Ilustrasi limbah B3

Pemerintah akan buang Limbah Tailing bekas tambang di Laut Dalam

Jakarta, Ruangenergi.com –  Pemerintah merencanakan untuk membuang tailing atau sisa hasil proses pengolahan dari material batuan yang mengandung logam dan nikel, melalui proyek pembuangan limbah nikel ke laut dalam (Deep Sea Tailing Placement).

Pembuangan limbah nikel untuk pabrik proyek hidrometalurgi itu disebut bakal menambah laju perusakan ruang hidup masyarakat pesisir dan pulau kecil yang selama ini telah hancur oleh industri ekstraktif, tak terkecuali merusak lingkungan.

Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP)101 tahun 2014 tentang  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ditetapkan sebagai aturan pelaksanaan UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 59 ayat (7). Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya.

“Tailing berdasarkan PP 101/2014 masuk dalam kategori limbah B3, yang dalam pengaturannya dapat ditempatkan di laut dengan metode sub marine tailing placement,” jelas Lana kepada Ruangenergi.com, (03/09).

Ia menambahkan, sebelum melakukan pembuangan tailing tersebut, tentunya sudah harus melakukan serangkaian uji toksisitas.

“Tentunya, pada saat akan ditempatkan sudah melalui uji toksisitas bahwa tailing yang akan ditempatkan tidak mengandung toksisitas melebihi dari standar yang diperbolehkan,” jelasnya.

“Penempatan tailing tersebut dipastikan pada area yang sudah tidak ada lagi flora fauna laut yang hidup (sudah tidak ada cahaya matahari), sehingga aktifitas tersebut tidak memberi dampak terhadap biologi laut,” tandasnya.

Sebagai informasi, saat ini terdapat empat perusahaan yang telah dan tengah meminta rekomendasi pemanfaatan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) untuk pembuangan limbah nikel ke laut dalam di wilayah kepulauan di Indonesia timur.

BACA JUGA  Cegah Corona, Antam Buka Layanan Transaksi Daring

Perusahaan tersebut di antaranya, PT Trimegah Bangun Persada di Pulau Obi, Maluku Utara dan PT QMB New Energy Material, PT Sulawesi Cahaya Mineral serta PT Huayue Nickel Cobalt di Morowali, Sulawesi Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *