Inovasi Tangkap Karbon dan Pupuk Organik Antar GM Pertamina Raih Satyalancana Wira Karya

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Inovasi tak harus berhenti di ruang operasi migas. Di tangan insan Pertamina, upaya menekan emisi karbon bisa berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat. Inovasi inilah yang mengantarkan General Manager Zona 13 Regional 4 Indonesia Timur, Ir. Andry, S.T., M.M., IPM., meraih tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Penghargaan negara ini menjadi pengakuan atas kepemimpinan Andry dalam mendorong inovasi yang menggabungkan keandalan operasi hulu migas, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Dua inovasi yang menjadi sorotan adalah ACCU (Algae Carbon Capture Utilization) dan pupuk organik Bioferdom.

Keduanya mencerminkan semangat Zona 13 Bahagia, yakni menghadirkan operasi energi yang tidak hanya produktif, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah kerja.

Mikroalga untuk menangkap karbon

Melalui inovasi ACCU, Zona 13 mengembangkan pemanfaatan mikroalga untuk menangkap dan memanfaatkan karbon dioksida (CO₂) di fasilitas CPP Donggi.

Inovasi ini diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan efisiensi energi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kegiatan hulu migas yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Di tengah tuntutan industri energi untuk menekan jejak karbon, pemanfaatan mikroalga membuka peluang bagi fasilitas operasi migas untuk mengembangkan pendekatan pengelolaan emisi yang lebih inovatif.

Namun, bagi Zona 13, inovasi tidak berhenti pada upaya menjaga lingkungan. Perusahaan juga berupaya menghubungkan kegiatan operasi dengan kebutuhan masyarakat, terutama sektor pertanian.

Biosulfur slurry disulap menjadi pupuk

Inovasi kedua adalah Bioferdom, pupuk organik yang dikembangkan dari pengolahan biosulfur slurry, produk samping kegiatan operasi migas.

Material yang semula menjadi produk samping tersebut diolah menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian. Pengembangan Bioferdom dilakukan bersama petani di Desa Kayowa, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Program ini diperkuat melalui Sekolah Lapang Bioferdom. Petani tidak hanya memperoleh akses terhadap inovasi pupuk, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan praktik pertanian yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana inovasi di sektor hulu migas dapat diperluas menjadi kegiatan yang mendukung ketahanan pangan. Dengan mengolah produk samping operasi menjadi sesuatu yang bermanfaat, perusahaan berupaya menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat sekitar.

Bahlil: Penghargaan harus menjadi pemantik inovasi

Dalam sambutannya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan ucapan selamat kepada para penerima tanda kehormatan. Ia berharap penghargaan tersebut menjadi pemantik semangat untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi sektor energi nasional.

“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan selamat kepada seluruh penerima tanda kehormatan. Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan negara atas dedikasi dan kontribusi nyata saudara-saudara bagi sektor energi nasional,” ujar Bahlil.

Ia meminta para penerima penghargaan menerjemahkan pengakuan tersebut menjadi aksi nyata di lapangan, sejalan dengan arahan Presiden untuk mewujudkan kedaulatan energi.

Menurut Bahlil, kolaborasi antara pemerintah dan BUMN energi perlu terus diperkuat. Inovasi menjadi salah satu kunci untuk menjaga ketahanan energi sekaligus memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat.

Andry: Ini hasil kerja bersama

Bagi Andry, Satyalancana Wira Karya bukan semata-mata pencapaian pribadi. Ia menyebut penghargaan tersebut sebagai buah kerja bersama seluruh Perwira Zona 13, dengan dukungan SKK Migas, pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pemerintah desa, mitra kerja, petani, dan masyarakat Banggai.

“Alhamdulillah, hari ini kami sangat bahagia. Penghargaan ini adalah amanah sekaligus kebanggaan bagi kami semua. Saya memaknainya bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan buah dari kerja keras dan kekompakan seluruh Perwira Zona 13,” kata Andry.

Ia menegaskan, keberhasilan inovasi ACCU dan Bioferdom berangkat dari keyakinan bahwa kegiatan operasi energi dapat berjalan selaras dengan alam serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami percaya ketahanan energi dan ketahanan pangan bisa berjalan beriringan. Melalui ACCU, kami berupaya menekan emisi dan meningkatkan efisiensi energi di fasilitas operasi. Melalui Pupuk Bioferdom dan Sekolah Lapang, apa yang semula merupakan produk samping operasi kini menjadi pupuk yang menyuburkan lahan petani di Kayowa,” tuturnya.

Andry menambahkan, kebahagiaan insan energi tidak hanya diukur dari pencapaian produksi atau keandalan fasilitas operasi. Manfaat yang dirasakan masyarakat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan perusahaan.

“Ketika petani tersenyum karena panennya membaik, di situlah kebahagiaan kami sebagai insan energi,” ujarnya.

Zona 13 Bahagia: Energi untuk masyarakat

Semangat Zona 13 Bahagia menjadi landasan bagi Andry dan timnya untuk membangun lingkungan kerja yang produktif, aman, dan terbuka terhadap inovasi.

Menurut Andry, pekerja yang bahagia akan terdorong untuk bekerja dengan selamat, berinovasi dengan sepenuh hati, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi, menjaga operasi yang aman dan andal, serta memberi manfaat bagi negeri,” katanya.

Penghargaan Satyalancana Wira Karya sekaligus menyoroti kontribusi insan Pertamina di wilayah Indonesia Timur dalam mendukung ketahanan energi nasional. Melalui inovasi pengurangan emisi dan pemberdayaan petani, Zona 13 berupaya memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Di tengah tantangan industri energi untuk menjaga produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan, ACCU dan Bioferdom menunjukkan dua jalur inovasi yang saling melengkapi: mengelola emisi dari kegiatan operasi dan mengubah produk samping menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.

Bagi Zona 13, keberhasilan itu menjadi bagian dari makna Zona 13 Bahagia—ketika operasi berjalan andal, lingkungan mendapat perhatian, dan masyarakat ikut tumbuh bersama.

Tentang Regional 4 Indonesia Timur

PT Pertamina EP Cepu (PEPC) berperan sebagai konsolidator Regional 4 Indonesia Timur di bawah Subholding Upstream Pertamina. Regional ini mengoordinasikan empat zona operasi, yakni Zona 11, Zona 12, Zona 13, dan Zona 14.

Wilayah operasinya tersebar di Jawa Timur, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua, mencakup aset lepas pantai (offshore) maupun darat (onshore). Pengelolaan wilayah kerja tersebut menjadi bagian dari kontribusi Pertamina dalam menjaga keberlanjutan kegiatan hulu migas dan mendukung ketahanan energi nasional.