ASEAN Kompak Hadapi Krisis Global, Indonesia Dorong Diversifikasi Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com-Solidaritas negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations atau ASEAN kembali diuji di tengah ketidakpastian geopolitik global. Namun, di balik ancaman krisis energi dunia, negara-negara ASEAN justru memperkuat barisan untuk membangun ketahanan energi kawasan yang lebih tangguh dan mandiri.

Komitmen itu mengemuka dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, Jumat (8/5/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia hadir mendampingi Presiden RI Prabowo Subianto untuk memastikan stabilitas dan keamanan energi nasional tetap terjaga melalui strategi diversifikasi energi.

Di tengah gejolak pasokan energi global akibat konflik geopolitik, fluktuasi harga minyak, hingga ancaman gangguan rantai pasok internasional, Indonesia menilai diversifikasi energi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

“Kondisi energi global saat ini sedang tidak menentu. Kita harus lakukan diversifikasi energi, agar ketika satu sumber energi sulit didapat, kita masih punya sumber energi yang lain,” ujar Bahlil di sela-sela KTT ASEAN.

Menurut Bahlil, Indonesia berada dalam posisi strategis karena memiliki cadangan sumber energi alternatif yang melimpah, mulai dari energi surya, bioenergi, panas bumi, hingga kendaraan listrik berbasis energi bersih. Kekayaan energi tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menopang stabilitas kawasan ASEAN.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah mempercepat berbagai program transisi energi. Di antaranya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt, peningkatan mandatori biodiesel menuju B50, hingga percepatan penggunaan kendaraan listrik nasional.

Langkah tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo yang dalam forum pleno KTT ASEAN menegaskan bahwa negara-negara Asia Tenggara harus bersiap menghadapi kemungkinan gangguan energi berkepanjangan.

Menurut Presiden, ketahanan energi kawasan tidak bisa dibangun dengan pendekatan reaktif semata. ASEAN, kata dia, harus bergerak lebih cepat membangun sistem energi masa depan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan global.

“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin ASEAN.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia ingin memainkan peran sentral dalam arsitektur energi baru ASEAN. Tidak hanya menjaga kepentingan nasional, tetapi juga memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi ancaman krisis energi global.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, ASEAN tampaknya mulai menyadari satu hal penting: ketahanan energi bukan hanya soal pasokan listrik dan bahan bakar, melainkan juga soal solidaritas kawasan, kemandirian ekonomi, dan masa depan bersama Asia Tenggara.