Bangkok, Thailand, ruangenergi.com— Kiprah Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 kembali mencuri perhatian dunia. Dalam ajang 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 di Bangkok, perusahaan energi ini sukses membawa pulang dua penghargaan bergengsi, menegaskan bahwa praktik keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan strategi yang membumi dan berdampak nyata.
Dua entitas di bawah PHR Zona 1 tampil gemilang. PT Pertamina EP Field Jambi meraih Platinum Award untuk kategori Best Women Empowerment lewat program Srikandi Perubahan. Sementara itu, Pertamina Hulu Energi Jambi Merang menyabet Silver Award untuk kategori Best Community Program melalui inisiatif Beeyond Honey.
Prestasi ini memperkuat posisi PHR Zona 1 sebagai pelaku industri energi yang mampu mengawinkan kinerja bisnis dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pendekatan Community Involvement & Development (CID) yang dijalankan tak hanya relevan di tingkat lokal, tetapi juga mendapat pengakuan global sebagai praktik terbaik.
Program Srikandi Perubahan menjadi salah satu sorotan utama. Diluncurkan sejak 2021, inisiatif ini menjawab tantangan reintegrasi sosial bagi Warga Binaan Perempuan di Lapas Perempuan Kelas II Jambi. Melalui pelatihan membatik yang berkembang menjadi ekosistem usaha, program ini telah melahirkan sedikitnya 10 unit usaha di berbagai sektor—mulai dari kriya hingga pertanian.
Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, program ini menjadi ruang transformasi. Para peserta tak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga soft skills seperti pengelolaan emosi dan keuangan—modal penting untuk membangun kembali kepercayaan diri dan masa depan.
Di sisi lain, Beeyond Honey hadir sebagai solusi berbasis konservasi yang menjawab persoalan ekologis dan sosial sekaligus. Berangkat dari isu menurunnya populasi lebah dan degradasi lingkungan, program ini mengintegrasikan budidaya lebah, revegetasi, edukasi masyarakat, hingga pembentukan koperasi madu.
Hasilnya konkret: produksi madu kini mencapai 150–250 kilogram per bulan. Lebih dari itu, program ini membuka sumber penghidupan baru bagi masyarakat desa sekaligus membantu pemulihan ekosistem.
Mengusung tema “AI, Energy & Transition: Resetting ESG in a New Economy”, forum tahun ini menekankan pentingnya peran teknologi dalam transformasi ESG global. Namun, para pembicara sepakat bahwa pembangunan harus tetap berorientasi pada manusia.
Dalam penutupan acara, Matthias Gelber menegaskan bahwa setiap individu dan organisasi memiliki peran sebagai force of good dalam menjaga keberlanjutan bumi—sebuah misi yang hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor.
Manager CID Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menilai capaian ini sebagai validasi atas pendekatan pemberdayaan yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.
“Keberhasilan ESG tidak hanya diukur dari program yang dijalankan, tetapi dari perubahan hidup yang dihasilkan,” ujarnya.
Ke depan, PHR Zona 1 berkomitmen memperkuat kolaborasi dan terus menghadirkan inovasi sosial yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero), PHR terus mengelola wilayah kerja hulu migas di Sumatera dengan prinsip operasi yang selamat, andal, dan berkelanjutan—sekaligus memastikan bahwa setiap langkah bisnis memberi nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.


