Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Di ujung Delta Mahakam, ketika air pasang mulai meninggi dan angin Selat Makassar berembus kencang, bel pulang sekolah di SMPN 6 Anggana belum tentu menjadi akhir perjuangan anak-anak pesisir untuk belajar.
Sebagian dari mereka masih harus menempuh perjalanan air berjam-jam dengan perahu kecil untuk kembali ke rumah. Di sekolah yang akrab disebut “Sekolah Negeri Terapung” itu, keterbatasan bukan lagi hal asing. Namun di tempat itulah harapan justru tumbuh paling kuat.
Harapan itu pula yang kini mengantarkan enam program CSR Grup PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih penghargaan internasional dalam ajang The 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 di Bangkok, Thailand. Penghargaan tersebut bukan sekadar trofi bergengsi, melainkan pengakuan bahwa sentuhan nyata kepada masyarakat mampu mengubah kehidupan banyak orang.
Di balik penghargaan Platinum, Silver, hingga Bronze yang diterima PHI dan anak-anak usahanya, tersimpan cerita tentang guru yang bertahan mengajar di daerah terpencil, perempuan desa yang bangkit membangun ekonomi keluarga, hingga anak-anak pesisir yang mulai berani bermimpi menembus dunia.
“Pencapaian ini mencerminkan konsistensi Perusahaan dalam mengarusutamakan praktik tanggung jawab sosial dan prinsip keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam setiap lini kegiatan operasi Perusahaan,” ujar Manager Communication, Relations & CID PHI, Dony Indrawan.

Salah satu program yang paling menyita perhatian internasional adalah Sekolah Negeri Terapung milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Program ini meraih penghargaan Platinum kategori Excellence In Provision Of Literacy & Education Award.
Bagi masyarakat Desa Sepatin, Kutai Kartanegara, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah simbol perjuangan melawan keterisolasian. Untuk mencapai desa itu dari Samarinda, perjalanan harus ditempuh sekitar tiga jam melalui jalur sungai. Ketika cuaca buruk datang, akses pendidikan menjadi semakin berat.
Namun perlahan keadaan berubah. Melalui program CSR PHM, sekolah kini memiliki taman belajar, akses internet, laptop, hingga listrik tenaga surya. Guru-guru mendapat pelatihan kapasitas, siswa memperoleh motivasi dan beasiswa, bahkan pemuda pesisir mulai didorong untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Di sekolah sederhana yang berdiri di atas kawasan pesisir itu, lahir kisah-kisah yang sulit dibayangkan sebelumnya. Nurul Fitriana, salah satu guru SMPN 6 Anggana, berhasil meraih beasiswa Fulbright Distinguished Award in Teaching Program for International Teachers dari Pemerintah Amerika Serikat pada 2025. Ia mengikuti program pengembangan profesi di Indiana University of Pennsylvania selama satu semester.
“Pencapaian saya ini berkat dukungan dan bimbingan dari PHM saat proses aplikasi hingga seleksinya,” ujar Nurul.
Lebih jauh lagi, anak-anak pesisir yang dulu akrab dengan keterbatasan kini mulai menorehkan prestasi dunia. Ainun Nisa, siswa kelas 7, memenangkan lomba menggambar internasional bertema alam dan karyanya dipamerkan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Sementara Idul, siswa lainnya, pernah menjadi Juara 1 Perwakilan Indonesia dalam Fish Art Contest yang digelar Wildlife Forever Amerika Serikat.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya akses, anak-anak Delta Mahakam membuktikan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas geografis.
Bukan hanya pendidikan, sentuhan CSR PHI juga hadir dalam isu kesehatan masyarakat. Melalui program Prokesmas Puja dari PEP Sangasanga Field, perusahaan berhasil meraih penghargaan Platinum kategori Best Community Program. Program ini fokus pada pemberantasan TBC dan stunting—dua persoalan yang selama ini menjadi tantangan serius di banyak wilayah Indonesia.
Di sisi lain, perempuan-perempuan desa juga mulai menemukan jalan untuk mandiri. Program SEKARA JIRAK dari PEP Tanjung Field meraih predikat Platinum dalam kategori Best Empowerment Woman berkat keberhasilannya memberdayakan perempuan berbasis potensi lokal. Dari tangan-tangan ibu rumah tangga, lahir produk dan usaha kecil yang membantu menopang ekonomi keluarga.
Sementara itu, isu lingkungan dijawab melalui program BIO KOSMO dan BALANIPA RECYCLE milik PHSS. Sampah dan limbah tali kapal bekas yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini diolah menjadi produk ekonomi kreatif yang memberikan penghasilan baru bagi masyarakat.
Head of CRC Zona 9, Dharma Saputra, menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut lahir dari kolaborasi erat dengan masyarakat.
“Kolaborasi menjadi fondasi utama dalam setiap inisiatif yang kami jalankan. Kami melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari para penerima manfaat, pelaku UMKM, hingga BUMDes,” ungkap Dharma.
Bagi PHI, penghargaan internasional hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang membangun keberlanjutan. Yang jauh lebih penting adalah dampak nyata yang dirasakan masyarakat: anak-anak yang kembali percaya diri mengejar pendidikan, perempuan yang mampu berdiri di atas kaki sendiri, hingga lingkungan yang perlahan dipulihkan.
Di ruang kelas sederhana di ujung Delta Mahakam itu, seorang guru pernah berkata kepada murid-muridnya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Kini, kalimat itu tidak lagi terdengar seperti mimpi kosong.
Karena di sana, di tengah ombak dan pasang surut kehidupan pesisir, harapan benar-benar sedang dibangun—sedikit demi sedikit, bersama masyarakat.


