Tak Masalah Jika Shell Hengkang dari Blok Masela

Jakarta, Ruangenergi.com – Pada awal Juli 2020, saat Indonesia masih disibukkan dengan Pandemi Covid-19, tiba-tiba muncul informasi kalau Shell Upstream Overseas Services Ltd yang memegang hak partisipasi 35 persen di Blok Masela berniat mundur dari blok tersebut dengan alasan karena sedang mengkaji portopolio investasi global, karena adanya tekanan keuangan akibat pandemi global.

Kendati Inpex yang memegang hak partisipasi 65 persen menyatakan tetap melanjutkan pengembangan Blok Masela, namun rencana Shell tersebut tentu saja memiliki dampak terhadap pengelolaan Blok Masela ke depan.

Namun mantan Deputi Perencanaan BPMIGAS, Haposan Napitupulu menyebutkan bahwa apa yang dilakukan pihak Shell tersebut tak perlu terlalu dirisaukan, karena keberadaan perusahaan migas asal Belanda itu dalam proyek lapangan gas abadi ini hanya sebagai mitra.

“Apa yang dilakukan Shell itu juga sesuatu yang lumrah dalam industri migas, dan hal seperti ini sudah pernah terjadi di sejumlah lapangan migas di tanah air. Kebetulan juga Shell ini hanya sebagai mitranya Inpex di Blok Masela, jadi tanpa mereka juga Inpex akan tetap jalan,” kata Haposan dalam webiner bertajuk “Shell Hengkang!! Mau Kemana Pengelolaan Blok Masela?” yang digelar Archipelago Solidarity Foundation, Selasa (11/8/2020).

Menurut dia, jika nanti Shell benar-benar hengkang pihak Inpex akan tetap melanjutkan proyek tersebut. Bahkan dirinya yakin cepat atau lambat perusahaan pengganti Shell akan segera hadir untuk bersama-sama Inpex sebagai operator utama mengembangkan blok gas abadi itu. “Saya optimis, jika nanti harga gas kembali ke harga keekonomiannya maka mitra pengganti Shell akan segera datang,” tukasnya.

BACA JUGA  Warga Denpasar Coba Pertalite yang Lebih Ramah Lingkungan

Sementara itu, pengamat Migas, Ridwan Nyak Baik mengatakn sinergitas antara pemerintah daerah dengan pihak kampus dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal sangat diperlukan.

“Belajar dari kasus PT Arun di Aceh, maka dalam proyek Masela ini, masyarakat lokal jangan sampai hanya jadi penonton saja. Adanya potensi proyek mundur menjadi kesempatan untuk mempersipkan SDM lokal,” paparnya.

Mantan Corporate & Strategic Communication Specialist di PT. Pertamina ini juga menyoroti soal optimalisasi pengolahan lahan pra konstruksi. “Perlu ada cetak biru perencanaan/pengembangan wilayah dan optimalisasi multiflyer effect basis sumber daya wilayah,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina mengungkapkan bahwa banyak SDM handal asal Maluku yang berada di luar negeri yang bisa diajak untuk membangun Maluku menggali sumber daya alamnya.

“Maluku punya banyak SDM bagus yang saat ini ada di berbagai negara dan sangat cukup untuk membangun sumber daya alam Maluku. Ayo mari bangkit bersama untuk membangun,” kata mantan anggota DPR ini bersemangat.

Engelina juga menyinggung soal bagaimana proses pindahnya Blok Masela dari sebelumnya di laut kemudian dipindahkan ke darat. Menurutnya, sejak tahun 2014 ia bersama teman-temannya berjuang ke pemerintah untuk memindahkan blok tersebut ke daratan.

“Sebab jika blok tersebut tetap berada di laut maka Maluku tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan berkat rahmat Tuhan Blok Masela akhirnya pindah ke darat. Ini kesempatan yang harus kita ambil, kesempatan yang tidak mungkin terulang lagi kalau tidak diperjuangkan,” pungkasnya.(SF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *