Catat! PHR Dorong Migas Non-Konvensional untuk Jaga Ketahanan Energi Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Riau, ruangenergi.com— PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan migas non-konvensional (MNK) sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan energi nasional di tengah penurunan produksi dari lapangan migas konvensional.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, dalam ajang Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia menyatakan bahwa pengembangan MNK menjadi solusi untuk menjawab tantangan lapangan migas yang semakin menua.

“Pengembangan migas non-konvensional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis,” ujar Arifin.

PHR mengidentifikasi potensi MNK pada sub-cekungan North Aman dengan estimasi sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO). Potensi tersebut dinilai signifikan dan belum tergarap secara optimal di Indonesia.

Dalam pengembangannya, PHR telah melakukan pengeboran eksplorasi dengan metode horizontal dan uji alir (flowback test) di area Gulamo dan Kelok, yang membuktikan keberadaan hidrokarbon sebagai bagian dari tahap awal pengembangan MNK.

Selanjutnya, perusahaan melanjutkan tahap appraisal dengan rencana pengeboran horizontal dan penerapan teknologi multi-stage fracturing untuk mendukung pengembangan lapangan.

PHR juga menyusun peta jalan pengembangan MNK, dimulai dari target kontrak bagi hasil (PSC) pada kuartal II 2026, pengeboran appraisal pada kuartal IV 2026, produksi awal pada 2028, hingga pengembangan skala besar setelah 2030 dan puncak produksi pada 2037.

Namun demikian, Arifin menilai tantangan utama pengembangan MNK tidak hanya pada aspek teknis bawah permukaan, tetapi juga faktor di atas permukaan seperti kebutuhan investasi yang tinggi, dukungan regulasi dan fiskal, serta kesiapan infrastruktur.

Untuk itu, PHR menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, operator, dan mitra strategis guna mencapai skala ekonomis pengembangan MNK.

Dalam forum yang sama, Pertamina Hulu Energi (PHE) menyampaikan bahwa energi hidrokarbon masih menjadi tulang punggung kebutuhan energi global, meskipun tekanan pengurangan emisi karbon terus meningkat.

Sebagai respons, PHE menerapkan strategi dual growth yang menggabungkan penguatan bisnis hulu migas dengan pengembangan energi rendah karbon.