Pertamina NRE Dorong Ekosistem Energi Surya, Pertumbuhan Pasar Jadi Penentu Investasi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Galang, Kepri, ruangenergi.com – Masa depan industri panel surya nasional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manufaktur, tetapi terutama oleh seberapa besar pasar yang mampu diciptakan di dalam negeri. Inilah pesan utama yang disampaikan Direktur Proyek & Operasi Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), Norman Ginting.

Menurut Norman, pembangunan proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara masif akan menjadi katalis utama yang menciptakan permintaan (demand) bagi industri panel surya nasional. Ketika permintaan tumbuh, industri manufaktur dalam negeri akan berkembang secara alami.

“Ketika proyek-proyek ini dibangun, otomatis akan menciptakan demand. Peluang pasar akan terbuka sehingga industri pabrikan solar panel di dalam negeri memiliki pasar yang selama ini mereka tunggu,” ujar Norman.

Ia mengungkapkan, saat ini masih terdapat sejumlah produsen panel surya dalam negeri yang belum mampu beroperasi secara optimal karena pasar domestik belum berkembang sesuai harapan.

“Beberapa industri solar panel operasionalnya belum maksimal karena masih menunggu pasar yang benar-benar siap,” katanya.

Norman menilai Indonesia justru memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem industri surya nasional karena kebutuhan energi bersih diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, Pertamina NRE belum menjadikan akuisisi pabrik panel surya sebagai prioritas. Fokus perusahaan saat ini adalah membangun ekosistem dan memperbesar permintaan terlebih dahulu.

“Kuncinya adalah pertumbuhan pasar. Kalau pasar sudah terbentuk, industri dalam negeri pasti akan ikut terbentuk dan berkembang,” tegasnya.

Meski demikian, Pertamina NRE tetap melanjutkan strategi kerja sama dengan salah satu pabrikan panel surya terbesar di dunia sebagai bagian dari penguatan rantai pasok teknologi energi surya.

Norman menambahkan bahwa setiap keputusan bisnis, termasuk kemungkinan akuisisi di masa mendatang, akan sangat bergantung pada perkembangan pasar nasional.

Norman menjelaskan, pembangunan PLTS yang dilakukan Pertamina NRE bukan hanya menghadirkan listrik ramah lingkungan, tetapi juga dirancang sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan.

Melalui proyek percontohan (pilot project) PLTS berbasis baterai, masyarakat yang selama ini mengandalkan genset berbahan bakar minyak kini dapat menikmati listrik selama 24 jam.

“Listrik ini membantu aktivitas masyarakat. Anak-anak bisa belajar pada malam hari, rumah tangga mendapat penerangan, bahkan kebutuhan sederhana seperti memasak nasi menjadi lebih mudah,” ujarnya.

Tidak berhenti pada penyediaan listrik, Pertamina NRE juga membangun fasilitas pembuat es (ice maker) untuk mendukung aktivitas nelayan.

Selama ini nelayan harus membeli es dari daerah lain dengan harga lebih mahal dan kualitas yang menurun akibat perjalanan distribusi. Kini kebutuhan tersebut tersedia langsung di lokasi sehingga kualitas ikan hasil tangkapan dapat terjaga.

Inovasi lain yang tengah disiapkan Pertamina NRE adalah konsep green charging bagi kapal nelayan berbasis baterai listrik.

Dengan model ini, nelayan dapat menerapkan pola one day fishing—berangkat melaut pada pagi hari, kembali sore hari, lalu mengisi ulang baterai kapal pada malam hari.

Selain memangkas biaya operasional, sistem tersebut juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak yang harganya fluktuatif.

“Dengan biaya operasional yang lebih murah dan kualitas ikan yang lebih baik, hasil tangkapan nelayan bisa meningkat baik dari sisi volume maupun nilai jual, termasuk untuk pasar ekspor,” jelas Norman.

Norman menegaskan proyek PLTS di kawasan Batam merupakan pilot project yang disiapkan untuk direplikasi ke berbagai pulau lain di Indonesia.

Menurutnya, hampir seluruh wilayah kepulauan Indonesia memiliki potensi energi matahari yang sangat besar sehingga model pembangunan tersebut dapat diterapkan secara luas.

Ia menyebut inisiatif tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden yang menargetkan pembangunan PLTS di ribuan desa sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.

Sebagai BUMN, kata Norman, Pertamina memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar mengejar keuntungan.

“Peran Pertamina bukan hanya komersial, tetapi bagaimana menghadirkan energi bersih yang dapat dirasakan seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terluar Indonesia. Itulah kontribusi nyata kami dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” pungkasnya.