Kejar Lifting! 9 Proyek Migas Disiapkan On Stream 2026, Investasi Tembus US$1,3 Miliar

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com-SKK Migas menargetkan peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional melalui pengembangan sejumlah proyek strategis hulu migas (SHM) yang dijadwalkan mulai berproduksi pada 2026.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa terdapat 9 proyek hulu migas yang ditargetkan on stream pada periode tersebut. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang turut dihadiri Dirjen Migas Kementerian ESDM, Kepala BPH Migas, serta Dirut Pertamina Patra Niaga.

“Proyek ini bukan hanya menambah produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lifting nasional,” ujar Djoko.

Proyek-proyek tersebut tersebar di sejumlah wilayah kerja strategis, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan hingga Indonesia Timur. Beberapa di antaranya berada di wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan, Mahakam, serta proyek gas di Sulawesi dan Papua.

Dari sisi investasi, total belanja modal (capex) fasilitas produksi diperkirakan mencapai US$ 1,319 miliar dengan kapasitas desain meliputi: 8.457 BOPD minyak. 599 MMSCFD gas. 115.421 BOEPD total

SKK Migas memperkirakan tambahan produksi dari proyek-proyek tersebut pada 2026 akan mencapai: 5.256 BOPD minyak. 227 MMSCFD gas. 45.792 BOEPD (rata-rata tahunan)

Sementara itu, proyeksi outlook tetap menunjukkan kontribusi signifikan terhadap upaya menjaga lifting nasional di tengah penurunan alami produksi dari lapangan eksisting.

Pengembangan proyek-proyek ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengantisipasi decline rate lapangan migas tua yang selama ini menjadi tantangan utama dalam menjaga tingkat produksi nasional.

Dalam RDP tersebut, pembahasan tidak hanya difokuskan pada sektor hulu, tetapi juga mencakup aspek hilir energi, antara lain: Realisasi produksi migas nasional. Pasokan BBM. Mekanisme distribusi dan ketahanan stok BBM

Djoko menegaskan bahwa peningkatan produksi domestik menjadi faktor penting untuk menekan ketergantungan impor serta menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

SKK Migas juga menekankan pentingnya sinergi antara seluruh pemangku kepentingan, baik di sektor hulu, regulator, maupun hilir.

Koordinasi antara SKK Migas, Kementerian ESDM, BPH Migas, serta Pertamina dinilai menjadi kunci agar peningkatan produksi dapat selaras dengan distribusi energi yang merata.

“Produksi harus naik, tetapi distribusi dan ketahanan stok juga harus terjaga. Ini satu ekosistem,” kata Djoko.

Dengan target on stream pada 2026, tantangan utama saat ini berada pada aspek eksekusi proyek, termasuk perizinan, pembebasan lahan, dan kesiapan infrastruktur pendukung.

Keberhasilan realisasi proyek-proyek tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah produksi migas nasional ke depan.

Jika berjalan sesuai rencana, tahun 2026 berpotensi menjadi momentum peningkatan produksi migas Indonesia setelah menghadapi tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.