Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Upaya mempercepat produksi minyak nasional terus digenjot Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Salah satu terobosan yang kini mulai menunjukkan hasil adalah percepatan produksi sebelum adanya Plan of Development (POD), yang dikenal dengan skema Put On Production (POP).
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut kepada ruangenergi.com, Sabtu (22/8/2026). Ia menyebut percepatan produksi melalui sinergi SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kembali membuahkan hasil positif.
“Alhamdulillah, dalam rangka percepatan produksi, SKK Migas menerbitkan surat edaran kepada seluruh KKKS untuk mempercepat produksi, termasuk mempercepat produksi minyak sebelum ada POD, dikenal dengan POP (Put On Production),” ujar Djoko.
Hasilnya mulai terlihat dari Sumur P_KIRA24_01 (KIRA00003) di Lapangan Kirana. Pada pengujian produksi yang dilakukan 19 Agustus 2026, sumur tersebut mencatatkan well test 599 barel minyak per hari (BOPD).
Sumur itu menghasilkan total fluida sebesar 749 barel fluida per hari (BFPD) dengan water cut 21 persen. Pemboran Sumur Kirana menargetkan lapisan Pematang pada kedalaman 5.011 kaki measured depth (ftMD).
Capaian 599 BOPD tersebut menjadi penting karena pengembangan Lapangan Kirana dilakukan melalui skema percepatan berdasarkan Surat Edaran SKK Migas. Skema ini ditujukan untuk mempercepat eksekusi peluang produksi pada struktur yang belum memiliki POD tersendiri.
Menurut Djoko, koordinasi intensif antara PHR dan SKK Migas membuat peluang produksi di Kirana dapat dimatangkan dan dieksekusi lebih cepat, dengan tetap memenuhi aspek teknis maupun tata kelola yang berlaku.
“Pendekatan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara regulator dan KKKS dalam mempercepat monetisasi potensi hidrokarbon serta mendukung peningkatan produksi migas nasional,” katanya.
Hasil pemboran dan evaluasi Sumur KIRA00003 sebelumnya telah menunjukkan kualitas reservoir serta indikasi hidrokarbon yang menjanjikan. Potensi tersebut kemudian terkonfirmasi melalui pengujian produksi pada 19 Agustus 2026 dengan capaian 599 BOPD.
Keberhasilan sumur pertama ini sekaligus menjadi dasar teknis untuk melanjutkan evaluasi dan pengembangan potensi Lapangan Kirana berikutnya.
Bagi SKK Migas dan PHR, capaian tersebut juga menunjukkan bahwa masih terdapat struktur di Zona Rokan yang berpeluang dimonetisasi lebih cepat apabila proses pematangan dilakukan secara responsif dan didukung koordinasi kuat antarpemangku kepentingan.
Bukan Sekadar 599 BOPD
Djoko menegaskan, keberhasilan KIRA00003 bukan sekadar tambahan produksi 599 barel minyak per hari. Lebih dari itu, capaian tersebut menjadi bukti bahwa mekanisme percepatan melalui Surat Edaran SKK Migas dapat mengubah potensi hidrokarbon yang sebelumnya belum masuk POD menjadi produksi aktual.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperluas pendekatan serupa pada kandidat lapangan lainnya.
Dengan semakin cepatnya peluang produksi dieksekusi, kontribusi tambahan produksi diharapkan dapat memperkuat kinerja Zona Rokan sekaligus menopang peningkatan produksi minyak nasional.
Djoko pun berharap POD Lapangan Kirana dapat segera diselesaikan sehingga pengeboran sumur-sumur berikutnya dapat dilanjutkan.
“Mohon doa, POD dapat diselesaikan untuk menjalankan pengeboran sumur berikutnya. Aamiin YRA,” ujarnya.
Menutup laporannya, Djoko menyampaikan optimisme terhadap upaya bersama SKK Migas dan KKKS dalam meningkatkan produksi nasional.
“Bersama kita: Doa & BISA. Lifting naik: BISA, BISA, BISA!” tegasnya.

