Jurus Jitu PHSS Taklukkan Pasir di Lapangan Nilam, Dongkrak Produksi Sumur N-317L Lebih dari Dua Kali Lipat

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp
Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com– Mengelola lapangan migas tua (mature field) selalu menuntut kelihaian dan inovasi tanpa henti. Salah satu momok teknis yang kerap mengadang adalah serbuan pasir dari perut bumi yang ikut tersedot bersama minyak mentah. Namun, tantangan klasik ini berhasil dijinakkan oleh PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) di Sumur N-317L, Lapangan Nilam, Wilayah Kerja (WK) Sanga Sanga, Kalimantan Timur.
Lewat implementasi teknologi bertajuk surface desander, anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 9 Regional Kalimantan ini sukses melipatgandakan produksi minyak sumur tersebut hingga lebih dari 100 persen. Dari semula hanya mengalirkan rata-rata 72 barel minyak per hari (BOPD), kini sumur N-317L melesat menyentuh angka 159 BOPD.
Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi upaya menahan laju penurunan alamiah (natural decline) di lapangan-lapangan yang sudah berumur. Pasalnya, fenomena sand production bukan perkara remeh; butiran pasir yang naik ke permukaan berisiko mengikis pipa, menyumbat katup, hingga merusak fasilitas produksi utama jika tidak ditangani secara presisi.
Manager PHSS Field, Teddy Indrawan, menegaskan bahwa penerapan teknologi ini menjadi momentum penting dalam menjaga denyut produksi di blok migas yang sarat sejarah tersebut.
“Kami menerapkan inovasi dan teknologi sebagai langkah strategis Perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, serta mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan, khususnya WK Sanga Sanga,” ujar Teddy.
Secara teknis, prinsip kerja surface desander terbilang ringkas namun berdampak masif. Perangkat ini memanfaatkan pusaran gaya sentrifugal untuk memilah material fluida. Partikel pasir yang memiliki massa jenis lebih berat langsung terlempar, mengendap, dan terkumpul di ruang penampung, sementara aliran minyak dan gas terus meluncur bebas menuju sistem pengolahan berikutnya.
Teddy mengungkapkan, sebelum teknologi ini dipasang, laju alir Sumur N-317L terpaksa ditahan agar abrasi pasir tidak merusak fasilitas permukaan, kendati perangkat penyaring bawah permukaan (sand screen) sudah dipasang. Melalui kajian mendalam terhadap karakteristik reservoir dan dinamika fluida, surface desander akhirnya diputuskan menjadi solusi pamungkas.
Dari hasil evaluasi di lapangan, alat ini mampu menjaring sekitar 5 hingga 7 kilogram pasir setiap harinya tanpa memicu kendala integritas maupun keausan pada fasilitas produksi. Pasir yang terkumpul pun dikelola dan dibuang sesuai dengan standar prosedur lingkungan yang ketat.
“Keberhasilan penerapan surface desander di sumur N-317L menjadi dasar bagi upaya optimalisasi produksi sumur-sumur migas yang sangat penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional, terutama dari Wilayah Kerja Sanga Sanga,” tutur Teddy optimistis.
Langkah taktis PHSS ini menegaskan komitmen Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah naungan SKK Migas tersebut untuk terus memeras potensi terbaik dari aset-aset matang, memastikan pasokan energi negeri tetap terjaga secara selamat, andal, dan efisien.