Luar Biasa! Hampir 500 Kargo LNG Meluncur dari Banggai, DSLNG Siap Tambah Produksi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Banggai, Sulteng, ruangenergi.com – PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) terus menjaga kinerja produksi Liquefied Natural Gas (LNG) sekaligus memastikan pasokan untuk kebutuhan domestik. Sejak mulai beroperasi pada 2015, fasilitas LNG di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, itu telah menghasilkan hampir 500 kargo LNG.

Plant Deputy General Manager DSLNG Sugianto Darsani mengatakan, produksi LNG DSLNG rata-rata mencapai sekitar 40-an kargo per tahun. Dengan kapasitas standar satu kargo sekitar 125 ribu meter kubik LNG, produksi DSLNG terus berjalan konsisten sejak 2015.

“Sudah 480 sekian (kargo) sejak 2015,” ujar Sugianto saat menerima kunjungan media dalam site visit media ke fasilitas DSLNG di Banggai, seperti dilaporkan Destian Anugrah Ramadhan, reporter ruangenergi.com.

Menurut Sugianto, hingga Agustus 2026 DSLNG telah merealisasikan sekitar 28 kargo LNG. Perusahaan menargetkan produksi sekitar 40-41 kargo sepanjang tahun ini.

Dengan rata-rata pengiriman LNG sekitar satu kargo setiap delapan hari, DSLNG masih memiliki ruang produksi hingga akhir tahun.

“Per bulan itu rata-rata tiga kargo. Jadi September, Oktober, November, Desember sekitar 12 kargo lagi,” jelasnya.

15 Kargo untuk Pasar Domestik

Yang menarik, dari target sekitar 41 kargo LNG pada 2026, DSLNG akan mengalokasikan sekitar 15 kargo untuk kebutuhan domestik, sementara sekitar 26 kargo lainnya diperuntukkan bagi pembeli ekspor.

Sugianto menjelaskan, peningkatan porsi domestik tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan gas dalam negeri.

“Pemerintah mengutamakan kebutuhan dalam negeri harus tercukupi dulu oleh LNG produsen dalam negeri,” katanya.

Untuk saat ini, pembeli domestik LNG DSLNG adalah PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Selanjutnya, LNG tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, termasuk PLN.

Menariknya, menurut Sugianto, pengambilan kargo domestik oleh PGN selama ini berlangsung konsisten sesuai jadwal yang telah direncanakan.

“Selama ini selalu sesuai jadwal,” ujarnya.

Tidak Ada Spot Cargo Tahun Ini

Konsistensi jadwal pengambilan menjadi penting bagi DSLNG karena produksi LNG membutuhkan perencanaan yang ketat. Berbeda dengan spot cargo yang dapat dicari ketika terdapat kelebihan pasokan, kebutuhan domestik harus direncanakan jauh hari.

“Kalau dalam negeri, misalnya minta delapan, harus planning kapan barang ini diambil,” kata Sugianto.

Karena itu, untuk 2026 DSLNG memastikan tidak menjual spot cargo. Produksi LNG akan disalurkan kepada long-term buyer dan pasar domestik.

“Untuk tahun ini tidak ada spot. Jadi ke long-term buyer dan domestik,” tegasnya.

Menurut Sugianto, perubahan alokasi domestik juga telah dikomunikasikan kepada pembeli LNG jangka panjang. Sebagian volume ekspor disesuaikan agar kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi.

Siap Jika Ada Tambahan Gas

DSLNG juga membuka peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi apabila memperoleh tambahan pasokan gas dari hulu.

Sugianto menegaskan, dari sisi operasi DSLNG siap mengantisipasi tambahan feed gas. Bahkan, perusahaan telah memiliki kajian pengembangan dan lahan yang masih tersedia.

“Kalau ada penambahan, kita siap,” katanya.

Untuk tambahan sekitar 100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), menurut Sugianto, peningkatan kapasitas tidak serta-merta membutuhkan pembangunan satu train LNG baru. Sejumlah fasilitas yang ada masih memiliki kapasitas untuk mengakomodasi peningkatan produksi, sehingga pengembangan dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan fasilitas tertentu, termasuk sistem kompresi.

“Tidak semua satu train. Ada alat kita yang masih mampu, unit dehidrasi untuk menghilangkan air itu masih cukup,” jelasnya.

Namun, keputusan investasi tetap sangat bergantung pada ketersediaan gas dari hulu serta keekonomian harga gas dan LNG.

“Kalau gasnya di hulu tidak ada, bagaimana mau menambah. Kita siap apabila harga gasnya masuk, tentu ada margin,” ujar Sugianto.

LNG Bukan Sekadar Mendinginkan Gas

Sugianto menjelaskan, proses utama di fasilitas DSLNG pada dasarnya adalah mendinginkan gas alam hingga menjadi LNG. Gas yang semula berada pada temperatur ambien didinginkan hingga sekitar minus 160 derajat Celsius.

“Tidak ada proses chemical sama sekali. Kita hanya mendinginkan gas dari temperatur ambient ke minus 160,” katanya.

Teknologi tersebut memungkinkan gas diperkecil volumenya secara signifikan sehingga dapat diangkut menggunakan kapal LNG. Inilah yang membuat LNG menjadi salah satu solusi penting untuk mengirimkan gas ke wilayah yang tidak terhubung langsung oleh jaringan pipa.

Sebagai gambaran skala industri, Sugianto menyebut fasilitas LNG di Qatar bahkan memiliki satu train dengan kapasitas sekitar 7,8 juta ton per tahun, atau sekitar tiga kali kapasitas satu train DSLNG.

Kontrak Jangka Panjang Mulai Dibahas

Di sisi lain, DSLNG juga mulai melakukan pembicaraan terkait kelanjutan kontrak dengan pembeli LNG jangka panjang. Kontrak yang berjalan saat ini memiliki horizon hingga 2027.

Menurut Sugianto, pembahasan perpanjangan kontrak telah dimulai dan diharapkan mulai memiliki gambaran lebih jelas pada akhir 2026.

“Tim kita sedang bekerja mencari partner. Salah satunya existing buyer, bisa existing, bisa nambah. Yang penting buyer-nya harus seperti long term,” tuturnya.

Bagi DSLNG, kepastian kontrak menjadi penting karena produksi LNG tidak bisa dilakukan secara mendadak.

“Jangan mendadak-mendadak. Perencanaan. Gas kita bisa, tapi secara teknis tidak masuk kalau mendadak,” kata Sugianto.

Dengan pengalaman produksi hampir 500 kargo sejak 2015, DSLNG kini berada pada fase penting: menjaga kesinambungan produksi, memenuhi kebutuhan domestik, sekaligus membuka ruang ekspansi apabila pasokan gas hulu dan keekonomian mendukung.

Bagi industri LNG nasional, kesiapan fasilitas seperti DSLNG menjadi salah satu kunci untuk menjembatani kebutuhan energi dalam negeri sekaligus mempertahankan peran Indonesia di pasar LNG global.