Pertamina dan Amerika Serikat Sepakat Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Washington D.C, USA, ruangenergi.com-PT Pertamina (Persero) semakin agresif memperkuat diplomasi energi global. Dalam pertemuan dengan Departemen Energi Amerika Serikat (U.S. Department of Energy/DOE) di Washington D.C., Kamis (8/5/2026), Pertamina membahas penguatan pasokan energi, kerja sama teknologi migas, hingga pengembangan infrastruktur strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Pertemuan ini menjadi tindak lanjut arahan Presiden usai kunjungan kerja ke Amerika Serikat pada Februari 2026, sekaligus menandai semakin eratnya hubungan energi Indonesia–Amerika Serikat di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.

Delegasi Pertamina dipimpin Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza bersama Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita. Dari pihak DOE hadir Deputy Assistant Secretary for Asia and the Americas Elizabeth Urbanas, Deputy Assistant Secretary for International Cooperation Aleshia Duncan, serta Director of Asian Affairs Margaux Murali.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai isu strategis, mulai dari keamanan pasokan energi, perdagangan energi jangka panjang, pengembangan teknologi migas, hingga peluang eksplorasi migas non konvensional.

Oki Muraza menegaskan bahwa Amerika Serikat kini menjadi salah satu mitra energi paling penting bagi Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di Asia Pasifik. Karena itu, kebutuhan akan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan menjadi sangat penting,” ujar Oki.

Ia menyebut, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan Amerika Serikat, baik dalam aspek pasokan energi maupun transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sektor energi nasional.

Saat ini, Amerika Serikat menjadi pemasok utama LPG Indonesia. Lebih dari 70 persen impor LPG nasional berasal dari negeri tersebut dengan volume mencapai lebih dari 5 juta metrik ton sepanjang 2025.

Untuk menjaga kepastian pasokan sekaligus mengurangi risiko fluktuasi harga global, Pertamina mendorong skema kerja sama jangka panjang atau long-term contract (LTC) dengan produsen dan eksportir energi asal Amerika Serikat.

Tak hanya LPG, Pertamina juga terus menjajaki peningkatan impor minyak mentah dari AS, khususnya jenis light sweet crude seperti West Texas Intermediate (WTI). Peluang ini dinilai semakin terbuka seiring pengembangan kapasitas kilang nasional melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP).

Menariknya, pembahasan juga menyentuh isu strategis yang selama ini jarang muncul ke publik: pengembangan cadangan minyak strategis nasional atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).

Pertamina dan DOE berdiskusi mengenai peluang knowledge sharing terkait pengelolaan SPR dan pembangunan infrastruktur penyimpanan energi untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan global maupun gejolak geopolitik dunia.

Selain perdagangan energi, Pertamina juga mendorong kolaborasi lebih luas dengan perusahaan-perusahaan energi Amerika Serikat dalam pengembangan migas non konvensional di Indonesia.

Potensi kerja sama mencakup transfer teknologi, proyek percontohan (pilot project), investasi sektor hulu, pengembangan sumber daya manusia, hingga teknologi pengeboran dan completion.

Pertamina juga membuka peluang kolaborasi pengembangan digital oilfield, reservoir optimization, dan advanced drilling technology guna meningkatkan produksi migas nasional yang terus menghadapi tantangan penurunan alamiah lapangan tua.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengatakan momentum kerja sama ini menjadi langkah penting untuk memperkuat fondasi ketahanan energi nasional di masa depan.

“Pertamina memandang kerja sama ini sebagai peluang mempercepat pengembangan teknologi migas, meningkatkan kapasitas SDM, serta membuka akses investasi yang mendukung kemandirian dan keberlanjutan energi nasional,” ujar Arya.

Di tengah dinamika geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan energi domestik, penguatan hubungan energi Indonesia–Amerika Serikat dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan keamanan pasokan energi nasional tetap terjaga.