Operasi Raksasa Dimulai, Pertamina Petakan Potensi Migas Laut Sulawesi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang resmi memulai proyek Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo di perairan Sulawesi Barat.

Informasi yang diperoleh ruangenergi.com, proyek eksplorasi laut dalam ini menjadi bagian penting dari strategi nasional mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 BSCFD pada 2030.

Kick Off Meeting digelar di Balikpapan pada 22 Mei 2026, menandai dimulainya salah satu survei seismik laut terdalam dan paling kompleks yang saat ini dikerjakan Pertamina di wilayah terbuka Indonesia.  

Berada di South Kutai Basin dengan luas area mencapai 2.500 kilometer persegi, survei ini akan menyasar kedalaman laut antara 900 hingga 2.300 meter. Target bawah permukaan yang dibidik berada pada kedalaman 2.000–3.500 milidetik, kawasan yang diyakini menyimpan potensi hidrokarbon baru.  

“Tujuan utama survei ini adalah memperoleh gambaran struktur bawah permukaan yang lebih detail untuk meningkatkan peluang penemuan cadangan migas baru,” demikian dijelaskan dalam paparan proyek.  

Operasi akuisisi data dilakukan menggunakan kapal seismik HYSY 721 milik COSL berbendera Panama. Kapal sepanjang lebih dari 107 meter itu membawa teknologi broadband marine streamer dengan konfigurasi 10 streamer masing-masing sepanjang 10 kilometer.  

Dengan bentangan kabel bawah laut mencapai 100 kilometer, kapal ini ibarat “laboratorium terapung” yang mampu memetakan struktur geologi laut dalam secara presisi tinggi.

Aktivitas recording dijadwalkan mulai 2 Juni 2026 dan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Sebelum itu, kapal HYSY 721 telah berlayar dari China dan tiba di Indonesia pada 20 Mei 2026.  

Survei 3D Kandawulo bukan proyek tunggal. Kegiatan ini merupakan kelanjutan roadmap Komitmen Kerja Pasti (KKP) Jambi Merang yang sebelumnya telah melaksanakan berbagai survei seismik di Indonesia, mulai dari Bone-Tukang Besi, Buton, hingga Bone-Seram.  

Pemerintah dan SKK Migas mendorong eksplorasi wilayah terbuka sebagai “game changer” untuk menemukan potensi migas baru, terutama di kawasan timur Indonesia yang masih minim data bawah permukaan.

Beroperasi di laut lepas tentu bukan tanpa tantangan. Dalam dokumen HSSE proyek, terdapat lima risiko utama yang menjadi perhatian: kecelakaan personel di laut, aktivitas bunkering, tekanan tinggi peralatan, man overboard, hingga alat seismik tersangkut rumpon nelayan.  

Karena itu, pengamanan proyek melibatkan banyak pihak, mulai dari TNI AL, Polairud, DKP Sulawesi Barat, hingga nelayan lokal. Pertamina juga telah melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan komunitas nelayan di Mamuju sejak April–Mei 2026.  

Menariknya, proyek ini juga mencatat adanya pemutusan 124 rumpon di area survei demi menjaga keamanan operasi. Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan dan sistem digital “Smart”.

Di tengah tren penurunan produksi migas nasional, eksplorasi seperti Kandawulo menjadi harapan baru. Data seismik 3D yang dihasilkan nantinya akan menjadi “peta harta karun” bagi industri hulu migas untuk menentukan titik pengeboran prospektif.

Jika berhasil menemukan cadangan baru, proyek ini dapat menjadi salah satu tulang punggung pasokan energi nasional di masa depan.

Paparan proyek terdapat dalam dokumen presentasi Kick Off Meeting Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo.