Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com- Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa realisasi produksi minyak nasional pada 2025 mencapai 606 ribu barel per hari (BOPD), atau melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Produksi minyak bumi tahun 2025 sebesar 606 ribu barel per hari, atau sekitar seribu barel di atas target APBN,” kata Djoko dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Djoko menambahkan, pemerintah menetapkan target produksi minyak tahun 2026 sebesar 610 ribu BOPD. Ia optimistis target tersebut dapat tercapai seiring tren peningkatan produksi sejak awal tahun.
Namun demikian, produksi sempat terganggu pada Januari akibat putusnya pipa TGI yang berdampak pada pasokan gas untuk pembangkit listrik di wilayah Rokan. Selain itu, gangguan juga terjadi pada pipa TGI yang menyalurkan gas dari Sumatera Selatan ke wilayah operasi Pertamina Hulu Rokan.
Akibat gangguan tersebut, produksi gas hingga Maret tercatat masih berada di bawah rata-rata target APBN. Meski perbaikan pipa telah dilakukan, operasional belum berjalan optimal karena masih terdapat sejumlah titik yang dinilai rawan.
Untuk menjaga kinerja produksi, SKK Migas mengoptimalkan lifting minyak. Per 31 Maret 2026, tercatat terdapat 2,56 juta barel dead stock dan 430 ribu barel yang siap diangkat.
“Untuk dead stock, kami upayakan dengan teknologi chemical dan bakterial aerobic agar bisa dilifting pada bulan-bulan berikutnya,” ujar Djoko.
Ia menyebutkan, lifting pada Maret ditargetkan mencapai 635.500 BOPD.
Di sisi lain, peningkatan produksi juga diharapkan berasal dari sejumlah proyek hulu migas yang akan mulai beroperasi (on stream) sepanjang tahun ini. Beberapa di antaranya adalah proyek polimer di Lapangan Minas, proyek lepas pantai yang dioperasikan Pertamina Hulu Mahakam, serta proyek ENI di Blok Mahakam.
Secara keseluruhan, tambahan produksi dari proyek-proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar 5.250 barel per hari untuk minyak dan 227 MMSCFD untuk gas.
Di sektor hilir, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi LPG melalui pembangunan sejumlah fasilitas baru. Pada April ini, dua proyek dijadwalkan mulai beroperasi dengan total kapasitas sekitar 200 ton per hari.
Selain itu, proyek LPG lainnya tengah disiapkan di Jambi Merang, Senoro, dan Jawa Timur guna memperkuat pasokan energi domestik.
Dalam kesempatan tersebut, Djoko juga menegaskan bahwa seluruh produksi minyak bagian kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) wajib diolah di kilang dalam negeri sesuai arahan pemerintah.
Ia juga mengungkapkan adanya komitmen dari Jepang untuk menambah pasokan LPG bagi Indonesia, yang bersumber dari produksi perusahaan Jepang di Australia.
“Dengan upaya-upaya ini, kami optimistis produksi dapat terus meningkat dan target APBN dapat tercapai,” kata Djoko.


