Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Hilirisasi Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pengolahan sumber daya alam menjadi komoditas setengah jadi. Industri kimia dinilai memiliki posisi strategis karena mampu menjadi penggerak berbagai sektor sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza melalui unggahan di media sosial pribadinya. Ia menyoroti semakin pentingnya peran BUMN, termasuk Pertamina Group, dalam membangun industri kimia nasional sebagai bagian dari strategi hilirisasi.
Menurut Oki, mandat BUMN sebagaimana diatur dalam UU No. 1 Tahun 2025 maupun UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN tidak semata-mata berkaitan dengan ketahanan energi. BUMN juga memiliki peran sebagai katalis pertumbuhan sektor-sektor strategis yang memberikan multiplier effect bagi perekonomian.
“Kimia yang menggerakkan ekonomi: industri kimia nasional sebagai urat nadi hilirisasi Indonesia,” demikian tema yang diangkat Oki dalam unggahannya.
Salah satu contoh konkret yang disoroti adalah penyelesaian ekspansi pabrik Neopentyl Glycol (NPG) di PT Petro Oxo Nusantara (PON), bagian dari Pertamina Group.

Pabrik tersebut disebut menjadi pabrik NPG pertama di Indonesia sekaligus Asia Tenggara, dengan kapasitas mencapai 30.000 ton per tahun.
Produk NPG memiliki peran penting bagi industri hilir, khususnya industri coating dan cat nasional. Bahkan, pengembangan produk tersebut membuka peluang pemanfaatan lebih lanjut untuk industri farmasi dan kosmetik.
Oki menjelaskan, kekuatan industri kimia terletak pada efek bergandanya. Satu jenis bahan kimia dasar dapat menjadi input bagi berbagai industri sekaligus.
Mulai dari plastik, cat, tekstil, kemasan, farmasi hingga produk perawatan tubuh, semuanya membutuhkan bahan baku kimia.
Dampak tersebut kemudian menyebar ke dua arah.
Pertama, integrasi ke hulu atau backward integration. Tumbuhnya industri kimia menciptakan permintaan terhadap bahan baku seperti gas alam. Pada tahap berikutnya, kondisi ini dapat mendorong investasi di sektor energi dan petrokimia hulu.
Kedua, integrasi ke hilir. Ketersediaan bahan baku kimia di dalam negeri yang lebih terjangkau dan andal dapat memperkuat industri plastik, tekstil, otomotif, konstruksi hingga kemasan.
“Setiap ton bahan kimia dasar yang diproduksi di dalam negeri mengurangi kebutuhan devisa untuk impor,” kata Oki dalam unggahannya.
Artinya, pembangunan industri kimia tidak hanya berbicara mengenai kapasitas produksi pabrik, tetapi juga menyangkut upaya memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Multiplier effect industri kimia juga terlihat dari penciptaan lapangan kerja.
Menurut Oki, dampaknya tidak berhenti pada tenaga kerja yang bekerja langsung di dalam pabrik. Ada lapangan kerja tidak langsung yang tumbuh melalui sektor logistik, konstruksi, jasa pemeliharaan hingga pemasok lokal.
Di luar itu, muncul pula lapangan kerja turunan atau induced employment di berbagai industri hilir yang menggunakan produk kimia sebagai bahan baku.
Dengan demikian, satu investasi di industri kimia berpotensi menciptakan mata rantai ekonomi yang jauh lebih panjang.
Oki juga menempatkan industri oxo alkohol dan turunannya sebagai salah satu fondasi penting bagi pengembangan industri hilir.
Salah satu contohnya adalah 2-Ethylhexanol (2-EH). Senyawa tersebut menjadi gambaran bagaimana industri kimia dasar dapat menjadi bahan baku bagi beragam produk dan industri di hilir.
Pandangan Oki ini sejalan dengan posisi industri kimia dasar dalam rantai industri nasional, yang mencakup bahan kimia berbasis minyak bumi dan gas alam serta berbagai produk turunannya.
Bagi Pertamina, penguatan industri kimia juga memperluas peran perusahaan dari sekadar penyedia energi menjadi bagian dari ekosistem industri dan hilirisasi. Sebelumnya, Oki juga menegaskan pentingnya pengembangan industri kimia berbasis teknologi dan ekonomi sirkular, termasuk melalui kerja sama Pertamina dengan LanzaTech untuk mengembangkan teknologi waste to fuel.
Pesan besarnya: hilirisasi bukan hanya soal mengolah bahan mentah. Ketika industri kimia tumbuh, rantai ekonomi ikut bergerak—dari hulu, pabrik, logistik, hingga ribuan industri di hilir.

