Jakarta, ruangenergi.com-Di balik nyala api gas suar (flare) yang selama ini menjadi pemandangan khas di kawasan Kilang Cilacap, tersimpan kisah transformasi energi yang kini mulai membuahkan hasil. Api yang semakin mengecil bukan pertanda aktivitas kilang menurun, melainkan bukti keberhasilan para pekerja PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap mengubah gas yang sebelumnya terbuang menjadi sumber energi bernilai tinggi.
Melalui serangkaian inovasi operasional, Kilang Cilacap berhasil mengoptimalkan pemanfaatan gas suar sehingga aktivitas flaring dapat ditekan secara signifikan. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga menjadi kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung agenda dekarbonisasi nasional melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.
Manager Engineering & Development Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Andi Krishnanta Wijaya, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi dan inovasi para pekerja dalam menciptakan proses operasi yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan.
“Optimalisasi pemanfaatan gas suar menjadi bukti keseriusan RU Cilacap dalam mendukung dekarbonisasi. Berbagai inovasi yang dikembangkan para pekerja mampu mengubah gas yang sebelumnya dibakar menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan kembali dalam operasional kilang,” ujar Andi, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, RU Cilacap memiliki lima titik gas suar yang tersebar di Kilang I, Kilang II, Kilang Paraxylene Cilacap (KPC), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), serta Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC). Kini, gas yang sebelumnya dilepas melalui flare telah dimanfaatkan kembali sebagai fuel gas di Kilang I dan Kilang II. Selain itu, off gas recovery dari eks Unit KPC dan RFCC juga dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi Unit Lube Oil Complex (LOC) III dan Sulphur Recovery Unit (SRU).
Hasilnya tidak hanya terlihat pada aspek teknis, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Optimalisasi tail gas mampu menurunkan konsumsi fuel gas 025F-101 rata-rata sebesar 1.698 Nm³ per jam atau sekitar 26 ton per hari. Efisiensi tersebut menghasilkan penghematan biaya bahan bakar hingga sekitar US$10.387 setiap hari.
Tak hanya menguntungkan perusahaan, inovasi ini juga membawa manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Intensitas nyala api gas suar yang semakin kecil membuat aktivitas flaring jauh berkurang sehingga meningkatkan rasa aman dan kenyamanan warga di sekitar kawasan kilang.
Dari sisi lingkungan, dampaknya pun tidak kalah besar. Hingga Juni 2026, optimalisasi pemanfaatan gas suar berhasil menekan emisi sebesar 7.286 ton CO₂ ekuivalen, setara dengan kemampuan penyerapan karbon oleh lebih dari 76 ribu pohon.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, menegaskan bahwa transformasi operasional yang dilakukan perusahaan tidak hanya mengejar efisiensi bisnis, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kami terus berupaya menjalankan operasional yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Efisiensi operasional yang dihasilkan membuka ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk memperkuat kontribusi kepada masyarakat melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL),” katanya.
Ia menambahkan, penghematan yang dihasilkan dari inovasi tersebut akan memperkuat berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan hingga pengembangan ekonomi lokal di sekitar wilayah operasi Kilang Cilacap.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana di dalam proses operasi dapat menghasilkan dampak yang luar biasa. Gas yang sebelumnya hanya berakhir menjadi nyala api kini berubah menjadi energi yang memberi nilai tambah, menghemat biaya operasional, menekan emisi karbon, sekaligus memperkuat komitmen Pertamina Patra Niaga dalam mewujudkan kilang yang lebih hijau dan berkelanjutan.

