‘Paten!’ Respons Djoko Siswanto Saat ExxonMobil Hidupkan Lagi Sumur Idle Banyu Urip

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Kabar menggembirakan datang dari lapangan Banyu Urip, Cepu. Sumur yang sebelumnya berstatus shut-in atau tidak berproduksi, A-10, kini kembali mengalirkan minyak.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan, sumur idle A-10 Banyu Urip berhasil dihidupkan kembali dengan tambahan produksi sekitar 4.500 barel minyak per hari (BOPD).

“Alhamdulillah, Sumur Idle A-10 Banyu Urip bisa berproduksi lagi 4.500 BOPD. Terima kasih atas doa bapak ibu, Aamiin YRA,” kata Djoko, Rabu (9/9/2026).

Keberhasilan tersebut menjadi kabar baik di tengah upaya pemerintah dan pelaku usaha hulu migas menjaga serta meningkatkan produksi nasional.

Informasi mengenai keberhasilan menghidupkan kembali A-10 sebelumnya disampaikan oleh Wade Floyd, President ExxonMobil Indonesia, kepada Djoko Siswanto.

Dalam pesannya pada Rabu pagi, Wade menyebut keberhasilan tersebut dicapai melalui kombinasi formulasi GWSO dan teknologi new straddle packer.

Teknologi straddle packer tersebut disebut sebagai teknologi baru yang sebelumnya belum pernah diterapkan di Indonesia.

“Good news this morning. We restored shut-in well A10 in Cepu with the GWSO formulation and a new straddle packer technology that we had not applied before in Indonesia,” ujar Wade.

Sumur tersebut kemudian kembali dioperasikan pada Selasa (8/9/2026). Saat laporan disampaikan, sumur A-10 telah mengalir dengan tambahan produksi bersih lapangan sekitar 4,5 ribu barel per hari.

Wade mengatakan tim masih akan melakukan optimalisasi produksi sepanjang hari.

Djoko menyambut positif keberhasilan tersebut. Ia bahkan mengungkapkan pandangannya sejak awal bahwa penggunaan bahan kimia saja dinilai tidak akan mampu menjadi solusi jangka panjang.

Menurut Djoko, teknologi packer memiliki keunggulan karena mampu menghadapi kondisi temperatur dan tekanan tinggi di dalam sumur.

“Since the beginning I told you that chemical cannot work long time, packer more better because very tough fight with temperature and pressure,” balas Djoko kepada Wade.

Keberhasilan A-10 menunjukkan bagaimana kombinasi inovasi teknologi, pengalaman teknis, dan kerja sama antara operator dengan regulator dapat membuka kembali potensi produksi dari sumur yang sebelumnya tidak berproduksi.

Tambahan sekitar 4.500 BOPD dari satu sumur tentu bukan angka kecil. Di tengah tantangan mempertahankan produksi minyak nasional, setiap sumur yang kembali berproduksi menjadi kontribusi penting untuk menjaga pasokan energi dalam negeri.

Bagi SKK Migas, keberhasilan ini juga menjadi contoh bahwa sumur-sumur yang sempat shut-in masih memiliki peluang untuk dioptimalkan dengan pendekatan teknologi yang tepat.

Bisa. Bisa. Bisa.

Semangat tersebut kini mendapat bukti nyata dari Banyu Urip: sumur A-10 yang sebelumnya idle kembali berproduksi.