Pemanfaatan Rare Earth Masih Dalam Kajian

Jakarta, Ruangenergi.com – PT Timah Tbk, mengaku masih melakukan berbagai kajian terkait harta karun Tanah Air yakni Rare Earth Element (elemen tanah jarang /REE) sebelum memanfaatkan.

Sekertaris Perusahaan PT Timah, Muhammad Zulkarnaen Dharmawi, mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan kajian terhadap potensi dan pemanfaatan logam tanah jarang.

“Masih dalam tahap kajian,” tuturnya saat dihubungi ruangenergi.com, Minggu, (13/09).

Ketika ditanyakan mengenai lokasi untuk melakukan pengembangan terhadap element tanah jarang dan potensi yang tersimpan serta kapan akan direalisasikannya, pihaknya belum dapat memastikan berapa potensi yang dapat dimanfaatkan diwilayah tersebut.

“Untuk lokasi di Bangka dan realisasinya masih menunggu analisa FS (Feasibility Study),” imbuhnya.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh, Bidang Program dan Kerja Sama – Pusat Sumber Daya Geologi, Sabtanto Joko Suprapto, pada tahun 2008 lalu, mengemukakan bahwa penggunaan logam tanah jarang memicu berkembangnya teknologi material baru.

Perkembangan material ini banyak diaplikasikan di dalam industri untuk meningkatkan kualitas produk. Posisi tanah jarang pada masa datang yang semakin strategis tersebut perlu diupayakan untuk dapat dikembangkan secara berkelanjutan mengingat Indonesia mempunyai sumber daya yang potensial untuk diusahakan.

Di Indonesia mineral mengandung unsur tanah jarang terdapat sebagai mineral ikutan pada komoditas utama terutama emas dan timah aluvial yang mempunyai peluang untuk diusahakan sebagai produk sampingan yang dapat memberikan nilai tambah dari seluruh potensi bahan galian.

Potensi endapan emas aluvial tersebut relatif melimpah dapat dijumpai tersebar di sebagian pulau-pulau besar di Indonesia.

Sedangkan pada Jalur Timah Asia Tenggara yang mengandung sebagian besar sumber daya timah dunia melewati wilayah Indonesia mulai dari Kepulauan Karimun, Singkep sampai Bangka dan Belitung merupakan potensi strategis yang dapat memberikan kontribusi besar kepada pembangunan nasional.

BACA JUGA  PERTAMA DI INDONESIA, PT PERTAMINA TRANS KONTINENTAL KONVERSI PENGGUNAAN BAHAN BAKAR KAPAL

Penggunaan logam tanah jarang sangat luas dan erat kaitannya dengan produk industri teknologi tinggi, seperti industri komputer, telekomunikasi, nuklir, dan ruang angkasa. Di masa mendatang diperkirakan penggunaan tanah jarang akan meluas, terutama unsur tanah jarang tunggal, seperti neodymium, samarium, europium, gadolinium, dan yttrium.

Potensi besar yang dapat dihasilkan dari komoditas unsur/logam tanah jarang khususnya dalam jangka panjang dimana teknologi terus berkembang pesat, memerlukan ketersediaan bahan tersebut.

Oleh karena itu pengelolaannya memerlukan berbagai pertimbangan yang tidak semata-mata keekonomian semata. Peluang jangka panjang dan untuk pemenuhan bahan industri teknologi tinggi yang akan dikembangkan di Indonesia, maka produk sampingan berupa mineral-mineral
mengandung logam/unsur tanah jarang tersebut dapat dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan nasional, yang disimpan untuk alternatif

Sebagaimana diketahui, PT Timah bersama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), saat ini tengah melakukan studi pengembangan dan mengkaji berbagai hal terkait dengan REE termasuk nilai keekonomian.

Dapat dikatakan, Indonesia masih berada di tahap awal pengembangan REE ini. Pasalnya, REE merupakan salah satu komponen penting untuk pembuatan senjata, tidak hanya itu, kebutuhan akan timah sangat permintaan dunia, telepon genggam yang kita pakai sehari-hari pun juga mengandung bahan baku timah (baterai).

Belum lagi, baterai untuk kendaraan berlistrik. Memang, saat ini masih impor akan tetapi, kedepan Indonesia pasti bisa memproduksinya sendiri untuk kebutuhan masyarakatnya.

Untuk itu, mengapa Indonesia ingin mengembangkan potensi harta karun tanah jarang, sebab, sepanjang sejarah negeri ini tidak memiliki peta rantai pasokan yang jelas untuk tambang mineral. Kemudian juga, banyak komoditas diekspor secara mentah tanpa mendapat nilai tambah.

Nyatanya, jika komoditas mentah tersebut diolah dari bijih mentah lalu sampai barang jadi, tentunya hal ini akan meningkatkan nilai tambah yang menghasilkan banyak keuntungan untuk bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *