Chrisnawan Anditya

Upaya Pemerintah Wujudkan Transisi Menuju EBT

Jakarta, Ruangenergi.com – Pemerintah terus mendorong pengembangan energi bersih melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% hingga 2025. Di mana hal tersebut tercantum dalam target bauran energi nasional dan sejalan dengan target pemerintah guna mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dalam diskusi “Bincang-Bincang METI”, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM, Chrisnawan Anditya, mengatakan komitmen nasional 2016-2030 dalam amanat Undang-Undang nomor 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris agreement yakni menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan kemampuan sendiri atau 41% dengan bantuan internasional pada 2030 sesuai NDC (National Determined Contribution).

Selain itu, pemerintah juga menargetkan pada sektor energi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 314 – 398 juta ton CO2 tahun 2030, melalui pengembangan energi terbarukan, pelaksanaan efisiensi energi, dan konservasi energi, serta penerapan teknologi energi bersih.

Kemudian, dalam komitmen nasional tahun 2021-2030, pemerintah akan melaksanakan aksi konkrit perubahan iklim melalui moratorium konversi hutan dan lahan gambut menurunkan kebakaran hutan hingga 82%.

Lalu, mendorong green development melalui pengembangan Green industrial Park seluas 12.500 ha di Kalimantan Utara. Serta membuka investasi terhadap transisi energi melalui pengembangan Biofuel, industri baterai lithium, dan kendaraan listrik.

“Dalam target NDC Indonesia, sektor energi memberikan kontribusi penurunan emisi GRK. Kami masih optimis bahwa angka 314 pengurangan emisi karbon dapat kita capai,” terang Chrisnawan secara virtual, Jumat (23/07).

Ia menuturkan, hal tersebut terlihat dari trend realisasi penurunan emisi karbon pada 2020 sebesar 64,4 juta ton CO2, lebih besar dari target yang dicanangkan yakni sebesar 58 juta ton CO2.

BACA JUGA  Kembali, Menteri ESDM Launching Program Patriot Energi

EBT

“Kontribusi masih kita harapkan dari EBT dengan realisasi di 2020 sebesar 34.291 juta ton CO2, efisiensi energi sebesar 12.968 juta ton CO2,bahan bakar rendah karbon sebesar 8.398 juta ton CO2, penggunaan teknologi pembangkit bersih sebesar 5.908 juta ton CO2, dan kegiatan lainnya sebesar 2.790 juta ton CO2, sehingga totalnya mencapai 64,4 juta ton CO2,” paparnya.

Ia melanjutkan, trend global terhadap pembangkit listrik yang bersumber dari energi baru terbarukan akan tumbuh pesat. Di mana dari 25% saat ini meningkat menjadi 50% pada tahun 2035, dan mendekati 75% pada tahun 2050.

Sementara, pembangkit yang bersumber dari energi fosil menurun drastis, sebab sebagian akan digantikan dengan energi terbarukan, dan sebagian oleh gas dengan biaya lebih rendah atau dengan bahan bakar emisi karbon yang lebih rendah.

Menurutnya, pembangkit gas seringkali bertindak sebagai penyedia beban dasar dan sebagian kapasitas dispatchable dalam sistem listrik dengan banyak energi terbarukan. Akan tetapi, tren tersebut akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2035 mendatang.

“Pada 2025 pemerintah sudah menargetkan penggunaan Renewable Energy sebesar 23%, dan angka tersebut naik menjadi 31% pada 2050. Meski masih adanya penggunaan energi fosil di dalam RUEN, alam tetapi porsinya berkurang drastis,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *