Wow Keren! Harita Nickel Buktikan Ketangguhan, Pendapatan Semester I Capai Rp17,1 Triliun

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah tekanan yang masih membayangi industri nikel global, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menunjukkan ketahanan bisnisnya. Sepanjang semester I 2026, perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi ini membukukan pendapatan sebesar Rp17,1 triliun, dengan tetap mengedepankan efisiensi operasional, optimalisasi rantai nilai, dan penguatan praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

Direktur Keuangan Harita Nickel, Suparsin Darmo Liwan, mengatakan tantangan industri nikel global belum mereda. Namun, perusahaan memilih memperkuat fundamental operasional agar tetap mampu menjaga kinerja dan menciptakan pertumbuhan jangka panjang.

“Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan penjualan di sejumlah segmen usaha,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Kinerja tersebut ditopang oleh disiplin pengelolaan biaya, peningkatan kapasitas produksi, serta mulai beroperasinya tambang baru PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025. Tambahan lini produksi di fasilitas pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS) juga memperkuat pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan integrasi operasi perusahaan. 

Pada bisnis pirometalurgi, penjualan feronikel mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu berkat meningkatnya output fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Sementara itu, penjualan produk hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) dipengaruhi oleh penjadwalan pengiriman

Tak hanya mengejar kinerja bisnis, Harita Nickel juga memperkuat komitmennya terhadap praktik pertambangan berkelanjutan. Perseroan menjadi perusahaan pertama di dunia yang secara terbuka mempublikasikan perkembangan Corrective Action Plan berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) sebagai bentuk transparansi kepada pemangku kepentingan. Selain itu, perusahaan melanjutkan sertifikasi dan audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) serta RMAP+ guna memenuhi tuntutan ketertelusuran rantai pasok global, termasuk regulasi baterai kendaraan listrik di Uni Eropa dan Tiongkok. 

Di bidang dekarbonisasi, Harita Nickel mempercepat pembangunan pembangkit listrik berbasis waste heat recovery berkapasitas hingga 50 MW yang memanfaatkan panas buang dari proses HPAL menjadi energi listrik. Fasilitas tersebut ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026. Bersamaan dengan itu, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 40 MW telah mencapai progres konstruksi 99%, sementara perusahaan juga bersiap mengadopsi bahan bakar B50 sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi karbon.

Menurut Suparsin, perusahaan akan terus menjaga disiplin operasional dan memaksimalkan kapasitas yang telah dibangun agar tetap kompetitif di tengah dinamika pasar.

“Langkah ini menjadi fondasi kami untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya. 

Harita Nickel merupakan bagian dari Harita Group yang mengoperasikan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perusahaan dikenal sebagai pionir pengolahan nikel limonit menggunakan teknologi HPAL, yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku penting industri baterai kendaraan listrik.