Yogyakarta, Jawa Tengah, ruangenergi.com-Inovasi bukan sekadar gagasan di atas kertas. Di industri hulu minyak dan gas bumi (migas) yang semakin kompetitif, inovasi harus mampu menghasilkan nilai nyata, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat daya saing perusahaan. Prinsip inilah yang terus didorong PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) melalui penyelenggaraan Innovation and Improvement Forum (IIF) 2026.
Forum yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Hotel Tentrem Yogyakarta ini mengusung tema “Driving Resilient Global Growth Through Innovation and Operational Excellence.” Sebanyak 38 gugus inovasi menampilkan karya terbaik mereka dengan dukungan 206 peserta yang hadir secara langsung, 14 juri, enam moderator, 17 anggota manajemen, dan lima tamu undangan.
Hasilnya cukup menggembirakan. Berdasarkan verifikasi dewan juri, program inovasi dan perbaikan berkelanjutan PIEP dalam IIF 2026 mencatatkan value creation sebesar US$197 juta, yang berasal dari pertumbuhan pendapatan (revenue growth) dan penghematan biaya (cost saving).
Angka tersebut memperlihatkan bahwa inovasi bukan hanya agenda untuk membangun budaya kreatif di lingkungan perusahaan, melainkan juga instrumen strategis untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat kinerja bisnis hulu migas di tingkat global.
Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha menegaskan, inovasi dan perbaikan berkelanjutan kini menjadi kebutuhan strategis di tengah dinamika industri energi dunia yang terus berubah.
Menurutnya, penghargaan yang diberikan dalam IIF bukanlah tujuan akhir. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana gagasan yang dihasilkan para pekerja dapat diwujudkan menjadi solusi nyata, diterapkan dalam kegiatan operasional, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan.
Ia juga mengingatkan bahwa masukan dari dewan juri harus menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas inovasi pada masa mendatang.
“Operational excellence is our baseline, dan baseline itu akan terus naik. Karena itu, semangat untuk berinovasi dan melakukan perbaikan harus menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari seluruh perwira PIEP,” ujar Syamsu.
Ia menjelaskan, pertumbuhan value creation dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa inovasi dapat lahir dari seluruh fungsi organisasi. Inovasi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan operasi, tetapi juga dapat dikembangkan melalui penguatan proses bisnis dan kolaborasi antarfungsi.
Salah satu contohnya adalah inisiatif di bidang supply chain management yang mampu menciptakan nilai melalui strategi pengadaan yang lebih baik (better sourcing), kolaborasi, optimalisasi komersial (commercial optimization), integrasi proses, dan sinergi lintas fungsi.
Syamsu menegaskan, semakin besar nilai yang berhasil diciptakan, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kualitas inovasi berikutnya.
“The bar keeps rising,” katanya, seraya menekankan pentingnya menjadikan continuous improvement sebagai bagian dari budaya


