT Medco Energi Internasional Tbk mengumumkan kinerja keuangan sembilan
bulan tahun 2020 (“9M 2020”).

Medco menyampaikan Laba Bersih mengalami kerugian US$130 juta dengan kondisi perdagangan yang sangat sulit terutama di Kuartal ke-2 dimana Laba Bersih mengalami kerugian US$76 juta. Laba Bersih di Kuartal ke-3 mengalami kerugian US$34 juta, sehubungan dry-hole pengeboran laut dalam di Meksiko, harga gas yang rendah mengikuti harga minyak di Kuartal ke-2 dan permintaan listrik yang terus rendah di Medco Power.

Sementara, AMNT melaporkan laba Kuartal ke-3 sebesar US$21 juta yang merupakan laba per-kuartal
pertama sejak 2016 dengan produksi pertama dari fase 7 ditopang oleh harga tembaga dan emas yang lebih
tinggi.

“Rendahnya harga energi akibat pandemi telah berdampak signifikan terhadap operasi dan kinerja kami. Namun di tengah masa sulit ini, kami telah menjalankan sesuai strategi kami di berbagai bidang. Tahun ini kami sukses melakukan eksplorasi di Natuna dan Ijen, menandatangani Aliansi Strategis dengan mitra yang kuat yakni Kansai Electric, memperkuat neraca melalui rights issue yang sukses dan mendapat dukungan penuh, serta melakukan penghematan biaya investasi dan sinergi melalui pembelian kembali dan pembayaran hutang. Kini, menjelang akhir tahun, harga komoditas mulai pulih dan AMNT telah kembali memperoleh keuntungan dari produksi pertama fase 7 melalui kenaikan harga tembaga dan emas,” kata Roberto Lorato, CEO MedcoEnergi  dalam siaran pers yang diterima ruangenergi.com,Selasa (1/12/2020) di Jakarta.

Presiden Direktur MedcoEnergi Hilmi Panigoro mengatakan dirinya berterima kasih kepada para pemegang
saham yang telah berpartisipasi dalam pemesanan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dan telah berbagi
kesuksesan dengan Medco selama 40 tahun sejarah perusahaan itu.

“Dengan adanya aliansi Kansai Electric, eksplorasi yang sukses dan AMNT yang kembali membukukan laba, menjadi suatu kebanggaan melihat MedcoEnergi berkembang di tengah masa yang sulit ini menjadi Perusahaan yang lebih kuat,” kata Hilmi.

Lorato dalam keterangan pers menuliskan bahwa dalam sembilan bulan pertama, permintaan energi dan harga komoditas, dipengaruhi oleh pandemi Covid19. Harga minyak US$39,5/bbl, 37% di bawah 2019 (US$62,5/bbl) dan harga gas US$5,1/mmbtu, 25% di bawah 2019 (US$6,9/mmbtu). Harga minyak di Kuartal ke-3 pulih ke US$40,6/bbl, naik 52% dari US$26,8/bbl di Kuartal ke-2, namun harga gas terus turun di Kuartal ke-3 menjadi US$4,6/mmbtu, dari US$5,2/mmbtu di Kuartal ke-2, karena keterkaitan harga beberapa kontrak gas besar terhadap harga minyak di kuartal sebelumnya. Pada Kuartal ke-4, harga minyak & gas telah kembali ke arah positif.

“Laba Bersih mengalami kerugian US$130 juta dengan kondisi perdagangan yang sangat sulit terutama di Kuartal ke-2 dimana Laba Bersih mengalami kerugian US$76 juta. Laba Bersih di Kuartal ke-3 mengalami kerugian US$34 juta, sehubungan dry-hole pengeboran laut dalam di Meksiko, harga gas yang rendah mengikuti harga minyak di Kuartal ke-2 dan permintaan listrik yang terus rendah di Medco Power. Sementara, AMNT melaporkan laba Kuartal ke-3 sebesar US$21 juta yang merupakan laba per-kuartal pertama sejak 2016 dengan produksi pertama dari fase 7 ditopang oleh harga tembaga dan emas yang lebih tinggi,”jelas Lorato

Dia memaparkan,EBITDA US$422 juta, turun hanya 5% year-on-year, karena efisiensi biaya dan sinergi dari hasil penyelesaian integrasi Ophir Energy, mengimbangi dampak permintaan energi rendah.

“Likuiditas tetap kuat dengan kas dan setara US$618 juta pada 30 September, naik dari US$596 juta pada akhir tahun 2019. Belanja modal US$194 juta dimana sebesar US$147 juta digunakan untuk minyak & gas yaitu penyelesaian Proyek Meliwis di Jawa Timur dan pengeboran eksplorasi yang sukses di Block B Laut Natuna Selatan. Sementara, sebesar US$47 juta digunakan Medco Power, terutama untuk pembangunan Riau PLTGU sertapengeboran eksplorasi geotermal Ijen,”jelasnya.

Dia memaparkan juga bahwa rights issue berhasil diselesaikan pada September dengan 43% oversubscribed dan menghasilkan Rp1.785 miliar (~ US$120 juta) dengan 98% pemegang saham turut berpartisipasi.

“Pada Q1 2020, Perusahaan melakukan penawaran tender atas US$400 juta 144A / Reg S Senior Notes dan melaksanakan opsi beli untuk sisa Notes pada bulan Agustus. Hutang Bruto pada bulan ke-9 mencapai US$2,5 miliar, turun 6% year-on-year sementara Hutang Bersih US$2 miliar, turun 9% year-on-year. Perseroan akan mempertahankan target leverage sebesar 3,0x dan akan terus mengurangi hutang di setiap kuartal dengan ekspektasi harga komoditas akan pulih dalam waktu dekat,”ungkapnya.

Pada periode setelah pelaporan di November, lanjut Lorato dalam keterangan persnya,menyebutkan perusahaan membayar kembali ~US$170 juta Obligasi Rupiah dan membeli kembali US$6 juta dari USD.

BACA JUGA  EMP Catatkan Positif Kinerja Keuangan per 30 September 2020

Medco menargetkan produksi minyak & gas adalah 100 mboepd, sesuai acuan, meskipun tingkat permintaan gas masih jauh di bawah normal sebelum pandemi Covid-19.

“Biaya produksi per unit adalah US$7,6 per boe sesuai acuan, meskipun terdapat biaya tambahan untuk menjaga kelangsungan bisnis dan keselamatan Pekerja selama pandemi Covid-19. Program pengeboran dua anjungan sumur di Kerisi, Laut Natuna Selatan, Block B PSC pada bulan Juli meningkatkan produksi minyak dan kemampuan pengiriman gas. Empat penemuan gas hasil eksplorasi komersial di Laut Natuna Selatan, Block B PSC pada sumur-sumur Bronang-2, Kaci-2, West Belut-1 dan Terubuk-5. Penemuan ini akan dipercepat proses pengembangannya pada 2021-22 bersamaan dengan pengembangan Hiu yang telah direncanakan sebelumnya,”ucapnya.

Di sisi lain, Lorato menjelaskan bahwa Medco Power menandatangani Aliansi Strategis dengan Kansai Electric Power Company untuk mengembangkan fasilitas IPP gas baru di Indonesia.

“Medco Power menghasilkan penjualan listrik sebesar 1.956 GWh. Pengeboran sumur eksplorasi di Blawan Ijen, Jawa Timur baru-baru ini berhasil menemukan reservoir geotermal dan pengeboran sumur-sumur lanjutan sedang dilakukan untuk membuktikan kelayakan komersial dari pengembangan geotermal di masa depan.Pembangunan Riau PLTGU 275MW saat ini telah mencapai 91%, sementara pembangunan fasilitas 26MWp PV di Sumbawa telah dimulai,”jelasnya.

Untuk Aman Mineral Nusa Tenggara,Lorato menuliskan bahwa pengembangan fase 7 di AMNT mulai mengakses bijih produktif dengan peningkatan produksi mulai April2020. Pada 2020, AMNT menghasilkan 192 Mlbs tembaga dan 73 Koz emas dari penambangan dan  pemrosesan stockpiles.

Medco menyampaikan juga panduan Tahun 2020.Berdasarkan penurunan permintaan energi jangka pendek, panduan 2020 direvisi sebagai berikut:
• Produksi Minyak & Gas sebesar 100 – 105 mboepd
• Biaya produksi Minyak & Gas dibawah US$10/boe
• Total belanja modal di bawah US$240juta
• Penjualan daya ketenagalistrikan 2.600 GWh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *