MIND ID Kembangkan Ekosistem Baterai EV di Karawang, Dorong Hilirisasi Mineral

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com — MIND ID terus mendorong peningkatan nilai tambah mineral nasional melalui pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Karawang.

Upaya ini dilakukan untuk memperkuat peran sektor industri dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya mineral strategis Indonesia seperti nikel, kobalt, mangan, hingga tembaga.

Fasilitas produksi baterai tersebut dikelola oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery, perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation—anggota Grup MIND ID—dengan konsorsium global Contemporary Amperex Technology Co Limited, Brunp, dan Lygend melalui CBL International Development Pte Ltd.

Pabrik ini akan memproduksi sel baterai dan battery pack untuk kendaraan listrik serta Battery Energy Storage System (BESS) dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun. Kapasitas tersebut direncanakan meningkat hingga sekitar 15 GWh pada fase berikutnya.

Kunjungan kerja dilakukan oleh Komisi XII DPR RI untuk memastikan kesiapan industri baterai nasional dalam mendukung transisi energi.

Ketua Tim Kunjungan Kerja, Putri Zulkifli Hasan, mengatakan transformasi menuju energi bersih dan ekonomi rendah karbon merupakan agenda strategis nasional.

“Melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok terintegrasi dari sektor hulu pertambangan hingga hilir industri manufaktur baterai,” kata Putri.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyampaikan bahwa fasilitas produksi baterai di Karawang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal III tahun ini.

Menurut dia, fasilitas tersebut akan memproduksi baterai lithium-ion dengan dua jenis kimia utama, yaitu NMC (nickel manganese cobalt) dan LFP (lithium ferro phosphate), yang dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik.

Ia menambahkan, pasar baterai LFP di Indonesia sudah terbentuk, sementara baterai NMC masih dalam tahap pengembangan.

Berdasarkan data IBC, penggunaan baterai NMC di tingkat global telah mencapai sekitar 40 persen. Namun, di Indonesia masih sekitar 4 persen.

Sementara itu, data GAIKINDO menunjukkan penjualan mobil listrik nasional masih didominasi baterai LFP.

IBC menyatakan akan terus mendorong penguatan pasar domestik kendaraan listrik berbasis baterai nikel guna meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.