Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina, Mulyono

Ini Penyebab Rumitnya Sistem Logistik Migas

Jakarta, Ruangenergi.com – Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah menjadi satu kebutuhan bagi hajat orang banyak. Misalnya, untuk menghidupkan dan menjalankan sebuah mesin kendaraan yang dipakai sehari-hari.

Untuk itu, Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero), Mulyono, mengatakan, pihaknya akan terus berupaya untuk selalu memenuhi kebutuhan BBM di seluruh pelosok Tanah Air.

Saat memberikan kuliah umum di Universitas Pertamina secara daring, ia mengungkapkan, sistem logistik migas adalah hal yang paling rumit, paling sulit dan paling kompleks, tidak hanya di Indonesia saja melainkan di seluruh dunia.

Mengapa demikian, lanjut Mulyono, paling tidak ada empat alasan, mengapa sebab sistem logistik di sektor migas rumit.

Pertama, karena besar dan luasnya wilayah yang dilayani dalam mendistribusikan bahan bakar.

Baca Juga : Pertama Di Indonesia, PT Pertamina Trans Kontinental Konversi Penggunaan Bahan Bakar Kapal

“Mengapa besar, karena yang distribusikan sistem logistiknya dalam setahun bisa miliaran liter, miliaran kilogram, barel, yang diangkut dan distribusikan hingga ke seluruh wilayah penjuru Indonesia,” kata Mulyono, dalam webinar tersebut, (23/08).

Selain itu, lanjutnya, karena sumber daya yang ikut didalamnya juga luar biasa besar, dalam sistem logistik ini melibatkan hampir 200 terminal BBM, melibatkan 5.500 mobil tangki, melibatkan 6.000 SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).

“Selanjutnya luas, mengapa luas, karena jangkauan distribusi dari Sabang-Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote, laut, udara, semua pegunungan-pegunungan semua kita layani, agar BBM sampai ke masyarakat,” ungkap Mulyono.

Kedua, mengapa kompleks, karena BBM yang didistribusikan ini merupakan hajat orang banyak.

BACA JUGA  Menteri ESDM Tinjau Progress Pembangunan Smelter Freeport

“Kalau stok baju, stok sepatu, itu seminggu dua minggu kosong tidak apa-apa. Ini BBM ini, BBM ini seperti nafasnya negeri ini. Begitu energinya tidak sampai, nafasnya bisa hilang,” jelas Mulyono.

Ketiga, Pertamina ini satu-satunya insitusi yang ditugaskan untuk selalu menyediakan BBM, hingga ke pelosok tanah air, melalui darat, laut dan udara.

“Kalau misalnya kita beli beras di toko A tidak ada, mungkin di toko B ada, atau di toko C tidak ada. Tetapi kalau Pertamina ini gagal mensuplai kesana tidak ada alternatif lain,” imbuh Mulyono.

Keempat, produk yang dibawa ini produk yang berbahaya, karena mudah terbakar dan meledak. Jadi, harus ekstra hati-hati dalam membawa BBM hingga ke masyarakat.

“Bisa dibayangkan jika Kapal Tanker kami tidak keluar mendistribusikan BBM ke penjuru Tanah Air, lalu terminal BBM kami tutup, apa yang akan terjadi pada negara ini,” sambungnya.

Urat Nadi Bangsa

Mulyono mengibaratkan bahwa Pertamina ini bisa sebagai urat nadi yang ada ditubuh manusia (urat nadi bangsa Indonesia).

Mengapa begitu, karena apabila BBM tersebut tidak dapat terdistribusikan hingga ke masyarakat, dampaknya akan sangat besar, bahkan hingga menyebabkan krisis energi.

“Kalau aliran darahnya tidak sampai ke tangan bisa stroke, lalu, kalau aliran darahnya tidak sampai ke kepala juga akan stroke. Begitupun dengan bangsa ini, jika distribusi BBM tidak sampai ke seluruh penjuru Tanah Air, tidak kebayang akan seperti apa nantinya,” terangnya.

Lebih jauh, Mulyono mengatakan, bahwa tugas yang diembannya adalah tugas mulia, karena memenuhi kebutuhan banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *