Bandung, Jawa Barat, ruangenergi.com-Di sebuah workshop sederhana di kawasan Cibaduyut, Bandung, deru mesin jahit berpadu dengan suara gunting yang memotong lembaran kain tebal berwarna biru dan oranye. Sekilas, material itu tampak seperti kain biasa. Namun siapa sangka, lembaran tersebut dulunya adalah safety coverall—seragam pelindung yang menemani para pekerja hulu minyak dan gas bumi saat bertugas di tengah panasnya rig pengeboran hingga kerasnya lingkungan operasi migas.
Kini, pakaian kerja yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya memperoleh kehidupan baru. Bukan lagi sebagai limbah industri, melainkan menjelma menjadi sepasang sepatu ramah lingkungan yang siap digunakan kembali.
Transformasi inilah yang menjadi simbol perubahan cara pandang industri hulu migas Indonesia terhadap keberlanjutan. Di balik setiap helai kain yang didaur ulang, tersimpan pesan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi juga dari keberanian mengubah sesuatu yang dianggap tak lagi bernilai menjadi produk yang bermanfaat.
Komitmen tersebut diperlihatkan melalui kunjungan Sekretaris SKK Migas Luky A. Yusgiantoro bersama sejumlah pimpinan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ke Workshop UBUKI (Untuk Bumi Kita) di Cibaduyut, Bandung.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Kehadiran para pemimpin industri hulu migas menjadi bukti bahwa upaya menerapkan prinsip ekonomi sirkular kini semakin nyata di lingkungan operasi migas nasional.
Program tersebut merupakan bagian dari gerakan RE:ACTION (Responsible Action, Sustainable Reaction) yang diinisiasi SKK Migas sebagai strategi mendorong operasional hulu migas yang lebih ramah lingkungan. Salah satu pilar utamanya adalah RE:COVER, sebuah inisiatif yang mengajak seluruh KKKS mendonasikan safety coverall yang sudah tidak digunakan untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai tinggi.
Untuk mewujudkannya, SKK Migas menggandeng UBUKI yang memiliki keahlian dalam mengolah limbah tekstil industri, serta Pijak Bumi, merek sepatu asal Bandung yang dikenal mengusung konsep sustainable fashion.
Di tangan para pengrajin, coverall bekas melewati serangkaian proses yang teliti. Material dipilah, dibersihkan, dipotong, hingga dirangkai menjadi bagian-bagian sepatu dengan tetap memperhatikan standar kualitas, keamanan, dan keberlanjutan. Seluruh proses tersebut memastikan bahwa material yang sebelumnya dikategorikan sebagai limbah padat memperoleh fungsi baru tanpa mengorbankan aspek lingkungan.
Bagi SKK Migas, pendekatan ini menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan limbah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan inovasi dan kolaborasi, limbah justru dapat menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi jejak lingkungan industri.
Kunjungan ke Workshop UBUKI juga menjadi kesempatan bagi Sekretaris SKK Migas bersama para pimpinan KKKS untuk melihat langsung bagaimana rantai pasok ekonomi sirkular bekerja dari awal hingga akhir. Mereka memastikan setiap tahapan, mulai dari penerimaan donasi coverall, proses pemilahan, pencucian, pemotongan kain, hingga perakitan menjadi sepatu, dilakukan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Dalam kunjungan tersebut turut hadir perwakilan sejumlah KKKS, antara lain PT Pertamina EP, Medco E&P Indonesia, PetroChina International Jabung Ltd., EMP Bentu Ltd., serta Petronas Carigali (PC) Ketapang II Ltd. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat keberlanjutan kini menjadi agenda bersama seluruh pelaku industri hulu migas.
Lebih jauh, RE:COVER tidak hanya ditujukan untuk mengurangi volume limbah tekstil industri. Program ini juga diharapkan mampu membangun budaya baru di sektor energi, bahwa inovasi lingkungan dapat tumbuh dari kolaborasi lintas sektor—antara pemerintah, perusahaan migas, pelaku usaha kreatif, hingga masyarakat.
Pada akhirnya, setiap langkah yang diambil melalui program ini menjadi pengingat bahwa transisi menuju industri energi yang berkelanjutan bukan hanya berbicara tentang teknologi rendah emisi atau energi baru. Ia juga dimulai dari keputusan sederhana untuk memberi kesempatan kedua kepada material yang pernah dianggap usang.
Dari ladang migas hingga bengkel sepatu di Cibaduyut, perjalanan sebuah coverall bekas menjadi simbol bahwa keberlanjutan bukan sekadar slogan. Ia hadir dalam tindakan nyata, menjahit kembali hubungan antara industri, kreativitas, dan kepedulian terhadap bumi yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.


