Kejar Akreditasi Unggul, ITPLN Pastikan Lulusan Anti Nganggur

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., MT., IPU., ASEAN Eng., menegaskan komitmen kampusnya untuk menjadi perguruan tinggi dengan akreditasi unggul di bidang transisi energi. Hal ini ia ungkapkan saat membuka kegiatan bimbingan teknis akreditasi perguruan tinggi bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III.

Menurutnya, akreditasi perguruan tinggi menjadi salah satu tolok ukur mutu institusi. Ia menyebut, status akreditasi tidak bisa dihindari karena menjadi bagian dari standar kualitas perguruan tinggi, terlebih ITPLN membawa nama besar .

“PLN menargetkan menjadi perusahaan kelas dunia, maka kampus di bawahnya juga harus menjadi rujukan, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Asia bahkan global,” ujar Iwa di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.

Lebih lanjut, ia menyoroti persoalan serius di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Dia mengungkapkan, sekitar 1,9 juta lulusan perguruan tinggi dihasilkan setiap tahun, namun ratusan ribu di antaranya belum terserap dunia kerja.

“Ada sekitar 250 ribu lulusan yang terdidik tapi tidak terserap. Ini tidak boleh terus terjadi,” tegasnya.

Karena itu, ITPLN memilih fokus pada pengembangan sumber daya manusia di sektor energi, khususnya transisi energi, sebagai jawaban atas kebutuhan masa depan.

“Kami tidak ingin hanya meluluskan mahasiswa, tapi memastikan lulusan siap menghadapi tantangan global, khususnya di bidang energi,” tambahnya.

Diakuinya, ITPLN tengah berada pada fase krusial untuk memperkuat posisi sebagai kampus berbasis energi yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“ITPLN tidak ingin menjadi perguruan tinggi yang biasa-biasa saja. Kita harus fokus menjadi kampus transisi energi, khususnya dalam menjawab tantangan transisi energi ke depan,” kata Iwa.

Ia menjelaskan, perubahan global menuju energi berkelanjutan menuntut kompetensi baru yang tidak bisa dijawab dengan sistem pendidikan konvensional. Menurutnya, perkembangan seperti digitalisasi, otomatisasi, dan robotisasi menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi oleh perguruan tinggi.

“Kalau kita menyelenggarakan pendidikan secara biasa, kita akan tertinggal, terutama di bidang transisi energi,” tegasnya.

Iwa juga menegaskan bahwa momentum bimbingan teknis akreditasi ini menjadi langkah strategis untuk mendorong ITPLN mencapai target sebagai perguruan tinggi unggul.

“Mutu bukan sekadar slogan, tapi harus menjadi DNA ITPLN,” ucapnya.

Ia berharap kolaborasi dengan LLDIKTI Wilayah III dapat menjadi peta jalan dalam meningkatkan kualitas institusi, termasuk dalam penyusunan instrumen akreditasi yang sesuai dengan standar terkini. Setiap program akademik ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.

Tren Mutu ITPLN Membaik

Sementara itu, Penelaah Teknis Kebijakan Tim Penjaminan Mutu LLDIKTI Wilayah III, Prima Satria SE., MM., mengakui sistem penjaminan mutu ITPLN menunjukkan tren membaik, namun masih menyisakan sejumlah catatan penting yang harus segera dibenahi.

“Hasil terbaru menunjukkan ITPLN mengalami peningkatan dari tipologi 4 menjadi tipologi 3. Ini menunjukkan ada perbaikan, namun belum seluruh aspek terpenuhi,” katanya.

Dalam penilaian semester II sebelumnya, fasilitator wilayah mencatat sejumlah kekurangan mendasar. Di antaranya, dokumen standar belum sepenuhnya mengacu pada Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023.

Selain itu, ditemukan belum adanya Surat Keputusan (SK) Auditor, dokumen rencana tindak lanjut (RTL) yang belum sesuai, serta sejumlah tautan dokumen yang tidak dapat diakses.

“Ini menjadi catatan serius karena menyulitkan proses verifikasi. Kami minta seluruh dokumen SPMI yang dilaporkan dapat diakses dengan baik,” tegas Prima.

Per April 2026, ungkapnya, sebaran akreditasi program studi di ITPLN antara lain, 1 prodi berstatus unggul; 5 prodi berstatus baik sekali; 11 prodi berstatus baik dan 1 prodi belum terakreditasi.

Selain itu, terdapat lima program studi yang masa akreditasinya akan habis dalam waktu kurang dari enam bulan.

“Ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Untuk mencapai status unggul, minimal 15 persen prodi harus berada pada peringkat unggul, khususnya untuk perguruan tinggi dengan jumlah prodi 10 hingga 40,” jelas Prima.

Acara tersebut diikuti oleh jajaran pimpinan, dosen, serta sivitas akademika ITPLN sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola dan mutu pendidikan di lingkungan kampus.