Manisnya Kemandirian: Cerita Janda dan Lansia KWT Rosella Merajut Asa di Balik Greenhouse

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Sanga sanga, Kaltim, ruangenergi.com-Di tengah teriknya musim kemarau yang melanda Kelurahan Sarijaya, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara, sebuah greenhouse justru memancarkan kehidupan yang rimbun. Di dalamnya, buah-buah melon berbentuk sempurna bergelantungan dengan rapi, menunggu waktu untuk dipetik.

Pemandangan pada Jumat (9/10/2026) lalu ini bukan sekadar tentang keberhasilan panen biasa, melainkan buah dari ketangguhan belasan perempuan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosella dalam menaklukkan kerasnya tantangan alam.

Jauh sebelum aroma manis melon varietas The Blues, Sweety Lavender, dan Honey Globe ini memenuhi udara, KWT Rosella telah melewati fase jatuh bangun yang panjang. Berdiri sejak tahun 2013, kelompok ini awalnya bertani secara konvensional di lahan terbuka. Banjir yang kerap merendam kebun dan serangan hama yang ganas sering kali berujung pada gagal panen. Keterbatasan lahan dan cuaca yang tak menentu membuat aktivitas mereka sempat mati suri.

Titik balik itu tiba pada tahun 2025 ketika PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field hadir membawa inovasi melalui Program Lingkungan Hidroponik (POLIPONIK). Bagi ke-15 anggota KWT Rosella yang seluruhnya adalah perempuan, termasuk tiga orang lanjut usia dan tiga orang janda, teknik menanam tanpa tanah ini adalah dunia yang sepenuhnya asing. Namun, pendampingan intensif mengubah keraguan menjadi keterampilan. Mereka berhasil merampungkan dua siklus panen sayuran hidroponik dengan sangat baik.

Memasuki tahun 2026, tantangan baru muncul bersamaan dengan musim kemarau. Di sinilah KWT Rosella membuktikan adaptabilitas mereka dengan beralih membudidayakan komoditas yang bernilai lebih tinggi dan lebih tahan banting: melon premium.

“Kami sangat terbantu dengan pendampingan ini. Di tengah kemarau yang membuat sayuran hidroponik layu, melon justru dapat bertahan sehingga pemasukan kelompok tetap terjaga,” ungkap Ketua KWT Rosella dengan nada penuh syukur.

Kerja keras mereka berbuah manis. Pada panen perdananya, greenhouse KWT Rosella menghasilkan 128 buah melon dengan tingkat keberhasilan luar biasa mencapai 95 persen. Setiap buah tumbuh optimal dengan berat rata-rata 1,7 kilogram. Lebih hebatnya lagi, para ibu ini tidak gagap teknologi dalam memasarkan produknya. Memanfaatkan sistem open pre-order melalui media sosial, sekitar 75 persen hasil panen telah ludes terjual bahkan sebelum matahari beranjak tinggi pada hari perayaan panen.

Head of Communication, Relations & CID Zona 9, Dharma Saputra, melihat capaian ini lebih dari sekadar angka penjualan.

“Keberhasilan KWT Rosella dalam menjaga panen hingga 95 persen di tengah tantangan iklim adalah bukti bahwa integrasi teknologi hidroponik dapat menjadi motor penggerak bagi ketahanan pangan yang berkelanjutan dan inklusif,” tuturnya saat menghadiri panen raya tersebut.

Apresiasi senada juga mengalir dari Camat Sangasanga, Sudarmadi, yang melihat langsung bagaimana pendampingan dari PEP Sangasanga Field telah secara nyata memajukan taraf hidup warganya.

Kini, greenhouse di Kelurahan Sarijaya itu bukan lagi sekadar tempat menanam, melainkan ruang berdaya bagi para perempuan. Dari lahan yang dulunya rawan tenggelam oleh banjir, KWT Rosella kini berhasil memanen kemandirian ekonomi, membuktikan bahwa dengan inovasi yang tepat, rintangan iklim pun bisa diubah menjadi peluang yang berbuah manis.