Kabar Baik dari Natuna! Pengeboran Laba Laba Resmi Dimulai, Gas 226 BCF Menanti

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Upaya Indonesia menambah cadangan gas bumi terus berlanjut. SKK Migas mengumumkan keberhasilan dimulainya pengeboran (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 di wilayah Offshore Natuna Barat pada Kamis (30/7/2026) pukul 02.20 WIB. Pengeboran ini menjadi langkah awal dari kampanye eksplorasi tiga sumur yang diharapkan memperkuat pasokan energi nasional.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut sebagai good news kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komisi Pengawas SKK Migas, serta jajaran pimpinan sektor energi.

“Alhamdulillah, pada hari ini telah berhasil dilakukan tajak (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 di Offshore Natuna Barat menggunakan Rig Admarine 502,” ujar Djoko dalam laporannya, Kamis (30/7/2026), seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Sumur Laba Laba-1 dioperasikan oleh Prime Natuna EP, operator baru yang mengambil alih pengelolaan aset Premier Oil Natuna Sea sejak 28 Mei 2026. Kehadiran operator baru tersebut diharapkan memberi energi baru bagi aktivitas eksplorasi di salah satu kawasan gas strategis Indonesia.

Pengeboran Laba Laba-1 membidik reservoir Sandstone Upper Arang (UA Aa-8), formasi yang telah terbukti produktif di Lapangan Pelikan, Naga, dan Iguana. Ketiga lapangan tersebut secara kumulatif telah menghasilkan sekitar 578 BCF gas, sehingga menjadi referensi penting bagi prospek sumur baru ini.

Reservoir utama diperkirakan berada pada kedalaman 4.298 kaki TVDSS, sementara pengeboran akan diteruskan hingga mencapai total depth 5.597 kaki TVDSS. Berdasarkan kajian geologi, Laba Laba-1 diperkirakan memiliki potensi sumber daya terambil sebesar 45 BCF gas kering.

Tidak berhenti di satu sumur, Prime Natuna EP telah menyiapkan dua pengeboran lanjutan, yakni Bekantan-1 dan Tenggiling South-1. Jika seluruh target berhasil dikonfirmasi, ketiga sumur tersebut diproyeksikan menyimpan potensi sumber daya terambil mencapai 226 BCF gas.

Seluruh rangkaian pengeboran ditargetkan rampung pada November 2026, sebelum kawasan Natuna memasuki musim monsun yang berpotensi mengganggu aktivitas operasi lepas pantai.

Menariknya, Sumur Laba Laba-1 dan Bekantan-1 merupakan bagian dari strategi Near Field Exploration, sehingga memiliki peluang lebih cepat untuk dikembangkan. Kedua sumur ditargetkan masuk tahap Plan of Development (POD) pada 2027 dan dapat mulai berproduksi pada 2028 atau bahkan lebih cepat.

Keunggulan lainnya adalah lokasi kedua sumur yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari fasilitas produksi di Lapangan Naga. Kedekatan dengan infrastruktur eksisting memungkinkan percepatan pengembangan lapangan dengan target produksi sekitar 23 MMSCFD, sekaligus menekan kebutuhan investasi pembangunan fasilitas baru.

Djoko Siswanto berharap seluruh kegiatan pengeboran berjalan aman dan menghasilkan temuan yang signifikan.

“Semoga kegiatan pengeboran berjalan aman, lancar, tanpa kecelakaan, serta memberikan hasil terbaik untuk mendukung penemuan cadangan migas baru dan peningkatan ketahanan energi nasional,” tutupnya.

Dimulainya pengeboran Laba Laba-1 menjadi sinyal bahwa aktivitas eksplorasi migas Indonesia terus bergeliat.

Dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia dan fokus pada eksplorasi di sekitar lapangan produksi, pemerintah dan SKK Migas berharap tambahan cadangan gas dapat lebih cepat dikonversi menjadi produksi nyata guna memperkuat ketahanan energi nasional.