PHE Bidik Asri Basin Jadi “Gudang Karbon” Asia, Gandeng Korea Selatan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Seoul, Korea Selatan, ruangenergi.com – Pertamina Hulu Energi (PHE) mulai membidik peluang yang lebih besar di balik teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon. Bukan sekadar proyek percontohan, PHE mendorong Asri Basin di lepas pantai Indonesia menjadi salah satu pusat penyimpanan karbon regional yang dapat melayani kebutuhan dekarbonisasi lintas negara.

Ambisi tersebut mengemuka dalam KCCUS Forum di Seoul, Korea Selatan, 15 September 2026. Direktur Investasi & Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, memaparkan strategi perusahaan dalam mengembangkan proyek Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dan Carbon Capture and Storage (CCS).

Dalam forum bertajuk “Implementing CCUS Projects: Visions, Capabilities, and Best Practices”, Dannif mengungkapkan bahwa PHE tidak ingin pengembangan CCS/CCUS berhenti pada proyek percontohan.

PHE saat ini telah menjalankan 10 program CCUS, dengan total injeksi mencapai 5.671 ton CO₂ ekuivalen.

Salah satu tonggak penting terjadi di Lapangan Sukowati. PHE telah menyelesaikan injeksi CO₂ pertama pada Desember 2023 dan kemudian melanjutkannya dengan studi uji coba interwell CO₂ Enhanced Oil Recovery (EOR) pada 2025.

Pengalaman tersebut menjadi pijakan PHE untuk melangkah ke proyek yang lebih besar.

Bersama ExxonMobil, PHE kini mengembangkan Asri CCS Hub, sebuah proyek CCS berskala regional yang dirancang dengan konsep rantai nilai terintegrasi.

Mulai dari pengangkutan Liquid CO₂ (LCO₂), terminal penerimaan, pipa lepas pantai, sumur injeksi, hingga fasilitas penyimpanan karbon dipersiapkan dalam satu ekosistem.

“Pendekatan kami sangat terencana, di mana kami menimba pengalaman operasional melalui pilot project sekaligus secara paralel mempersiapkan infrastruktur dan ekosistem yang dibutuhkan untuk pengembangan CCS/CCUS berskala lebih besar,” ujar Dannif.

Menurutnya, pengalaman dari proyek-proyek awal menjadi modal penting untuk memastikan proyek CCS skala besar tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga dapat dikembangkan secara komersial.

Peluang tersebut menjadi semakin besar karena Indonesia memiliki potensi penyimpanan CO₂ yang sangat besar.

Berdasarkan estimasi pemerintah yang dipaparkan PHE, potensi penyimpanan karbon Indonesia mencapai sekitar 578 gigaton CO₂, tersebar di sekitar 20 cekungan produktif.

Dari angka tersebut, Asri Basin diperkirakan memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 2,9 gigaton CO₂.

Posisi Asri Basin juga menjadi keunggulan tersendiri.

Cekungan tersebut berada di lepas pantai, relatif dekat dengan pusat-pusat emisi domestik, sekaligus memiliki akses pelayaran strategis. Kombinasi tersebut membuat Asri Basin dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai injection hub CO₂.

“Asri CCS Hub menggabungkan skala penyimpanan yang masif, lokasi strategis, serta konsep rantai transportasi dan penyimpanan yang lengkap,” kata Dannif.

Namun, ia menegaskan bahwa kapasitas penyimpanan saja tidak cukup.

“Tempat penyimpanan yang baik secara teknis juga harus layak secara komersial dan siap secara institusional. Kerangka regulasi pendukung di Indonesia telah tersedia, dan tugas kita bersama adalah mewujudkannya menjadi proyek yang dapat diimplementasikan serta bankable,” tegasnya.

Pengembangan Asri CCS Hub juga membuka peluang kerja sama baru antara Indonesia dan Korea Selatan.

PHE melihat potensi kolaborasi dengan berbagai pihak di Korea Selatan, mulai dari perusahaan penghasil emisi, perusahaan pelayaran, penyedia teknologi hingga investor.

Skemanya dapat membentuk rantai bisnis baru: karbon ditangkap dari sumber emisi, kemudian diangkut menggunakan kapal atau infrastruktur khusus menuju Indonesia untuk selanjutnya diinjeksi dan disimpan secara permanen di bawah permukaan bumi.

Dengan model tersebut, Asri Basin tidak hanya menjadi proyek penyimpanan karbon Indonesia, tetapi berpotensi berkembang menjadi platform penyimpanan karbon regional.

Dari sisi regulasi, Indonesia juga terus membangun fondasi untuk mendukung pengembangan bisnis CCS.

Sejak 2023, pemerintah telah menerbitkan sejumlah aturan, termasuk Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2023 dan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024 yang mengatur penyelenggaraan CCS, termasuk aspek cross-border.

Regulasi terkait nilai ekonomi karbon dan tata kelola unit karbon juga menjadi bagian dari ekosistem yang dibutuhkan untuk membangun pasar karbon.

Bagi PHE, kepastian regulasi menjadi salah satu faktor penting agar proyek CCS dapat bergerak dari tahap konsep menuju proyek komersial.

Dengan pengalaman pilot project, potensi penyimpanan yang besar, lokasi strategis, dukungan regulasi, serta peluang kerja sama internasional, Asri Basin kini diposisikan PHE sebagai salah satu kandidat penting dalam peta pengembangan CCS regional.

Jika ekosistem tersebut berhasil dibangun, bisnis karbon bisa membuka babak baru bagi industri hulu migas Indonesia: dari sekadar memproduksi hidrokarbon menjadi bagian dari rantai bisnis dekarbonisasi kawasan Asia.

PHE menyatakan akan terus mengembangkan bisnis hulu migas secara berkelanjutan dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan, integritas, serta pencegahan fraud.

RuangEnergi.com – Mengawal Energi Indonesia.