Lahan Pesisir Tak Lagi Mati, Padi Biosalin PGN Panen 166,5 Ton

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Batang, Jawa Tengah, ruangenergi.com— Lahan pesisir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang selama enam tahun menghadapi persoalan salinitas dan keterbatasan air, kini kembali menghasilkan.

Melalui pengembangan Padi Biosalin, sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP) berhasil diproduksi dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,3 miliar.

Panen tersebut menjadi bukti bahwa lahan dengan kadar garam tinggi tidak selalu harus berujung menjadi lahan tidur. Dengan inovasi teknologi, riset, dan kolaborasi, kawasan yang sebelumnya sulit dimanfaatkan dapat kembali memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Panen Raya Padi Biosalin digelar di Kabupaten Batang, Jumat (18/9/2026), melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pengembangan dan Budidaya Varietas Padi Biosalin dan Minapadi Salin pada Kawasan Salinitas Tinggi, yang merupakan kolaborasi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Batang.

Tantangan yang dihadapi petani tidak ringan. Selain salinitas yang dipengaruhi air laut dan rob, sektor pertanian juga menghadapi tekanan perubahan iklim dan keterbatasan air.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-September 2026 tercatat 2,6, yang berada pada kategori El Nino sangat kuat.

Hingga Dasarian I September 2026, sekitar 80,7% Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut semakin memperberat tantangan pertanian, terutama di kawasan pesisir yang secara alami menghadapi persoalan salinitas dan ketersediaan air.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan perubahan iklim, abrasi, dan rob menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan lahan pertanian pesisir.

Karena itu, menurut Hanif, diperlukan langkah adaptasi dan mitigasi yang terintegrasi, termasuk melalui inovasi pertanian yang mampu beradaptasi dengan kondisi lahan salin.

Pengembangan Padi Biosalin dan mina salin di Batang, kata dia, menunjukkan bahwa lahan dengan tingkat salinitas tinggi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif melalui penerapan inovasi dan teknologi.

“Integrasi padi dan ikan juga rumput laut juga berpotensi menjadi model yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah,” ujar Hanif dalam keterangannya, dikutip Minggu (20/9/2026).

Dari Lahan Salin Menjadi Sumber Ekonomi

Bagi PGN, keberhasilan panen tersebut bukan sekadar soal produksi gabah. Program ini juga menjadi bagian dari upaya mengubah lahan bermasalah menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan pengembangan Padi Biosalin merupakan bagian dari komitmen PGN menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus sosial.

Menurut Fajriyah, panen di Batang membuktikan lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Panen di Batang menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja melalui inovasi dan kolaborasi,” ujar Fajriyah.

Namun, Fajriyah mengingatkan bahwa keberhasilan pengembangan Padi Biosalin tidak berarti satu model dapat diterapkan secara seragam di semua daerah.

Pengalaman pengembangan di berbagai wilayah, kata dia, menunjukkan pentingnya menyesuaikan model budidaya dengan karakteristik lahan serta kebutuhan masyarakat setempat.

Karena itu, PGN bersama BRIN terus mendorong replikasi inovasi tersebut ke wilayah pesisir lainnya.

“Dari lahan yang menghadapi keterbatasan, kita tumbuhkan produktivitas. Dari inovasi, kita hadirkan solusi. Dan melalui kolaborasi, kita ciptakan keberlanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” kata Fajriyah.

Kolaborasi Jadi Kunci

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menilai tantangan perubahan iklim dan kondisi lingkungan pesisir membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Menurut dia, kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial bagi petani.

“Kerja sama pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan dan masyarakat khususnya petani,” kata Faiz.

Senada, Anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni mengatakan keberhasilan panen Padi Biosalin di Batang merupakan hasil gotong royong berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, badan usaha hingga masyarakat.

Ke depan, Padi Biosalin diharapkan tidak berhenti sebagai keberhasilan satu kawasan. Inovasi tersebut diproyeksikan menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas lahan pesisir, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat di tengah tekanan perubahan iklim.

Dari lahan yang selama bertahun-tahun dianggap sulit produktif, Batang kini memperlihatkan satu pesan penting: salinitas bukan akhir dari produktivitas, sepanjang inovasi dan kolaborasi berjalan bersama.