Tren Industri Energi Dunia dan Penerapannya di Indonesia

Jakarta,Ruangenergi.com-Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) melalui Badan Semi Otonom (BSO) Ikastara Migas telah menggelar diskusi daring yang bertemakan “Menuju Transformasi Energi Indonesia: Mampukah Kita?” pada (Selasa, 28 Juli 2020).

Diskusi ini membahas mengenai upaya negara-negara di dunia dalam memenuhi kebutuhan energi mereka dan rekomendasi pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia. Selain berbicara mengenai kebutuhan energi, diskusi yang diselenggarakan secara virtual ini juga membahas upaya penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan nilai tambah di industri migas.


Turut hadir dalam diskusi tersebut sebagai pembicara adalah Hidayat Amir, Ph.D, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan, Dr. Oki Muraza, Asssociate Professor King Fahd University of Petroleum & Minerals Arab Saudi, juga Benny Lubiantara, ex Analyst OPEC dan Deputi Kajian Ikatan Ahli Teknologi Perminyakan Indonesia (IATMI). Webinar ini diliputi langsung oleh Ruangenergi.com sebagai media partner.

Acara tersebut dibuka oleh Hafif Assaf, Wakil Ketua Umum / Ketua Harian Pengurus Pusat Ikastara dan dimoderatori oleh Wisnu Jaluakbar, Ketua Ikastara Migas.

Dalam pembukaan diskusi, Hafif Assaf menyampaikan bahwa diskusi energi seperti ini akan sering dilakukan oleh Ikastara secara reguler, dengan tujuan agar masyarakat dan penggiat industri mendapatkan pemahaman tentang perkembangan dunia energi, dan kedepannya dapat
memberikan input atau feedback bagi pembuat kebijakan di sektor energi Indonesia.

Tren Industri Energi Dunia dan Penerapannya di Indonesia

Pada diskusi ini, Dr. Oki Muraza menyampaikan bahwa tren perusahaan migas dunia kini bergeser menjadi perusahaan energi atau menjadi perusahaan kimia, dengan mengintegrasikan industri hulu migas dengan hilir dan Petrokimia.

Oki juga menyoroti pentingnya integrasi Hulu – Hilir dalam Pengembangan Lapangan Masela agar tidak menjadi abandoned offshore gas project
seperti Natuna D-Alpha

“Saya merekomendasikan agar Gas Masela menjadi feedstock industri dalam negeri guna mengurangi impor BBM dan Petrokimia, hal ini akan memberikan multiplier effect dan energy
security” ujar Oki.

Senada dengan Oki, Benny Lubiantara menyampaikan bahwa perusahaan-perusahaan migas di Eropa, seperti BP, Shell, Eni, Repsol, Total mulai beralih ke bisnis low carbon.

Hal ini berdampak ke industri hulu migas yang menyebabkan semakin terbatasnya alokasi capital, karena investasinya dialokasikan ke low carbon. Ia menekankan adanya fleksibilitas kontrak migas, yakni
biarkan investor yang akan memilih.

BACA JUGA  Kejar Target Lifting Migas, SKK Migas-Medco dalami dua sumur di Natuna Blok B

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menarik investor, Hidayat Amir menekankan pentingnya ease of doing business dimana berbagai hambatan untuk berinvestasi harus diminimalisir. Selain itu Amir menyarankan agar split (bagi hasil migas) dilakukan dalam beberapa rentang mengikuti tingkat profit agar lebih fair, sehingga dapat lebih progresif dan menarik bagi
investor.

“Ketika masa-masa awal yang membutuhkan investasi tinggi, government take tidak terlalu
besar” ujar Amir.

Hal tersebut menurutnya menyebabkan sektor migas yang memiliki potensi
besar, menjadi kehilangan momentum untuk meningkatkan recovery dari produksi yang semakin menurun.

Dalam diskusi ini, Benny Lubiantara juga menyoroti mengenai usulan insentif untuk undeveloped discovery agar menjadi ekonomis dan dapat dikembangkan sehingga dapat mengurangi impor.

Serta bahwa cost recovery itu tidak semuanya jelek, karena terdapat juga komponen gaji karyawan dan pembayaran jasa pendukung di Indonesia. “Yang penting bagaimana uang dari cost recovery itu sebesar-besarnya beredar di Indonesia sehingga dapat membantu peningkatan
multiplier effect,” ujarnya.

Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

Dalam diskusi ini turut dibahas juga pengembangan EBT, dimana Oki Muraza menyampaikan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, yang memiliki produksi minyak maksimum hingga 12 juta BOPD, berusaha menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan mengembangkan
pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga angin.

Menurutnya, popularitas bahan bakar alternatif sangat ditentukan oleh Kebijakan Energi.

Hal ini senada dengan upaya negara-negara Eropa yang tidak memiliki cadangan migas untuk menciptakan pekerjaan melalui pengembangan EBT. Untuk mendorong pengembangan

Bioenergi di Indonesia

Oki menegaskan bahwa harga Bioenergi akan berkurang dengan
meningkatnya kemampuan teknologi. “Bahkan perusahaan renewable energy, Orsted, di wilayah Skandinavia kini valuation nya bernilai lebih tinggi dari perusahaan migas, ini merupakan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya” jelasnya.

Selain itu, untuk menciptakan pasar EBT yang fair, Hidayat Amir menyampaikan agar tidak melalui mekanisme subsidi, namun Fiskal menjadi instrument kebijakan untuk menjaga keseimbangan yang ada sehingga tercipta suasana yang kondusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *