Koordinasi ESDM–Perdagangan Diperkuat, Pasokan Nafta dan LPG dari AS Jadi Fokus

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Pemerintah mempercepat langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan industri petrokimia nasional melalui penguatan koordinasi lintas kementerian. Hal ini tercermin dalam pertemuan antara Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot dengan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri yang membahas pengamanan pasokan bahan baku utama, khususnya nafta dan LPG.

Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya diversifikasi sumber impor energi, dengan Amerika Serikat menjadi salah satu opsi utama untuk memasok kebutuhan nafta dan LPG. Kedua komoditas ini merupakan bahan baku krusial dalam industri petrokimia, yang menjadi fondasi produksi plastik dan turunannya.

Langkah ini tidak lepas dari kondisi industri yang tengah menghadapi tekanan pasokan. Salah satu yang terdampak adalah Lotte Chemical Indonesia yang beroperasi di Cilegon. Perusahaan tersebut diketahui sangat bergantung pada ketersediaan nafta untuk menjaga stabilitas produksinya.

Dalam diskusi tersebut, pemerintah menekankan bahwa kelancaran pasokan bahan baku bukan hanya isu industri semata, melainkan juga berdampak luas pada stabilitas harga plastik di pasar domestik. Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini menjadi indikator nyata betapa rentannya rantai pasok sektor petrokimia terhadap gangguan suplai energi.

Tenaga Ahli Kementerian ESDM Satya Hangga Yudha Widya Putra menjelaskan bahwa hasil pertemuan mengerucut pada langkah konkret untuk mempercepat realisasi pasokan. Menurutnya, koordinasi ini tidak hanya membahas sumber suplai, tetapi juga sinkronisasi kebijakan antar kementerian agar proses impor berjalan lebih cepat dan efisien.

“Fokusnya adalah memastikan industri tetap berjalan. Saat ini utilisasi sudah tertekan, sehingga pasokan nafta dan LPG harus diamankan dalam waktu dekat, termasuk opsi dari Amerika Serikat,” ujarnya bercerita kepada ruangenergi.com

Ia juga mengingatkan bahwa tanpa kepastian bahan baku, risiko penurunan produksi hingga penghentian operasional bisa terjadi di beberapa fasilitas petrokimia. Kondisi tersebut berpotensi memicu kelangkaan plastik di dalam negeri serta mendorong kenaikan harga lebih lanjut.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa pihaknya akan memastikan kelancaran arus impor, baik dari sisi perizinan maupun tata niaga. Di sisi lain, Wakil Menteri ESDM Yuliot menekankan pentingnya menjaga ketahanan energi sebagai fondasi keberlangsungan industri strategis nasional.

Dengan sinergi yang semakin erat antara Kementerian ESDM dan Kementerian Perdagangan, pemerintah berharap dapat meredam tekanan di sektor petrokimia sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar domestik.