Mahasiswa ITPLN Kenalkan Konsep Urban Mining, Jadikan Perkotaan Lahan Tambang Baru Mineral

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Institut Teknologi PLN (ITPLN) mencatat prestasi mahasiswa di tingkat nasional. Mahasiswa ITPLN, Septia Maqrifah dan Rintan Nimas Mutiara, berhasil meraih Juara 3 Mining Innovation Research and Academic Competition (MINERVA) 2026 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HIMATA) Universitas Jember.

Prestasi tersebut diraih Septia melalui gagasan PRISMA (Primary & Secondary Mineral Integration Framework), sebuah kerangka kerja yang menawarkan perubahan cara pandang terhadap industri pertambangan. Gagasan itu tidak lagi menempatkan pertambangan semata sebagai aktivitas ekstraksi komoditas, melainkan sebagai bagian dari ekosistem penyediaan material berkelanjutan untuk mendukung transisi energi.

Septia mengatakan ketertarikannya mengikuti MINERVA 2026 bermula dari informasi yang diperolehnya melalui media sosial Instagram. Setelah membaca informasi awal, ia kemudian mempelajari ketentuan kompetisi melalui guidebook yang disediakan panitia.

“Saat membaca tema From the Earth, to the Earth: Mining the Path to a Sustainable Future, awalnya saya merasa kompetisi ini kurang relevan dengan jurusan saya, Teknik Sistem Energi,” ujar Septia saat berbincang, Selasa, 15 September 2026.

Pandangan itu berubah setelah Septia mencermati subtema kompetisi. Salah satunya membahas energi terbarukan. Dari sana, ia melihat adanya ruang untuk menghubungkan perspektif transisi energi dengan sektor pertambangan.

“Saya merasa tertantang dan ingin mencobanya. Ketika pertama mengetahui kompetisi ini, saya merasa ini merupakan kesempatan yang bagus,” ucapnya.

Karya PRISMA kemudian dikembangkan selama kurang lebih satu bulan. Septia dan tim berangkat dari persoalan yang muncul dalam agenda transisi energi. Peralihan dari energi fosil menuju energi bersih, menurut dia, bukan berarti menghilangkan ketergantungan terhadap sumber daya alam.

Sebaliknya, ketergantungan tersebut dapat bergeser dari bahan bakar fosil menuju mineral yang dibutuhkan berbagai teknologi energi bersih. Panel surya, misalnya, membutuhkan material berbasis silikon, sementara baterai kendaraan listrik membutuhkan mineral seperti lithium.

“Transisi energi ternyata membawa perpindahan ketergantungan, dari energi fosil menjadi energi mineral. Teknologi-teknologi transisi energi membutuhkan berbagai mineral,” kata Septia.

Dari persoalan itu, PRISMA menawarkan pendekatan integrasi antara mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer merupakan material yang diperoleh melalui aktivitas pertambangan, sedangkan mineral sekunder dapat berasal dari limbah elektronik atau e-waste.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkenalkan konsep urban mining, yakni melihat kawasan perkotaan sebagai sumber material yang dapat dimanfaatkan kembali. Limbah elektronik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan dapat diposisikan sebagai sumber bahan baku sekunder.

“PRISMA menggabungkan pemanfaatan mineral primer yang ditambang dari dalam bumi dengan mineral sekunder yang berasal dari e-waste. Jadi, kami tidak hanya melihat bumi sebagai sumber mineral, tetapi juga perkotaan sebagai ‘lahan tambang’ baru melalui konsep urban mining,” tutur Septia.

Menurut dia, pendekatan tersebut membuat gagasan PRISMA relevan dengan konsep future mining. Pertambangan masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada pengambilan mineral dari bumi, tetapi perlu menjadi bagian dari sistem penyediaan material yang lebih sirkular.

Integrasi mineral primer dan sekunder memungkinkan kebutuhan material untuk teknologi transisi energi dipenuhi dari lebih dari satu sumber. Pada saat yang sama, pemanfaatan mineral sekunder dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap penambangan primer dan memberi nilai tambah terhadap limbah elektronik.

“Pendekatan inilah yang mencerminkan pertambangan masa depan: lebih sirkular, adaptif terhadap kebutuhan teknologi, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” kata Septia.

Kompetisi MINERVA 2026 memiliki sejumlah tahapan. Peserta terlebih dahulu mengirimkan esai ilmiah lengkap beserta persyaratan administrasi. Panitia kemudian memilih lima besar finalis untuk melanjutkan kompetisi.

Finalis terpilih diwajibkan menyusun poster dan menyiapkan materi presentasi. Poster diunggah melalui akun Instagram @minervahimata.unej untuk dinilai, sedangkan presentasi menjadi tahapan final. Seluruh rangkaian kompetisi dilaksanakan secara daring.

Septia mengatakan pengalaman mengikuti kompetisi tersebut memberikan ruang baginya untuk mengembangkan gagasan lintas disiplin. Latar belakang Teknik Sistem Energi justru membantunya melihat persoalan pertambangan dari sudut pandang kebutuhan material dalam transisi energi.

Dalam konteks Indonesia, Septia melihat konsep PRISMA memiliki peluang untuk dikembangkan. Indonesia memiliki kekayaan mineral primer sekaligus potensi mineral sekunder yang berasal dari limbah elektronik yang terus bertambah.

Implementasinya, kata dia, dapat dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi antara perusahaan pertambangan, industri pengolahan mineral, industri daur ulang, pemerintah, dan masyarakat.

Perusahaan pertambangan tidak harus langsung mengubah seluruh model bisnis. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan pengolahan mineral sekunder ke dalam rantai pasok material yang telah berjalan.

Dengan pendekatan tersebut, industri pertambangan Indonesia tetap dapat memainkan peran dalam memenuhi kebutuhan material transisi energi, sembari bergerak menuju sistem pertambangan yang lebih sirkular dan berkelanjutan.

Rintan Nimas Mutiara, yang turut mendampingi proses pengembangan gagasan dan kompetisi, mengatakan capaian tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan gagasan inovasi mahasiswa.

Menurut Rintan, keberhasilan meraih Juara 3 MINERVA 2026 bukan hanya tentang hasil akhir kompetisi, tetapi juga proses mengolah persoalan energi dan pertambangan menjadi gagasan yang memiliki relevansi terhadap kebutuhan masa depan. Gagasan tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-7, yakni Affordable and Clean Energy atau Energi Bersih dan Terjangkau dalam mendukung percepatan transisi menuju sistem energi yang berkelanjutan.

Prestasi Septia dan Rintan di MINERVA 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa gagasan mengenai transisi energi dapat dikembangkan dari berbagai disiplin keilmuan. Di tangan mahasiswa, pertambangan tidak lagi sekadar soal apa yang diambil dari bumi, tetapi juga bagaimana material dapat dikelola sepanjang siklus hidupnya agar lebih berkelanjutan.