PHE Dorong Kolaborasi dan Insentif Fiskal demi Dongkrak Produksi Migas Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menegaskan bahwa masa depan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional sangat ditentukan oleh kekuatan kolaborasi, efisiensi investasi, serta dukungan regulasi yang adaptif. Pesan ini mengemuka dalam forum internasional Energy Council Jakarta 2026 yang menjadi ajang bertemunya para investor global dengan pelaku industri energi Indonesia.

Dalam forum bertajuk “Breaking Into Indonesia: What Investors Need To Know” yang digelar di Jakarta, Rabu (22/4/2026), Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Danusaputro, menekankan bahwa peningkatan produksi migas tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan konvensional semata. Efektivitas dan efisiensi menjadi kata kunci.

“Kolaborasi menjadi kunci. Kami terus menjajaki studi dan inisiatif eksplorasi bersama untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional,” ujar Dannif di hadapan para pelaku industri dan investor global.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal potensi cadangan, melainkan juga bagaimana memastikan proyek-proyek migas tetap ekonomis di tengah dinamika harga energi global. Banyak wilayah kerja yang masih membutuhkan investasi berkelanjutan, sehingga kehadiran insentif fiskal dari pemerintah menjadi faktor krusial untuk menjaga daya tarik investasi.

Sebagai operator dan kontraktor hulu migas, PHE disebut secara konsisten melakukan evaluasi terhadap kelayakan investasi dan ambang batas keekonomian proyek. Peran regulator, khususnya SKK Migas, juga dinilai strategis dalam menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Di sisi lain, PHE menghadapi realitas bahwa tidak semua aset yang dikelola memiliki tingkat keekonomian yang memadai dalam kondisi saat ini. Untuk itu, perusahaan membuka peluang kemitraan, baik dengan mitra lokal maupun internasional, terutama dalam pengelolaan aset marginal yang membutuhkan pendekatan teknologi dan skema investasi yang lebih inovatif.

Komitmen terhadap standar kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE) juga tetap menjadi prioritas utama. PHE secara aktif memperkuat kerja sama teknologi guna meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, eksplorasi tetap diposisikan sebagai tulang punggung pertumbuhan jangka panjang. Kolaborasi strategis dengan perusahaan internasional diyakini dapat membuka akses terhadap teknologi mutakhir dan transfer pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi migas Indonesia.

“Keputusan investasi harus selaras dengan strategi portofolio dan tujuan jangka panjang perusahaan. Kami berkomitmen menjaga keberlanjutan finansial sekaligus mendorong pertumbuhan,” tegas Dannif.

Sejalan dengan transformasi menuju perusahaan energi berkelanjutan, PHE juga memastikan seluruh operasionalnya mengacu pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Komitmen terhadap integritas bisnis ditegaskan melalui penerapan kebijakan Zero Tolerance on Bribery, termasuk implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.

Dengan strategi kolaboratif, efisiensi biaya, serta dukungan kebijakan yang tepat, PHE optimistis dapat terus memainkan peran kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menarik minat investor global ke sektor hulu migas Indonesia.