Industri Panel Surya Nasional Siap Mendukung Program 100 GW

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Batam, Kepri, ruangenergi.com-Optimisme terhadap kemampuan industri panel surya nasional terus menguat.

Pelaksana Tugas Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia sekaligus Direktur Proyek & Operasi Pertamina New & Renewable Energy, Norman Ginting, menegaskan Indonesia kini tidak lagi hanya memiliki pasar energi yang besar, tetapi juga telah memiliki kapasitas manufaktur yang siap mendukung percepatan transisi energi nasional.

Menurut Norman, kemampuan industri dalam negeri sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan persepsi yang berkembang saat ini. Apabila pemerintah memberikan penugasan, industri lokal diyakini mampu memenuhi kebutuhan pembangunan panel surya hingga 10 gigawatt (GW).

“Yang terpenting adalah memastikan industri dalam negeri bergerak bersama. Kalau negara menugaskan pembangunan 10 GW, kapasitas itu bisa dibagi kepada beberapa produsen lokal sehingga seluruh ekosistem industri ikut tumbuh,” kata Norman kepada ruangenergi.com di Batam, Kepri, Senin (06/07/2026).

Norman menilai pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) harus dipandang sebagai strategi membangun ekosistem industri nasional. Sebab, setiap proyek PLTS akan menggerakkan rantai pasok dalam negeri, mulai dari industri aluminium, kaca, komponen kelistrikan, hingga sektor konstruksi dan logistik.

Menurutnya, investasi di sektor energi surya akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang besar bagi perekonomian nasional. Dengan target pengembangan mencapai 100 GW dalam jangka panjang, nilai ekonomi yang tercipta diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar Amerika Serikat, sekaligus membuka peluang lahirnya industri manufaktur energi bersih yang semakin kompetitif.

Sebagai Direktur Proyek & Operasi Pertamina NRE, Norman juga menilai Indonesia telah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mengembangkan proyek-proyek energi berskala besar.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi terletak pada kapasitas produksi industri nasional, melainkan bagaimana menciptakan kepastian permintaan (demand) sehingga produsen dalam negeri memiliki keberanian untuk terus memperluas investasinya.

Karena itu, ia mendorong percepatan pembangunan pusat data (data center) kawasan industri hijau, serta berbagai proyek yang membutuhkan pasokan listrik hijau. Kehadiran sektor-sektor tersebut diyakini akan menjadi motor penggerak permintaan energi bersih sekaligus memperkuat industri panel surya nasional.

Norman juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan nyata kepada produsen dalam negeri. Menurutnya, keberhasilan membangun industri panel surya nasional tidak hanya akan mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan industri pendukung, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok energi bersih global.

“Yang ingin kita buktikan adalah bahwa industri dalam negeri siap. Kompetensinya sudah ada, teknologinya tersedia, dan kapasitasnya bisa terus ditingkatkan. Sekarang tinggal bagaimana seluruh ekosistem bergerak bersama agar Indonesia menjadi pemain utama dalam industri energi surya,” tegas Norman.