Menembus Batas Bumi: Jurus Pertamina Siapkan Insinyur Lokal Buru Migas Nonkonvensional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di balik sumur-sumur minyak dan gas bumi (migas) konvensional yang kian menua, perut bumi Indonesia rupanya masih menyimpan harta karun tersembunyi. Jauh menembus lapisan batuan induk (source rock) di kedalaman tanah, terbentang potensi migas nonkonvensional (unconventional hydrocarbon) yang siap menjadi babak baru ketahanan energi nasional.

Membuka tabir potensi tersebut tentu menuntut keahlian pengeboran ekstrem. Sadar bahwa modal utama bukan sekadar mesin canggih, PT Pertamina (Persero) tancap gas menggembleng insinyur-insinyur terbaiknya agar mampu merancang sumur nonkonvensional secara mandiri.

Langkah konkret ini diwujudkan lewat pelatihan intensif Extended-Reach Drilling (ERD) Well Design for Unconventional Well yang berlangsung pada 5–16 Oktober 2026 di Millennium Centennial Center, Jakarta. Sebanyak 24 perwira terpilih dari PT Pertamina (Persero), PHE Subholding Upstream, Pertamina Hulu Rokan (PHR), Pertamina EP, Pertamina EP Cepu, hingga SKK Migas berkumpul mengasah keahlian navigasi bawah tanah tingkat lanjut.

Program strategis ini digawangi oleh Pertamina Corporate University (PCU), PHE, dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) lewat Indonesia Drilling Training Center (IDTC), menggandeng mitra teknis kelas dunia, Blade Energy Partners.

Bagi Pertamina, prinsip kesiapan operasi tak bisa ditawar: kompetensi harus matang sebelum mata bor pertama menyentuh tanah.

“Ketika kita memiliki rencana untuk mengembangkan program pengeboran, kuncinya adalah manusia. Kita tidak bisa mengembangkan kompetensi setelah program dimulai. Kompetensi teknis harus dibangun sebelum program tersebut berjalan,” tegas VP Learning Development PT Pertamina (Persero), Yulius S. Bulo.

Yulius menambahkan, jaminan kapabilitas teknis (technical capability assurance) adalah fondasi mutlak agar perseroan mampu mengoperasikan aset berisiko tinggi secara aman, efisien, sekaligus menjawab lanskap teknologi migas yang makin rumit. Ia bahkan mematok target agar para peserta tak sekadar menjadi pelaksana, melainkan menjelma jadi subject matter expert yang ilmunya diperhitungkan di kancah Asia Tenggara.

Peluang migas nonkonvensional sejatinya bukan mitos. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Argentina, Tiongkok, hingga Australia telah membuktikan lonjakan produksi migas mereka lewat inovasi teknologi pengeboran horizontal dan completion modern.

VP Drilling & Well Intervention PHE, Fata Yunus, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh ketinggalan kereta, apalagi sekadar menjadi pasar teknologi luar negeri.

“Di bawah zona konvensional, kita masih memiliki source rock unconventional. Kita harus mengeksplorasi dan memanfaatkan seluruh potensi minyak dan gas tersebut,” terang Fata.

Menurutnya, kedaulatan energi hanya bisa diraih bila ekosistem pendukungnya lahir dari tangan sendiri. Penguasaan desain pengeboran, penentuan material, hingga operasional harus dipahami menyeluruh agar ketergantungan terhadap teknologi impor perlahan terpangkas.

“Jangan hanya mengimpor teknologi. Kita harus membangun kapabilitas lokal dan ekosistem industri di Indonesia,” tegasnya.

Sinergi antara PCU, PHE, dan Pertamina Drilling melalui IDTC ini menandai babak awal pergeseran peta eksplorasi energi nasional. Dengan SDM yang siap menjangkau lapisan terdalam bumi, Indonesia kian mantap menatap era baru pemanfaatan migas nonkonvensional.