METI Ungkap, Pandemi Covid-19 Momentum Kembangkan EBT


Jakarta, Ruangenergi.com – Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI) menyebut, Pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Ketua Umum METI, Surya Dharma, mengatakan, Pandemi Covid-19 telah menurunkan emisi karbon akibat mobilitas masyarakat yang berkurang. Untuk itu, Pemerintah diminta untuk mempercepat pembangunan EBT, hal tersebut juga sejalan visi pemerintah yang akan meningkat bauran EBT sebesar 23 persen hingga 2025 mendatang.

Menurutnya, jika kesempatan tersebut tidak segera dimanfaatkan, transisi energi bersih akan sulit terlaksana.

Selain itu, dalam perjanjian Paris, Indonesia berkomitmen untuk m‎enurunkan emisi karbon sebesar 29 persen.

Ia mengungkapkan, salah satu cara untuk menurunkan emisi yakni dengan mengkaji kembali proyek setrum 35.000 MW (Megawatt), karena disaat kondisi seperti ini banyak perusahaan yang mengajukan penundaan.

“Proyek 35.000 MW dilanjutkan semuanya atau ada perlu yang ditahan sesuai perkembangan Covid-19. Mungkin bisa dilanjutkan dan renegosiasi ulang atau benar benar beralih ke pembangkit EBT,” terang Surya, saat memberi paparan dalam sebuah diskusi online, (14/08).

Ia menyebutkan, tantangan dalam membangun pembangkit EBT di Tanah Air, salah satunya yakni serapan listrik yang dihasilkan yang akan dijual ke PT PLN (Persero), tidak semenarik PLTU.

BACA JUGA  Pengembang Panas Bumi Meminta Pemerintah Indonesia Membiarkan Investor

Pasalnya, pada kontrak listrik dari pembangkit EBT menggunakan skema take and pay. Sementara, pada PLTU kontrak listriknya menggunakan skema take or pay (TOP), sehingga PLN lebih memilih menggunakan pembangkit yang sumber dari energi fosil alias batu bara, karena sangat menarik.

“Kontrak EBT tidak menggunakan sistem TOP, tapi take and pay. Untuk itu, perlu kebersamaan untuk kita selesaikan ini,” terangnya.

Sebagai informasi, potensi pembangkit EBT di Tanah Air sendiri mencapai 417,8 GigaWatt (GW).

Energi gelombang laut potensinya 17,9 GW, pemanfaatan masih 0 GW; Panas Bumi berpotensi sebesar 23,9 GW, pemanfaatan baru sekitar 2.130,7 MW (8,9 persen).

Bio energi sebesar 32,6 GW, pemanfaatan baru sekitar 1.895,7 MW (5,8 persen); energi Bayu berpotensi sekitar 60,6 GW, pemanfaatan baru sekitar 154,3 MW (0,25 persen).

Energi hidro potensi sebesar 75 GW, pemanfaatan baru sekitar 6.078,4 MW (8,1 persen); energi Surya 207,8 GW, pemanfaatan sebesar 150,2 MWp (0.02 persen).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *