Tangerang, ruangenergi.com — Institut Teknologi PLN (ITPLN) resmi menjalin kerja sama dengan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) melalui penandatanganan kesepakatan bersama yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, hingga penguatan transisi energi nasional.
Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan oleh Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa Mulyana K., M.T., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., bersama Ketua Ikatan Ahli Fasilitas Produksi dan Minyak dan Gas Bumi Indonesia, Ir. Luky A. Yusgiantoro, B.Sc., M.Sc., M.Spec (IFP)., Ph.D., IPU., ASEAN Eng di sela-sela IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Kerja sama tersebut mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, seminar nasional dan internasional, konsultansi, workshop, pelatihan kompetensi, publikasi jurnal, hingga pemanfaatan laboratorium dan fasilitas penunjang lainnya.
Rektor ITPLN, Prof Iwa Garniwa, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan asosiasi profesi menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan industri energi yang berkelanjutan.
“Kerja sama ini harus menjadi langkah nyata untuk menciptakan sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi transisi energi nasional,” ujar Prof Iwa di Tangerang, Rabu, 2026.
Ia menegaskan, dunia industri dan akademisi perlu bergerak bersama agar inovasi teknologi energi dapat berkembang lebih cepat dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“ITPLN berkomitmen memperkuat sinergi dengan berbagai sektor industri, termasuk migas dan energi baru terbarukan, sehingga mahasiswa memiliki pengalaman dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” katanya.
Sementara itu, Ketua IAFMI Luky A. Yusgiantoro mengatakan pihaknya memilih ITPLN karena melihat potensi besar pengembangan sektor energi yang tidak hanya terfokus pada minyak dan gas bumi.
“Kami ingin melihat prospek energi secara lebih luas, tidak hanya oil and gas. Ada banyak kesamaan antara fasilitas produksi migas dan sektor pembangkitan listrik,” kata Luky.
Menurut dia, kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan program konkret dan tidak berhenti sebagai nota kesepahaman semata.
IAFMI, lanjut Luky, juga tengah memperkuat pendekatan dengan kalangan akademisi melalui pengembangan jurnal ilmiah dan kegiatan riset bersama kampus.
Ia mencontohkan, bidang turbo machinery di industri migas memiliki keterkaitan erat dengan sistem pembangkitan listrik sehingga peluang kerja sama teknis sangat terbuka.
“Ke depan kita bisa sinkronkan efisiensi fasilitas produksi, pemanfaatan energi hijau, sampai penggunaan solar PV di fasilitas migas,” tegasnya.
Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak juga sepakat menjalankan prinsip profesionalitas, proporsionalitas, keterpaduan, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, dan keterbukaan dalam seluruh pelaksanaan program kerja sama.
Saat ini IAFMI memiliki sekitar 1.700 anggota yang terdiri dari unsur korporasi, profesional, dan akademisi di bidang fasilitas produksi migas dan energi.


