Setiap Barel Berarti: PHE Pacu Produksi Lewat Skema KSOT

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mensosialisasikan konsep Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT) dalam pengelolaan struktur dan area migas sebagai upaya meningkatkan produksi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi. Kegiatan ini juga menegaskan komitmen perusahaan terhadap penerapan aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) secara ketat.

KSOT menjadi strategi untuk mengoptimalkan potensi struktur idle dan temuan yang belum dikembangkan melalui kolaborasi dengan mitra dan penyedia teknologi. Program ini mengacu pada regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 serta SKK Migas melalui PTK No. 23 Tahun 2025.

Sebagai implementasi awal, PHE membuka kerja sama pengelolaan sumur idle yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Idle Wells Batch 1 serta Confidentiality Agreement untuk Batch 1 dan Batch 2 dengan calon mitra.

Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menyatakan KSOT merupakan instrumen penting untuk mendorong peningkatan produksi migas nasional dan mendukung kemandirian energi. Ia juga menegaskan bahwa seluruh proses bisnis harus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dengan HSSE sebagai prioritas utama.

Sementara itu, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, menekankan pentingnya setiap tambahan produksi migas dalam memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik global.

Komisaris Utama Pertamina, Mochammad Iriawan, menyebut tantangan utama sektor migas bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kemampuan mengonversi potensi menjadi produksi nyata dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan lingkungan.

Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Laode Sulaeman, menegaskan HSSE harus menjadi fondasi dalam setiap upaya peningkatan produksi. Hal senada disampaikan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, yang menekankan keselamatan sebagai prioritas utama dalam kegiatan hulu migas.

PHE juga mengumumkan rencana penawaran kerja sama pengelolaan 31 struktur idle dan undeveloped discovery yang tersebar di Regional 1 hingga Regional 4 dalam dua tahap (batch).

Melalui inisiatif ini, PHE berharap kolaborasi dengan mitra dapat meningkatkan produksi migas nasional secara signifikan dengan tetap menjaga keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.