Jakarta, ruangenergi.com – Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Dr. Indrianto, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi fondasi utama transformasi teknologi kelistrikan di masa depan. Hal itu disampaikannya dalam orasi ilmiah berjudul “Transformasi Teknologi Kelistrikan melalui Kecerdasan Buatan: Tantangan, Peluang, dan Arah Pengembangan Ilmu”.
Dalam paparannya, Indrianto menyebut dunia saat ini tengah berada dalam fase perubahan cepat akibat revolusi industri digital dan kemajuan teknologi informasi. Kondisi tersebut berdampak besar pada sektor energi, khususnya kelistrikan yang menjadi tulang punggung kehidupan modern.
“Hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada listrik. Karena itu, setiap perubahan dalam teknologi kelistrikan akan berdampak luas, tidak hanya secara teknis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan,” ujar Indrianto saat orasi ilmiah pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar ITPLN, Selasa, 14 April 2026..
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan modern kini menghadapi tantangan kompleks, mulai dari integrasi energi terbarukan yang fluktuatif, lonjakan kebutuhan energi, hingga tuntutan efisiensi dan keandalan sistem. Menurutnya, pendekatan konvensional sudah tidak lagi memadai untuk menjawab persoalan tersebut.
Dalam konteks ini, ucapnya, AI hadir sebagai solusi strategis. “Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar teknologi pelengkap, tetapi telah menjadi fondasi dalam pengambilan keputusan berbasis data dan pengelolaan sistem kompleks secara real-time,” katanya.
Indrianto menambahkan, integrasi AI telah mengubah sistem kelistrikan dari yang semula statis menjadi adaptif dan cerdas. Sistem kini mampu mempelajari data, beradaptasi terhadap perubahan, hingga mengambil keputusan otomatis untuk mencapai kinerja optimal.
Ia juga menyoroti pergeseran historis teknologi kelistrikan. Dari sistem konvensional yang deterministik, kini berkembang menuju sistem kelistrikan cerdas (smart power systems). Transformasi ini dipicu oleh perubahan global seperti desentralisasi pembangkitan dan meningkatnya penggunaan energi terbarukan.
Secara filosofis, Indrianto menilai listrik bukan sekadar aspek teknis, melainkan infrastruktur fundamental peradaban. “Kualitas peradaban dapat diukur dari bagaimana energi listrik dikelola dan dimanfaatkan,” imbuhnya.
Dalam implementasinya, AI telah diterapkan di berbagai lini sistem tenaga listrik. Pada jaringan distribusi, AI digunakan untuk memantau kondisi secara real-time, mengatur aliran daya secara adaptif, dan mengoptimalkan operasi sistem. Sementara di sektor pembangkitan, AI berperan dalam memprediksi produksi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Di sisi lain, AI juga mendorong perubahan signifikan dalam pemeliharaan sistem melalui pendekatan predictive maintenance. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini kerusakan, prediksi kegagalan, hingga rekomendasi perbaikan sebelum gangguan terjadi.
Tak hanya itu, peran konsumen juga berubah. Dengan dukungan AI, masyarakat kini dapat menjadi prosumen—produsen sekaligus konsumen energi—melalui pengelolaan energi berbasis sistem cerdas.
“Transformasi ini menuntut perubahan cara berpikir, riset, dan pendidikan di perguruan tinggi. AI harus dipahami sebagai paradigma keilmuan baru, bukan sekadar alat,” tegas Indrianto.
Dalam kesempatan itu, Ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi kelistrikan yang berorientasi pada keberlanjutan, tanggung jawab sosial, dan kemanusiaan.
Dalam acara orasi ilmiah pengukuhan Prof. Dr. Indrianto sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Komputer ITPLN, hadir juga Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., EVP Pelayanan Human Capital PT PLN (Persero), Galih Chrissetyo yang mewakili Direktur Legal Human Capital PT PLN (Persero), Ketua Umum YPKPLN, Supriyadi serta sivitas akademika ITPLN.
Kepala LLDIKTI Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan mengatakan, pengangkatan profesor di bidang ilmu komputer ITPLN memiliki bobot strategis di tengah momentum transisi energi global yang sedang berlangsung. Menurutnya, keilmuan komputer kini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi fondasi penting dalam mendukung transformasi sektor energi nasional.
“Transisi energi tidak akan berjalan tanpa dukungan infrastruktur digital yang mumpuni,” kata Henri.
Ia menjelaskan, peran ilmu komputer sangat krusial dalam pengembangan berbagai sistem strategis, mulai dari smart grid, pengolahan data konsumsi listrik nasional, hingga penguatan sistem keamanan siber untuk melindungi aset energi vital negara.
Dia mengatakan, keberadaan profesor di lingkungan ITPLN menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut. Henri juga menyinggung arah kebijakan pemerintah yang kini mendorong paradigma riset berbasis dampak. Ia menilai, penelitian dan inovasi di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada publikasi semata.
“Riset tidak boleh hanya menjadi tumpukan dokumen di perpustakaan atau sekadar memenuhi kewajiban administratif. Harus ada implementasi nyata,” tegasnya.
Ia menambahkan, keilmuan komputer yang dikembangkan di ITPLN diharapkan mampu turun langsung ke lapangan, memberikan solusi teknis bagi industri energi nasional, sekaligus meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan industri menjadi kunci dalam mempercepat keberhasilan transisi energi di Indonesia.


