LNG Jadi Andalan Baru! Danantara Dorong Pertamina Pangkas Impor Gas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat ketahanan energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri. Salah satu yang menjadi perhatian adalah liquefied natural gas (LNG).

BP BUMN bersama Danantara Indonesia mendorong PT Pertamina (Persero) meningkatkan kemampuan produksi dan pasokan LNG dari dalam negeri. Langkah tersebut dinilai penting mengingat kebutuhan LNG nasional diproyeksikan semakin besar dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam pertemuan di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (10/9/2026), Pertamina memaparkan proyeksi kebutuhan LNG yang akan semakin dominan setelah 2025. Bahkan, pada 2029, porsi LNG diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen dari keseluruhan pasokan gas.

Besarnya kebutuhan tersebut membuat kemampuan produksi dan pasokan LNG domestik menjadi semakin strategis.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa yang terpenting adalah memastikan peningkatan kebutuhan LNG tersebut dapat diimbangi dengan kemampuan pasokan dari dalam negeri.

“Yang paling penting ada progres. Artinya, kalau kebutuhan kita 50 persen, kita sudah bisa suplai dari dalam negeri,” ujar Dony, seperti dikutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.

Jargas dan CNG Ikut Didorong

Strategi memperkuat gas domestik tidak berhenti pada LNG. Pertamina juga mengembangkan jaringan gas (jargas) dan compressed natural gas (CNG) agar gas bumi bisa semakin dekat dengan masyarakat.

Salah satu skema yang tengah dikembangkan melalui mother station CNG ditargetkan mampu menyalurkan gas untuk melayani sekitar 12.000 rumah.

Bagi Dony, pengembangan jargas dan CNG memiliki arti penting karena berpotensi mengurangi penggunaan LPG yang selama ini masih bergantung pada pasokan impor.

“Ini bisa menurunkan ketergantungan secara signifikan. Kombinasi antara jargas dan CNG ini luar biasa. Dampaknya terhadap kita signifikan, terutama untuk mengurangi impor dan ketergantungan kita terhadap LPG,” ujar Dony.

Dorongan BP BUMN dan Danantara tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ekosistem gas nasional diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga menjangkau konsumen rumah tangga.

Produksi LNG dalam negeri yang semakin kuat, ditambah ekspansi jargas dan CNG, diharapkan menciptakan rantai pasok gas yang lebih terintegrasi dari sumber produksi hingga pengguna akhir.

Jika berjalan sesuai target, langkah tersebut dapat memberikan dua manfaat sekaligus: menjamin ketersediaan energi dan mengurangi kebutuhan impor.

Pada akhirnya, semakin besar kebutuhan gas nasional yang dapat dipenuhi dari sumber domestik, semakin kuat pula fondasi kemandirian energi Indonesia.

LNG bukan lagi sekadar komoditas ekspor. Ke depan, gas bumi juga ditargetkan menjadi salah satu senjata utama Indonesia untuk mengurangi ketergantungan energi impor.