DPN-MIND ID Bahas Jurus Mineral Strategis Hadapi Gejolak Geopolitik Dunia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com — Kekayaan mineral Indonesia tak lagi sekadar bicara soal tambang dan ekspor komoditas. Di tengah gejolak geopolitik dan persaingan rantai pasok global, mineral strategis kini menjadi salah satu kunci untuk memperkuat ketahanan energi, industrialisasi, hingga kemandirian ekonomi nasional.

Isu strategis tersebut menjadi bahasan utama dalam audiensi Dewan Pertahanan Nasional (DPN) dengan Mining Industry Indonesia (MIND ID) di Gedung The Energy, SCBD, Jakarta, Rabu (16/9/2026), seperti dikutip dari website DPN.

Audiensi dipimpin Deputi Geoekonomi DPN Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., sedangkan MIND ID diwakili Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Portofolio Kuswantoro Pranabudi, bersama jajaran manajemen.

Dalam pertemuan tersebut, MIND ID memaparkan posisi strategisnya sebagai holding industri pertambangan milik negara yang mengelola sejumlah komoditas penting, mulai dari nikel, bauksit, aluminium, tembaga, emas, batu bara hingga timah.

Komoditas-komoditas tersebut semakin penting karena menjadi bahan baku bagi berbagai sektor masa depan. Mulai dari hilirisasi dan industrialisasi, elektrifikasi, pengembangan energi baru terbarukan, hingga pembangunan ekosistem kendaraan listrik.

MIND ID juga memaparkan arah pengembangan perusahaan melalui visi “MIND ID for Indonesia and the World”. Strategi tersebut mencakup penguatan eksplorasi, produksi, hilirisasi, hingga pembangunan rantai pasok industri.

Langkah itu diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri, tetapi juga memastikan Indonesia mampu mengambil posisi lebih kuat dalam rantai pasok mineral global.

Pembahasan semakin mengerucut pada tantangan ketahanan energi nasional di tengah perubahan geopolitik dunia.

Dinamika geopolitik, volatilitas harga komoditas dan energi global, serta ketergantungan terhadap impor dinilai dapat memberikan efek berantai terhadap biaya energi, logistik, industri, inflasi hingga beban subsidi.

Karena itu, penguatan industri pertambangan dan hilirisasi dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan agenda ketahanan nasional.

Tidak berhenti pada kebutuhan industri konvensional, pengelolaan mineral strategis juga diarahkan untuk menopang ekosistem teknologi masa depan seperti elektrifikasi, battery energy storage system (BESS), kendaraan listrik dan infrastruktur kelistrikan.

Salah satu isu yang turut menjadi perhatian adalah pengembangan logam tanah jarang (LTJ).

Pengembangan LTJ membutuhkan dukungan pemetaan dan data potensi nasional yang kuat. Dengan basis data yang lebih komprehensif, potensi mineral strategis tersebut dapat diidentifikasi, dikelola dan dikembangkan secara lebih optimal untuk kepentingan nasional.

DPN mengapresiasi keterbukaan MIND ID dalam menyampaikan perkembangan, peluang sekaligus tantangan yang dihadapi industri pertambangan nasional.

Sejumlah isu strategis yang muncul dalam audiensi akan menjadi bahan pembahasan dan koordinasi lebih lanjut. Di antaranya tata kelola mineral, hilirisasi emas, pengembangan LTJ, penataan pertambangan rakyat, serta kontribusi sektor pertambangan terhadap ketahanan energi nasional.

Bagi DPN, penghimpunan informasi dari pelaku industri menjadi bagian penting dalam penyusunan kajian geoekonomi.

Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan dalam memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada Presiden terkait isu-isu strategis yang menyangkut sumber daya alam, ekonomi, energi dan kepentingan nasional.

Melalui audiensi ini, DPN dan MIND ID memperkuat ruang koordinasi untuk mendorong pengelolaan sumber daya mineral yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Sebab, di tengah perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik dunia, kekayaan mineral Indonesia tidak hanya dituntut menghasilkan penerimaan ekonomi. Lebih jauh, mineral strategis harus mampu menjadi fondasi nilai tambah industri, ketahanan energi, kemandirian ekonomi, serta penguatan pertahanan dan kedaulatan nasional.