Tangerang – Pemerintah terus mempercepat langkah menuju industri migas yang lebih bersih dan efisien. Salah satu upaya nyatanya ditunjukkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Penilaian Tahap II Apresiasi Optimalisasi Pengelolaan Gas Suar Tahun 2026 yang digelar di Mercure Tangerang BSD City, Banten, pada 22–23 Juli 2026.
Ajang ini bukan sekadar kompetisi antarpelaku industri migas. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung bagi perusahaan-perusahaan migas untuk memamerkan inovasi dalam memanfaatkan gas suar (flare gas) yang selama ini kerap terbuang melalui proses pembakaran. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari komitmen Indonesia mewujudkan Zero Routine Flaring 2030, sekaligus mendukung efisiensi energi, menekan emisi gas rumah kaca, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Joko Hadi Wibowo, menegaskan bahwa keberhasilan mencapai target tersebut tidak mungkin dilakukan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi erat dengan seluruh pelaku industri migas.
“Indonesia telah menyatakan dukungannya terhadap inisiatif global Zero Routine Flaring pada 2030. Komitmen tersebut merupakan bagian dari upaya nasional untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Perjalanan menuju Zero Routine Flaring 2030 menunjukkan perkembangan yang semakin positif melalui berbagai inovasi yang dikembangkan oleh industri,” ujar Joko saat membuka kegiatan, dikutip dari website MIGAS.
Menurutnya, pemerintah terus memperkuat berbagai instrumen pendukung, mulai dari meningkatkan pengawasan pengelolaan gas suar, memfasilitasi kerja sama antara pemilik teknologi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) maupun Badan Usaha (BU) Pengolahan, hingga merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2021 agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Apresiasi ini sendiri merupakan amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pengelolaan Gas Suar pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi. Regulasi tersebut mengatur pemberian penghargaan secara berkala kepada KKKS maupun Badan Usaha Pengolahan yang berhasil menerapkan praktik terbaik dalam pengelolaan gas suar.
Persaingan tahun ini berlangsung cukup ketat. Dari 11 KKKS kategori hulu dan lima Badan Usaha kategori hilir yang mengikuti seleksi tahap awal pada 10 dan 14 Juli 2026, hanya lima peserta terbaik dari masing-masing kategori yang berhak melaju ke Penilaian Tahap II.
Untuk kategori hulu, peserta yang lolos terdiri atas PC Ketapang II Ltd (Bukit Tua Field), PT Pertamina Hulu Mahakam, PT Pertamina EP Tarakan Field, Pertamina EP Cepu Zona 11 Field Cepu, dan PT Medco E&P Malaka. Sementara kategori hilir diwakili PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan, PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Titis Sampurna, Badak NGL, dan Donggi Senoro LNG.
Seluruh peserta dinilai oleh tim independen yang terdiri dari unsur teknis Ditjen Migas, Inspektur Migas Madya, serta akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB). Penilaian tidak hanya melihat besarnya penurunan pembakaran gas suar selama 2025, tetapi juga menilai kualitas inovasi teknologi, manfaat ekonomi, dampak lingkungan dan sosial, strategi keberlanjutan, pengakuan eksternal, hingga kemampuan peserta mempresentasikan programnya.
Tahapan berikutnya, dua peserta terbaik dari masing-masing kategori akan menjalani verifikasi lapangan sebelum ditetapkan sebagai penerima penghargaan melalui rapat pleno tim penilai.
Lebih dari sekadar mencari pemenang, Ditjen Migas berharap ajang ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik terbaik sehingga inovasi pengelolaan gas suar dapat direplikasi lebih luas di seluruh industri migas nasional.
Di akhir sambutannya, Joko menyampaikan apresiasi kepada seluruh perusahaan migas yang terus berupaya mengurangi pembakaran gas suar.
“Terlepas dari hasil penilaian yang diperoleh, setiap upaya dalam mengurangi pembakaran gas suar merupakan kontribusi nyata dalam menurunkan emisi. Kami berharap kegiatan ini mampu mendorong tumbuhnya budaya inovasi dan continuous improvement. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, saya yakin target Zero Routine Flaring 2030 dapat kita capai bersama,” tutupnya.


